Teori Pendidikan Klasik, Personal, dan Interaksional


Dalam dunia pendidikan, kita mengenal beberapa teori pendidikan. Dari teori-teori ini, kita dapat mengetahui teori mana yang digunakan sebagai landasan bagi pelaksanaan dan pengembangan pendidikan di berbagai model lembaga pendidikan yang ada di sekitar kita.

Lebih dari itu, dengan kajian ini kita dapat membandingkan antara teori yang satu dengan yang lain, selanjutnya kita bisa memilih, mengkombinasikan, dan menyempurnakan teori-teori tersebut untuk diaplikasikan ke dalam dunia pendidikan.

Pada umumnya, setiap lembaga atau bahkan sebuah sistem pendidikan condong ke salah satu atau gabungan dari teori-teori pendidikan tersebut. Artikel singkat ini hanyalah catatan ringkas dari mata kuliah ilmu pendidikan yang saya pelajari sewaktu kuliah. Teori-teori pendidikan yang akan kita bahas meliputi teori pendidikan klasik, teori pendidikan interaksional, dan teori pendidikan personal.

Teori Pendidikan Klasik

Lembaga pendidikan pesantren salaf adalah contoh yang mengimplementasikan teori pendidikan klasik. Pondok pesantren salaf menggunakan kurikulum (dalam arti materi) yang berasal dari kitab-kitab klasik karya para ulama’ salaf. Apa yang menjadi tradisi dan khazanah keilmuan para ulama’ salaf dianggap sebagai sesuatu yang final dan harus dipelihara, dijaga, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Hal ini sejalan dengan teori pendidikan klasik di mana tujuan pendidikannya diarahkan untuk memelihara, menjaga, dan meneruskan warisan tradisi masa lalu. Meskipun kita tidak dapat menyangkal bahwa saat ini pondok pesantren telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik dari sistem pendidikan yang digunakan, pola pengajaran, sarana dan prasarana, serta manajemennya.

Implementasi teori pendidikan klasik dalam proses pembelajaran ditandai dengan peran sentral guru. Guru dianggap sebagai sumber pengetahuan yang dominan, sedangkan murid cenderung pasif dan menerima begitu saja materi yang disampaikan oleh guru.

Teori pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat pendidikan eksistensialisme, perennialisme, dan essensialisme.

Teori Pendidikan Personal

Pengertian teori pendidikan personal ditandai dengan pandangan bahwa setiap manusia dilahirkan dengan membawa potensi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain, setiap bayi yang lahir membawa seperangkat potensi yang bisa diibaratkan seperti bahan mentah yang perlu diolah melalui pendidikan agar ia menjadi sebuah produk.

Dalam teori ini pendidikan personal, pendidikan menempati posisi sebagai sarana untuk mengaktualisasikan segenap potensi yang dibawa oleh masing-masing peserta didik sejak lahir. Paket potensi yang dibawa oleh satu anak dengan anak yang lain berbeda-beda. Oleh karenanya cara pengaktualisasiannya pun berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Aktualisasinya didasarkan pada minat dan kebutuhan peserta didik. Jadi peserta didiklah yang menjadi subjek utama dalam proses pelaksanaan pendidikan. Sedangkan guru hanya berperan sebagai pembimbing, motivator, dan fasilitator bagi proses aktualisasi diri para peserta didik.

Salah satu aliran pendidikan yang muncul dari teori ini adalah aliran pendidikan progressif dengan tokoh utamanya John Dewey. Ia menjadikan pengalaman yang sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik sebagai materi pembelajaran.

Peserta didik ditekankan untuk merefleksi pengalaman-pengalaman mereka yang berkaitan dengan minat dan kebutuhan mereka sehingga hasil refleksi tersebut bermanfaat dalam kehidupannya.

Teori Pendidikan Interaksional

Seperti namanya, teori ini berangkat dari asumsi dasar manusia adalah makhluk sosial yang dalam hidupnya senantiasa bekerjasama dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Begitu pula dalam konteks pendidikan, titik tekannya adalah interaksi. Interaksi antara guru dengan peserta didik, peserta didik dengan materi pelajaran, dan peserta didik dengan lingkungan sosial.

Menurut teori pendidikan interaksional, belajar adalah aktifitas yang bukan sekedar mempelajari fakta, akan tetapi juga meneliti, memahami, dan menginterpretasi fakta tersebut menggunakan sudut pandang yang menyeluruh dari semua aspek kehidupan.

Filsafat rekonstruksi sosial menjadi landasan teori pendidikan interaksional ini. Hal ini berarti pula bahwa tujuan pendidikannya adalah untuk mempersiapkan peserta didik agar siap dan mampu menghadapi segalam macam problematika sosial yang terjadi sekaligus memiliki kemampuan bekerjasama mencari solusi atas problematika tersebut.

Tiga teori pendidikan di atas sebenarnya saling melengkapi satu sama lain. Berkaitan dengan anak sebagai peserta didik, selain sebagai objek pendidikan, mereka juga subjek pendidikan. Guru memang pemilik otoritas pengetahuan, namun ia juga harus memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri berdasarkan materi yang diberikan guru dan pengalaman empiris yang di dapatnya dari lingkungan. Pengetahuan tersebut kemudian bermanfaat bagi peserta didik saat ia berinteraksi dan menjadi bagian dari suatu masyarakat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...