Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Karakter Bangsa Bermartabat

Karakter Bangsa Bermartabat

Oleh:Wardjito Soeharso

Tadi malam, aku ngikuti diskusi kecil yang dihadiri para tokoh. Ada ustadz ada dosen, ada pengusaha, ada profesional, ada anak muda milenial, ada budayawan, ada pensiunan (aku). Jumlah peserta diskusi tidak banyak. Hanya 25 orang.

Topik diskusi, refleksi kemerdekaan. Hampir semua yang hadir, sepakat bahwa kemerdekaan bangsa ini sifatnya hanya status belaka. Secara substansial, bangsa ini belum merdeka. Secara politik, ekonomi, sosial, budaya, bangsa ini sudah sangat pragmatis! Semua diukur dan dihitung dengan uang. Jadilah gaya hidup hedonis menjadi gaya hidup bersama. Uang menjadi satu-satunya alat yang bisa dipakai untuk mendapatkan apa saja. Dengan uang, orang bisa membeli martabat, kekuasaan, kehormatan, kebanggaan, dan kenikmatan hidup lainnya. Orang menjadi tergila-gila dengan uang. Demi uang orang rela menjual diri, menjual keluarga, menjual kelompok, menjual bangsa, menjual negara, bahkan menjual tuhan. Orang hanya berpikir untuk kepentingannya sendiri. Orang menjadi begitu sangat egois bila sudah bersentuhan dengan uang. Sikap egois yang mendorong orang menjadi jahat, menjadi maling dan rampok, menjadi pembunuh, dan kriminal lainnya. Dan karakter kriminal seperti ini sudah menyebar mencemari kehidupan di hampir semua lini, dari pucuk teratas, sampai dasar terbawah.

Semua itu menjadi sangat berbahaya bagi kehidupan bersama. Sikap empati, peduli, berbagi, suka memberi, yang sesungguhnya cermin cinta dan kasih sayang, telah lenyap hilang entah ke mana? Cinta dan kasih sayang nampak hanya semacam kamuflase untuk menyembunyikan niat jahat aslinya. Seperti pemancing, yang berpura-pura memberi makan (umpan) tetapi niat aslinya sebenarnya justru ingin memakan. Memberi sedikit dengan maksud mendapat banyak. Yang terjadi cinta dan kasih sayang pun banyak yang palsu. Tidak ada kesetaraan rasa antara yang memberi dan menerima.

Apakah semua itu cermin dari kegagalan pemimpin? Dalam masyarakat yang masih menganut model patriarchi, patron-client, sosok pemimpin memang masih menjadi sangat penting. Pemimpin ditempatkan di posisi paling atas, paling depan, sehingga terbuka untuk dilihat dan didengar sebagai panutan yang mesti diikuti. Pemimpin yang baik akan diikuti baik oleh yang dipimpin. Pemimpin yang buruk alan diikuti buruk oleh yang dipimpin. 

Oleh karena itu problem besar bangsa ini sesungguhnya ada pada karakter. Karakter pembentuk gaya hidup pragmatis-hedonis yang sudah terbukti merusak pikiran dan perasaan karena mendorong manusia menjadi maling, r4mpok, p3mbunuh, dan kriminal lainnya. Tak kurang bukti, lembaga negara sekarang diisi manusia-manusia berkarakter maling, ramp0k, dan kriminal lainnya itu.

Selama karakter bangsa ini tidak dibenahi, sepertinya sangat sulit bangsa ini bisa keluar dari kubangan masalahnya. Perlu gerakan revolusi budaya! Kembali pada komitmen dan integritas budaya tegakkan nilai-nilai yang menjadikan bangsa ini bermartabat. Hanya ada dua nilai dasar sebagai pembentuk karakter bangsa yang bermartabat, yaitu karakter anti maling (akar kejahatan) dan karakter empati atau peduli pada sesama (akar cinta dan kasih sayang).