Tradisi Rebo Wekasan

Tradisi Rebo Wekasan di Yogyakarta, disebut Rebo Pungkasan. Kalau di Sunda dan Banten menyebutnya Rebo Kasan. Lalu di Madura disebutnya Rebbuh Bekasen.

Tradisi ini diceritakan bermula dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi dalam kitab Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid (biasa disebut: Mujarrobat ad-Dairobi). Di kitab ”Al-Jawahir Al-Khams” karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar, Hasyiyah As-Sittin juga ada anjuran yang serupa.

Di kitab tersebut, diceritakan ada seorang waliyullah yang telah mencapi kedudukan tinggi yang disebut maqam kasyaf. Beliau mengatakan bahwa setiap tahunnya pada hari Rabu terakhir bulan Safar, Sang Pencipta menurunkan 320 ribu macam balak dalam satu malam.

Nah, agar terhindarkan dari balak tersebut, ia menyarankan agar umat Islam melakukan shalat dan doa bersama.

Shalat yang dilakukan bukan shalat seperti shalat lima waktu. Melainkan melakukan shalat empat rakat di mana setiap rakaatnya membaca surat al Fatihah dan Surat Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, Al-Falaq dan An-Nas 1 kali. Lalu, usai salam dilanjutkan dengan membaca doa khusus.

Dan ini amalan rebo wekasan dari KH. Moh. Djamaluddin Ahmad Tambakberas Jombang.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel