Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Membangun Kebiasaan-kebiasaan Baru yang Dapat Merubah Hidup Kita


Pada setiap akhir tahun, orang terbiasa membuat resolusi, berjanji akan melakukan perubahan pada tahun berikutnya, dan menjalani hari-hari pertama di awal tahun dengan semangat baru, dengan kebiasaan baru, dan mulai mengendur pada pekan kedua, dan kembali ke kebiasaan lama ketika Januari berakhir. Sebelas bulan sisanya mereka jalani seperti yang sudah-sudah, sampai tiba akhir tahun lagi, dan orang memikirkan perubahan lagi, dan resolusi lagi.

Hampir setiap orang menginginkan perubahan, tetapi mereka selalu melakukan hal yang sama, mengikuti pola yang sama, dan tetap menggunakan cara berpikir yang sama. Einstein menyebutnya insanity--ketidakwarasan. Anda menjalani hidup dengan cara yang begitu-begitu saja, menggunakan cara berpikir yang sama terus-menerus, yang selama ini terbukti memberi anda masalah, tetapi mengharapkan hasil yang berbeda.

*

Brian Jeffrey Fogg, direktur Behavior Design Lab., Stanford University, Amerika Serikat, pada Februari 2020 menerbitkan buku "Tiny Habits: The Small Changes That Change Everything", buku menarik yang kemudian menjadi best-seller.

Dalam video di kanal Tedx, ia mengajarkan trik simpel untuk membangun kebiasaan sehari-hari, ialah dengan cara melekatkan kebiasaan baru itu pada kebiasaan-kebiasaan alami kita. Misalnya, kita ingin punya kebiasaan push up, kita menetapkan keputusan: "Setiap kali selesai kencing, saya langsung push up dua kali." 

Nanti jumlahnya anda tambah sendiri secara bertahap. Mungkin memasuki bulan kedua, anda akan push up lima kali setiap selesai kencing.

Mungkin anda merasa perlu membangun kebiasaan bahwa setiap menjelang tidur, setelah anda merebahkan kepala pada bantal, anda mengucapkan terima kasih, dan nanti saat bangun tidur, apa pun yang anda rasakan, anda mengucapkan lagi terima kasih. Anda membangun kebiasaan kecil sebagai orang yang berterima kasih.

Ada banyak kebiasaan kecil dan anda bisa memutuskan sendiri apa yang hendak anda lekatkan dengan kebiasaan sehari-hari anda.

Setelah saya merebahkan kepala pada bantal, saya akan mengingat satu hal yang menyenangkan hari ini.

Setelah saya berada di tempat tidur, saya akan membaca satu halaman buku.

Setelah saya berada di tempat tidur, saya akan membaca satu puisi. (Abbas Kiarostami, sutradara Iran, memiliki kebiasaan ini.)

Setiap selesai makan, saya akan menciptakan satu metafora.

Anda bisa menggunakannya untuk produktivitas, kesehatan, memperbaiki aspek-aspek emosional, dan sebagainya.

Kita adalah hasil dari kebiasaan kita. Kita menjadi ahli dalam berkeluh-kesah, misalnya, karena setiap hari kita melatih diri dalam kecakapan itu. Kita berhasil secara gemilang dalam mempersulit diri sendiri, sebab kita melakukannya berulang-ulang.

Kita, tentu saja, bisa juga menjadi orang yang gembira, jika kita melatih diri dengan kebiasaan itu.

Penulis: AS Laksana