Syarah Kitab Bustanul Arifin Halaman 5-7 Bab Penulisan Ilmu
BAB KEDUA: PENULISAN ILMU
(Bustanul Arifin hal: 5 s/d 7)
Al-Faqih --Abu Laist as-Samarkandiy-- radhiyallahu ‘anhu berkata: Sebagian ulama ada yang tidak suka menulis ilmu. Namun, sebagian besar ahli ilmu membolehkan penulisan ilmu.
I. Hujjah/dasar/alasan ulama yang tidak suka penulisan ilmu adalah:
1. Hadis riwayat Imam hasan Bashri ra.: Sungguh! pernah Sayyidina Umar bin Khathab bertanya: “Ya Rasulullah. Orang Yahudi Nashrani membincangkan sebuah hadis/cerita, boleh tak aku menulis sebagaiannya?”. Kanjeng Rasul tidak menjawab, namun melayangkan pandangan kemarahan dari wajahnya, lalu bersabda: “Apakah kalian ingin menjadi Mutahawwikun (Orang yang membuat bingung) sebagaimana Yahudi Nashrani?! Kalian ntu telah didatangkan agama yang putih bersih laksana telur. Yang bahkan, jika Nabi Musa hidup di zaman sekarang, ia akan menjadi pengikutku!”
Imam Hasan Bashri ditanyai: Apa itu mutahawwikun?. Beliau menjawab: Mereka adalah orang-orang yang membingungkan!
2. Imam Atha’ bin Yasar meriwayatkan hadis dari Sahabat Abi Sa’id al-Khudriy: Sungguh! beliau pernah meminta izin Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama untuk menulis ilmu (Hadis yang terucap dari bibir mulia Kanjeng Rasul shallallahu alaihi wasallam), namun Baginda Nabi SAW. tidak mengizinkannya.
3. Dari Imam Ibnu Muslim: “Sahabat Ibnu Abbas melarang penulisan ilmu, seraya berkata: ‘Kesesatan kaum sebelum kalian, gara-gara penulisan ilmu!’”.
4. Imam Ibnu Abi Dawud meriwayatkan sebuah kisah dari ayahnya: “Pernah, para pengikut Sahabat Abdullah bin Mas’ud mendatangi beliau, lalu berkata: ‘Kami telah mencatat ilmu yang telah Anda ajarkan. Bolehkah kami haturkan ke Anda hingga berkenan mengoreksinya?’”.
“Iya, boleh” jawab Sahabat Abdullah bin Mas’ud.
Lalu merekapun mendatangkan catatan pengajian tersebut ke hadapan gurunya. Namun, setelah buku itu di pegang Sahabat Abdullah bin Mas’ud, beliau malah menyiramnya dengan air kemudian merobek-robeknya! Lalu mengembalikannya pada mereka!
Komentar al-Faqih Abu Laist as-Samarkandy: “--Kemarahan Sahabat Abdullah bin Mas’ud-- itu dipicu karena ketika mereka menulis ilmu yang diajarkan beliau, merekapun lebih suka berpedoman pada buku tulisannya, lalu meninggalkan menghafal! Hal-hal baru sering terjadi dalam penulisan, itu bisa menghilangkan ilmu sejati mereka. Sebab tulisan sangat mungkin bisa di tambah dan dirubah. Sedang hafalan tidak mungkin dirubah. Karena penghafal akan berbicara sesuai yang dia ketahui. Sedang pencatat akan memberikan khabar dengan dasar prasangka tanpa hafal.”
II. Hujjah/dasar/alasan ulama yang suka penulisan ilmu adalah:
1. Apa yang diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah ra. katanya: “Tiada sahabat Rasulullah SAW. yang meriwayatkan hadis sebanyak diriku, kecuali Abdullah bin Umar. Karena dia menulis --hadis yang ia dengar-- sedang aku tak menulisnya.”
2. Dari Imam Ibnu Juraij bin Ma’rur: “Sahabat Abdullah bin Umar pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: ‘Ya Rasulallah. Aku telah mendengar hadis dari Anda. Boleh tak aku menulisnya?’”.
“Iya” jawab Rasulullah.
“Dalam keadaan ridha dan marahmu?”
“Iya, sebab Aku, baik dalam keadaan ridha ataupun marah, berkata haqq!”
3. Kata Imam Mu’awiyyah bin Qurrah: “Seseorang yang tak menulis ilmunya, maka ilmunya tak dianggap sebagai ilmu!”. Gusti Allah Ta’ala berfirman sebagai khabar untuk Nabi Musa ‘alaihis-salaam ketika ditanyai tentang kejadian kurun pertama. Dan Nabi Musapun menjawab:
علمها عند ربي في كتاب لا يضل ربي ولا ينسى
“Pengetahuan tentang itu ada pada Tuhanku, di dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh), Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa;” QS. Taha 52.
4. Dari Imam Rabi’ bin Anis. Dari kedua kakeknya; Imam Zaid dan Ziyad. Pernah ketika malam, kedua kakeknya mendatangi Khalifah --ketujuh Bani Umayyah—Sulaiman bin Abdul Malik. Disela-sela perbincanganyya. Keduanya senantiasa menulis. Itu hingga subuh!”.
5. Dari Sayyidina Hasan bin Ali radhiyallahu anhuma. Sungguh! beliau berkata: “Jangan sampai salah satu kalian semua lemah; tidak semangat mempunyai kitab tentang agama ini. Itu bahaya! Sebab, jika ilmu tak ia tulis, maka ia akan kehilangannya. Namun, jika ia menulisnya. Andai lupa atau bingung, ia akan bisa mengembalikan dan memahaminya dengan bahagia”.
6. Ini (Dawuh Sayyidina Hasan dalam sub. 5), seperti kisah yang pernah diceritakan; Bahwa Syaikh Abu Yusuf pernah mengejek Syaikh Muhammad tentang hobi menulis ilmunya. Dan yang dicaci menjawab: “Sungguh! Aku takut hilangnya ilmu! Sebab ndak semua wanita melahirkan anak secerdas Abi Yusuf. Dan, dari zaman dulu, umat ini saling mewariskan ilmu yang ditulis! Toh padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Apa yang orang-orang muslim anggap baik, maka itupun bagus menurut Allah’. Rasul SAW.pun juga bersabda: ‘Ummatku tak akan berkumpul dalam kesesatan!’. Sebab, jika orang-orang mukmin terdahulu menulis sebuah kitab sebagai warisan, maka itu adalah jalan kebenaran bagi generasi setelahnya untuk menunjukkan kebaikan. Serta sungguh! Kanjeng Rasul alaihissalam bersabda: ‘Para sahabatku bak bintang-gemintang yang menyorotkan terang. Dengan siapapun kalian mengikuti. Kalian akan mendapatkan petunjuk!’”.
7. Dari Imam Nafi’. Dari Sayyidina Ibu Umar radhiyallahu anhum: Sungguh! Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Catatlah ilmu --agama Islam-- ini dari setiap orang kaya dan faqir. Serta dari setiap anak kecil dan tua. Yang meninggalkan ilmu gegara pembawa ilmu adalah orang yang lebih faqir atau lebih muda darinya. Maka, persiapkan tempat duduknya di Neraka!”.
Wallahu a'lam bisshawaab.