Filosofi di Balik Permainan Ular Tangga
Ada sebuah fragmen atau potongan kisah yang indah disaat ngaji ihya’ hari ini bersama abah. Kebetulan ngaji kitab Ihya’ sore ini sampai pada bab yang menerangkan :’dalil naqli dari para ulil albab dan dalil syariat tentang cara mengobati penyakit hati adalah dengan meninggalkan syahwat, dan bahwa penyakit hati bersumber pada mengikuti syahwat’.
Pada salah satu bagian keterangannya, Imam Ghozali menceritakan tentang imro’atu aziz, atau istri dari patih aziz(seorang pejabat yang kebetulan menebus Nabi Yusuf dari para penjual budak yang menemukan beliau dari dalam sumur). Seorang wanita jelita yang kebetulan diperistri oleh seorang jenderal perang yang gagah perkasa dimedan laga, namun lemah dimedan ranjang cinta. Dan kemudian terpesona, terperosok dalam syahwat berselubung cinta pada sang budak yang dijaga dan diperlakukan selayak anak, yang bertumbuh menjadi lelaki bidadara mempesona dan mengoyak benak.
Beliau adalah seseorang yang pernah menjadi ratu dari seorang patih terhormat, kemudian jatuh terhina karena mengikuti nafsu syahwat. Namun meskipun tidak salah, demi menjaga nama baik keluarga yang telah membesarkannya, maka Nabi Yusuf memilih masuk bui dan berkhalwat.
Seiring waktu berjalan, Nabi yusuf sudah menjadi pejabat dan berjalan memimpin 12.000 anak buahnya. Kemudian sang wanita itu berdiri mengagumi, sambil berkata:”maha suci Allah, yang menjadikan seorang ratu menjadi budak karena berbuat maksiat. Dan merubah seorang hamba menjadi ratu, karena taat”.
Kemudian Nabi yusuf menjawab:”sungguh telah dijanjikan, siapapun yang bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan segala amal baik dari para orang baik”.
Dan ternyata memang benar, dikemudian hari sang wanita tersebut, yaitu siti zulaikho’, akhirnya menjadi istri dari nabi yang rupawan, Nabi Yusuf alaihis salam. Semua adalah balasan baik dari Allah, karena ketaqwaan dan kesabaran hati siti zulaikho’ sendiri.
Pada akhirnya kita harus waspada, nafsu syahwat bisa menjatuhkan kita pada kerendahan. Namun pertaubataan dan ketaqwaan bisa mengangkat kita pada puncak ketinggian. Layaknya dalam permainan ular tangga, menuruti nafsu adalah ular yang menjatuhkan, dan teguh dalam ketaatan adalah tangga yang mengangkat kita keatas.
Mungkin fragmen ini agak terkesan kaku bagi kita, namun tetap saja bisa menjadi salah satu fase pembelajaran dalam memahami diri. Kita bisa mencapai tujuan dengan baik bila memahami rute perjalanan secara menyeluruh, karakter kendaraan yang berupa tubuh dan ruh, dan juga sifat Allah dengan utuh.
***
Penulis: Muhammad Muslim Hann
