Selera itu Absurd
Selera itu absurd. Orang menyukai atau membenci sesuatu, dengan alasannya sendiri. Misalnya, selera cowok terhadap cewek. Ada cowok yang suka cewek berkulit putih. Ada yang suka berkulit hitam. Ada yang suka berambut lurus. Ada yang suka berambut kriting.
Begitu pula sebaliknya cewek. Ada yang suka cowok kekar macho, tapi banyak juga yang suka kurus kerempeng.
Selera itu absurd. Bahkan sering orang suka atau benci sesuatu tanpa alasan. Kalau ditanya mengapa suka atau tidak suka, jawabannya ya karena suka atsu tidak suka saja. Tidak bisa memberikan alasan logis atas rasa suka atau tidak sukanya. Ya memang feeling atau perasaannya sejak awal pertama ketemu sudah langsung memberikan reaksi menerima atau menolak. Begitu saja.
Selera itu absurd. Karena absurd dia tidak bisa diperbandingkan. Apalagi dinilai. Jangan pernah memperbandingkan atau menilai selera orang lain. Saya suka cewek tinggi langsing berkulit hitam berambut keriting. Lalu ada teman membawa istrinya yang pendek gemuk berkulit putih berambut lurus, dan saya tertawa melihatnya. Saya bilang, seleramu terhadap cewek kok rada aneh, sih? Kira-kira apa yang akan terjadi? Bagaimana reaksi teman tadi?
Selera itu absurd. Karena absurd dia tidak butuh argumentasi. Tidak perlu penjelasan. Aku suka karena memang aku suka. Aku benci karena aku memang benci.
Selera itu absurd. Maka untuk menarik selera pun, terkadang diperlukan cara-cara yang absurd. Cara-cara yang kadang di luar nalar logika umum. Apalagi kalau ingin mengubah selera. Wah, ini perlu usaha yang lebih absurd lagi. Hanya pengalaman yang sangat mengesankan saja biasanya yang mampu mengubah selera seseorang. Saya tidak suka dengan warna ungu. Kalau tiba-tiba saja saya jadi suka dengan warna ungu, pasti telah terjadi sesuatu yang absurd pada diri saya terkait warna ungu itu, sehingga saya bisa berbalik arah menjadi menyukainya.
Selera itu absurd. Seleraku dan seleramu sama? Atau seleraku dan seleramu beda? Tak apa! Selera beda itu biasa. Normal. Sehat. Selera sama juga biasa. Normal. Sehat. Yang tidak biasa dan tidak normal itu kalau tidak punya selera. Tidak berselera itu justru tanda-tanda tidak sehat. Berhati-hatilah bila mulai tidak berselera. Karena itu pertanda awal datangnya penyakit.
Penulis: Wardjito Soeharso