Cinta Transaksional

Terkadang karena merasa dirinya cantik dan menawan, wanita menetapkan standar tinggi nan sempurna terhadap pria calon suaminya. Misalnya dia harus tampan, mapan, keturunan bangsawan, baik, dan sebagainya. Ketika wanita punya pikiran seperti itu, sebetulnya yang ingin dia lakukan adalah melakukan transaksi pertukaran antara nilai kecantikan dirinya dengan uang. Analogi sederhananya, wanita A menyediakan aset berupa kecantikan, sedangkan pria B harus membayar mahal untuk hal itu. Kelihatannya hal ini memang adil dan wajar-wajar saja.

Tapi bila kita renungkan lebih dalam, ada sebuah kesalahan fatal di sini. Kecantikan yang dimiliki setiap wanita pada akhirnya akan sirna, tak abadi. Sedangkan uang yang dimiliki seorang pria kaya tidak akan mudah hilang tanpa adanya sebab dan alasan yang jelas. Bahkan bisa jadi penghasilan pria kaya akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Tapi sebuah kecantikan, tidak ada wanita yang akan bertambah cantik setiap tahunnya.

Seorang pria kaya memiliki aset yang ter-apresiasi, sedangkan kecantikan yang dimiliki wanita adalah jenis aset yang ter-depresiasi. Jika hanya kecantikan yang dimiliki seorang wanita, maka nilainya akan sangat mengecewakan 10 tahun yang akan datang.

Wanita yang memandang pria dari sisi banyaknya harta bukanlah wanita yang relistis, yang pantas dijadikan seorang pendamping hidup. Mereka terjebak oleh kefanaan materi yang hanya beberapa tahun saja rusak dan kehilangan sisi menariknya. Apalah artinya sebuah kecantikan yang tak dibalut dengan keindahan akhlak dan budi pekerti.

Menggunakan pertimbangan jualbeli untung-rugi sama dengan merendahkan esensi dari cinta dan pernikahan. Apalagi tolak ukurnya uang dan kecantikan yang sifatnya fana. Inilah cinta transaksional.

Setiap dari kita oleh Allah dipersilahkan untuk memilih calon istri yang tepat. Allah telah membolehkan kita untuk menikahi wanita-wanita yang thoyyibah (enak, manis, lezat, dan menyenangkan), dan Allah pun tidak mencela atau melarang kita yang tidak mau menikahi seorang wanita karena kita merasa kurang pas dengannya, baik karena kurang secara fisik maupun dari sifatnya yang kurang baik, semua ini adalah persoalan pilihan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel