5 Faidah sebelum Ngaji Kitab Irsyadul Ibad, sebagai pengetahuan bagi yang belum tahu, dan pengingat bagi yang sudah tahu
Lima faidah sebelum ngaji Irsyadul Ibad, sebagai pengetahuan bagi yang belum tahu, dan pengingat bagi yang sudah tahu.
I. Imam al-Khathib menyitir dari Imam al-Maaziri, dari Imam at-Tharazi dalam Kitab Yawaqith: Ada tujuh kalimat yang biasa diucapkan untuk kalimat yang lebih panjang:
1. Basmala, dari Bismillah.
2. Sabhala, dari Subhanallah.
3. Hauqala, dari Laa haula wa la quwwata illa billah.
4. Hay'ala, dari Hayya 'alal falaah.
5. Hamdala, dari Alhamdulillah.
6. Hallala, dari Laa ilaha illallah.
7. Ja'fada, dari Ja'altu fida-aka (Kujadikan diriku sebagai tebusanmu).
II. Konon, ada 104 shuhuf (Kitab atau lembaran) yang diturunkan Allah kemuka bumi ini untuk hamba-hambanya.
- 60 shuhuf bagi Nabi Syist alaihissalam.
- 30 shuhuf bagi Nabi Ibrahim alaihissalam.
- Sebelum turun Taurat, Nabi Musa mendapatkan 10 shuhuf.
- Lalu empat shuhuf terakhir, yakni Taurat, Injil, Zabur, dan al-Qur'an.
Dan di shuhuf Nabi Musa alaihissalam, ditemukan sebuah redaksi: "Aku takjub dengan orang yang meyakini kematian, bagaimana bisa ia masih berbahagia canda-ria. Aku takjub dengan orang yang meyakini neraka, bagaimana bisa ia tergelak tertawa. Aku takjub orang yang meyakini hisab, lalu tidak mau beramal".
III. Siapakah Sayyidina Lukman al-Hakim?!
- Ada yang mengatakan, beliau adalah salah satu Sayyid (pemimpin), bukan seorang hamba.
- Ada yang mengatakan, beliau adalah hamba habasyi (Afrika).
- Ada yang mengatakan, beliau adalah Nabi yang berprofesi sebagai penjahit.
IV. Apakah Sayyidatina Maryam bin Imran adalah Nabi?
- Pendapat masyhur beliau bukan nabi, tapi termasuk shiddiqin. Sebab kata Imam Abu Hasan: "Nabi hanya lelaki!".
- Imam Qurthubi mengunggulkan beliau adalah nabi. Katanya: "Tidak ada persayaratan lelaki dalam nabi (yang mendapat wahyu tapi tidak wajib menyebarkan). Namun, persyaratan lelaki khusus untuk rasul (yang mendapat wahyu kemudian wajib menyebarkan)".
V. Gusti Allah ta'ala berhak mendahulukan siapa yang di hisab kelak di akhirat dan yang masuk tanpa hisab yakni para muqarrabun (orang-orang yang didekatkan dengan Allah ta'ala). Namun, Gusti Allah juga berhak (Sebagai manivestasi sifat JaizNya) menanyai/menghisab siapapun sesuai kehendakNya:
1. Para Nabi, tentang bagaimana beliau-beliau ini menyampaikan risalahnya.
2. Orang kafir, kenapa kok mereka mendustai para utusan.
3. Mubtadi'ah (para pembuat ajaran baru), bagaimana mereka kok menyelisihi sunnah.
4. Dan menanyai muslimin, bagaimana ucapan, perbuatan, atau keyakinan dia waktu di dunia.
Wallahu a'lam bisshawaab.
Disarikan dari Manahijul Imdadnya Syaikh Ihsan Jampes Juz 1, hal: 32, 45, 46, 48.
***
Ditulis oleh: Gus Robert Azmi - PP Al-Fattah Pule, Nganjuk
