Tasbih dan Logika Langit Tentang Rezeki
Di Indonesia, benda seperti yang ada pada gambar di atas, populer dengan sebutan “tasbih”. Penamaan ini mungkin saja dikorelasikan dengan fungsi dasarnya, yakni untuk menghitung bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (la ilaha illallah), dan sebagainya. Konon, orang Arab sendiri menyebutnya “as-subhah” atau “al-misbahah”.
Menghitung bacaan tasbih, tahlil, dan salawat menggunakan “tasbih” sebagaimana jamak kita lihat saat ini tidak ada di zaman nabi.
Tapi ingat!!! tidak ada bukan berarti tidak boleh.
Spirit atau substansi menggukanan “tasbih” yakni sebagai media untuk menghitung jumlah tahlil dan tasbih yang dibaca, sudah nabi contohkan sendiri.
Di zaman Rasulullah saw., alat hitungnya menggunakan jari-jemari, batu kerikil, biji kurma atau tali-temali yang disimpul. Praktik semacam ini salah satunya ditemukan dalam sebuah hadis riwayat Abu Daud.
رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يعقد التسبيح بيمينه (رواه أبو داود)
Pernah kulihat Nabi saw menghitung bacaan tasbih dengan tangan kanannya.
Kalau hadis ini dilihat menggunakan pendekatan teori “wasail (media) ” dan “maqasid (tujuan)” , maka berlaku kaidah:
الثبات على الأهداف والغايات والمرونة فى الوسائل والأساليب
“ (Islam itu) Rigid dalam (substansi) tujuan, (namun) lentur dalam wasilah (media) dan motif (cara)”
Yang paling substansi adalah zikir dan wiridnya, adapun media zikirnya bisa berkembang dan berubah. Tidak heran jika style media zikir dan wirid itu berkembang dari batu krikil kemudian berkembang menjadi counter digital.
Alat bantu zikir dan wirid berupa tasbih atau counter digital itu adalah konsekwensi logis dari seruan hadis nabi untuk berzikir dengan jumlah-jumlah tertentu. Seperti sehabis shalat wajib disunnahkan membaca "Subhanallah" sebanyak 33 kali. "Alhamdulillah" 33 kali, "Allahu akbar" 33 kali dan "La Ilaha illallah" 100 kali. Riwayat hadis ini disampaikan oleh Abu Hurairah.
Isyaratu al-nash (konsekwensi logis) hadis tersebut, kita harus memiliki alat hitung agar zikir dan wirid yang dibaca minimal sesuai dengan jumlah tersebut. Berdalil menggunakan isyaratu al-nash semacam ini banyak ditemukan dalam studi usul fiqh.
Idealnya, zikir dan wirid itu harus terucap dalam setiap hembusan nafas. Hanya saja, para kekasih Allah swt yang bisa melakukannya. Tidak keluar kata dan kalimat dari lisan kecuali darinya didorong oleh kalimat tahlil dan tasbih. Namun nyata, manusia banyak di bawah standar ideal. Kemauan untuk zikir dan wirid sudah ada, namun kadang kala ia lebih sering lupa daripada ingat.
Di sinilah pentingnya orang awam macam saya harus selalu memegang tasbih. Dalam hal ini, tasbih sebagai pengingat agar saya dan kalian selalu berzikir dan wirid mengingat Allah swt.
Yakinlah, kalau anda sudah memiliki keistiqamahan untuk zikir dan wirid, Allah Swt tidak hanya memberikan pahala yang banyak, namun insyaallah rezeki anda akan mengalir deras lebih deras dari hujan bulan Nopember. Begitu perintah “Logika Langit”.
Inilah alasan kenapa dalam cover buku “Bisnis Logika Langit” ada gambar tasbih yang dipegang oleh seorang suami dan di tangan kirimya memegang tangan istrinya. Istrinya sendiri memegang koper berisi uang.
Coba perhatikan riwayat hadis nabi dari Abu Hurairah berikut ini:
من قال ألف مرة لا إله الله على طهارة فى صبيحة كل يوم سهل الله له أسباب الرزق
“Barang siapa membaca ‘la ilaha illallah’ seribu kali dalam keadaan suci setiap pagi hari maka Allah akan mempermudah rezeki orang tersebut”
Silahkan dicoba.
Semoga hajat anda dikabulkan Allah swt,amin.
Penulis: Doni Ekasaputra