Hukum Mengucapkan Selamat Natal Kepada Umat Kristiani dalam Perspektif Hukum Islam Kontemporer
Telah bercerita padaku ayahku dari Muhammad bin Khalãf al-‘Asqalâniî dari Abdullâh bin Yûsuf dari Khâlid bin Shabîh dari Humaid bin ‘Uuqbah dari Asad bin Wadâ’ah: Bahwasanya Asad saat keluar dari kediamannya selalu mengucapkan salam pada orang Yahudi dan Nasrani, lantas ia dintanya: “Mengapa engkau mengucap salam pada orang Yahudi dan Nasrani?”Asad menjawab: “Sesunggahnya Allah Berfirman “…serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia…”(waqûlû linnâsi husna), dan ucapan yang baik itu (antara lain) ucapan salam.
Pusat Fatwa Internasional al-Azhar baru-baru ini merilis pandangan hukum terkait ucapan selamat natal kepada umat Kristiani:
فكلما ازداد المسلم فهمًا للإسلام كلما ازداد احترامًا لغيره، وتهنئة المسيحيين بأعيادهم تندرج تحت باب الإحسان إليهم والبر بهم. [مركز الأزهر العالمي للفتوی]
Manakala cakrawala pemikiran dan pemahaman keislaman seorang muslim semakin luas dan mendalam, niscaya ia akan semakin meghormati dan menghargai pihak lain. Mengucapkan selamat hari raya kepada kristiani termasuk dalam kategori kebajikan dan bersikap baik kepada mereka.
Dari keterangan di atas, sekiranya dapat dinyatakan bahwa mengucapkan "Selamat Merayakan Hari Natal" merupakan implementasi dari konsep "ihsân".
Dalam ranah maqaṣid asy-syari'ah, ihsân (berbuat baik) termasuk salah satu tujuan syariat Islam yang harus diwujudkan dalam kehidupan manusia. Ia (ihsân) merupakan tujuan dari seluruh ajaran Islam, seperti akidah, ibadah, suluk, muamalah, dan politik keagamaan. Menurut Muḥammad az-Zuḥaili, ihsân lebih tinggi daripada keadilan dan mu'amalah bi al-misl (hubungan saling membalas perbuatan yang sama).
Salam Natal, Damai Selalu...
***
Penulis: Dr. Ahmad Syafi'i SJ, Dosen IAIN Ponorogo
