Surat untuk Ariel Heryanto dari Budi P Hutasuhut
Surat Buat Ariel Heryanto
Aku tak kenal kau, Ariel Heryanto, dan segera aku berusaha mengenalimu setelah membaca tulisanmu di kolom budaya Kompas perihal "Belanda minta maaf"--kusimpulkan saja begitu. Kau kagum atas perubahan Belanda karena meminta maaf. Aku merasa itu tak penting, karena warga bangsa ini seharusnya meludahi Belanda tepat di keningnya. Orang-orang di Angkola sudah melakukan hal itu sejak lama, melidahi kening Belanda dengan ludah berdahak.
Kau tahu orang-orang Angkola? Tentu tidak, tapi kau kenal mereka bila aku kasih tahu. Salah satunya Sutan Casayangan Harahap, orang Indonesia pertama yang berani marah-marah di Belanda sana. Aku tambahi lagi, Ida Nasution, orang yang penanya mampu memaki-maki Belanda meskipun kemudian dia dihilangkan. Dihilangkan!? Kasus itu menjadi kasus penculikan aktivis Indonesia yqng pertama. Sampai kini tak jelas riwayatnya. Kau pernah dengar nama itu jika sering membaca puisi Chairil Anwar.
Jika itu belum cukup, aku ceritakan kepadamu tentang Masdulhaq Hamonangan Nasution. Dia seorang perupa, ahli hukum tata negara dan penasehat kepresidenan yang membuat Doekarno-Hatta sangat ditakuti. Tapi, Belanda kurang hajar itu menangkapnya, menahannya, lalu melepasnya di sebuah ladang jagung agar melatikan diri sehingga Belanda bisa memburunya seperti memburu kelinci.
Dia dibunuh dengan keji oleh Belanda pukimak itu. Beberapa bulan sebelumnya, Dua tahun setelah 17 Agustus 1945, dia menggelar pertemuaj bersama Amir Syarifuddin Harahap (Angkola), Parlindungan Lubis (Angkola), Tahi Bonar Dilalahi,, Abdul Haris Nasution, dan Hutagalung -- mereka dikenal sebagai Gerobak (gerombolan orang Batak pada zaman revolusi) -- di Jogjakarta untuk membahas masa depan bangsa ini. Kau tahu Masdulhaq, dia penentang Belanda yang paling bersemangat. Itu sebabnya dia ditangkap, disiksa, dijadikan kelinci buruan.
Belanda tak termaafkan, apalagi bagi orang Angkola.
Kau tahu orang Angkola? Tidak, kau tidak tahu. Maka aku ceritakan kepadamu tentang Sutan Pangurabaan Pane, seorang budayawan Angkola, maestro sastra yang melahirkan anak-anak bernama Sanusi Pane, Armijn Pane, dan Lafran Pane. Mereka keluarga penggerak nasionalisme, penganut aliran Timur, dan melawan pada Belanda dengan cara yang elegan (pakai isi kepala).
Perlawanan apa yang dilakukan Sutan Pangurabaan Pane?
Tahun 1909, dia menulis fiksi yang isinya mengejek lembaga pendidikan formal Belanda (Kweekschool Padang Sidimpuan) sebagai "sekolah raja" -- sekolah hanya untuk anak keturunan raja. Dia sendiri keturunan raja, menantu dari raja bermarga Siregar yang juga seorang ulama besar, Syekh Badaruzzaman Siregar. Di dalam adat Angkola, dia pisang raut (menantunya menantu) dari raja di Padang Sidimpuan yang bermarga Harahap, orang yang mengatur apa yang boleh dilakukan Belanda di Padang Sidimpuan.
Suara mereka wajib didengar Belanda. Ketika mereka minta ibu kota Keresidenan Tapanuli dipindahkan dari Sibolga ke Padang Sidimpuan, maka Belanda menurut. Ketika meminta Residen harus berkomunikasi dengan Si Singamangaraja XII, maka Residen berkomunikasi lewat surat dengan Si Singamangaraja XIi.
Surat-menyurat itu pakai bahasa Angkola. Raja di Padang Sidimpuan menyuruh Residen agar menugaskan Sutan Pangurabaan Pane menjadi juru tulis Residen. "Surat-menyurat dengan Si Singamangaraja XIi itu pakai bahasa Angkola, saya yang menulis untuk Residen," kata Sutan Pangurabaan Pane.
Kau tahu, Ariel, tidak pernah Belanda menjajah Padang Sidimpuan. Belanda justru diatur. Itu pula sebabnya, kenapa Zending Belanda tidak bertahan di wilayah Afdheling Sidimpuan dan akhirnya harus ke Silindung? Karena Belanda tak bisa menjajah Padang Sidimpuan, sebab orang-orang Angkola telah lebih dahulu tahu makna bebas, merdeka, dan berserikat.
Orang Angkola boleh bicara apa saja, dan mereka bicara lugas lewat media yangereka dirikan. Kau tahu, Ariel, siapa orang-orang media itu. Ada Parada Harahap, the King of Press in Java. Dia bagian dari Gerobak -- gerombolan Batak dalam pemerintahn Soekarno-Hatta. Mereka, sebagian besar orang Angkola, tak pernah menganggap Belanda itu luar biasa. Mereka remeh terhadap Belanda, karena mereka tahu Belanda itu hanya sebuah negara kecil yang lama dijajah Spanyol dan warganya hanyalah orang-orang yang tak punya pendirian karena berada di bawah bayang-bayang bangsa Jerman.
Orang-orang Angkola menganggap Belanda bukan apa-apa. Itu sebabnya, prang-orang Angkola memilih bergerak di bidang intelektual, mengendalikan pemerintah, dan duduk di belakang layar. Sosok itu melekat pada Parada Harahap, orang yang membiayai Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2, dan dia tak merasa perlu dikaitkan dengan Sumpah Pemuda.
Jadi, janganlah terlalu memuja Belanda hanya karena minta maaf. Belanda tidak bisa dimaafkan. Negara itu berisi para pembunuh. Mereka bangsa tempe yang hanya punya kuku saat agresi militer pertama. Merasa didukung sekutu, Belanda membunuhi warga bangsa Indonesia seperti menembak kelinci.
Di kampung aku, ada Sahala Muda Pakpahan, seorang revolusi, orang yang konon telah menembak mati Jendral Spoor. Sahala Muda ditangkap, diikat, disurit berlari, lalu ditembak. Mayatnya dibiarkan di hutan agar dimakan jewan buas, tapi warganya menemukannya. Kau tahu, Ariel, tiga lubang peluruh bundar di punggungnya, tandanya dia ditembak dari belakang setelah dihajar lalu disuruh berlari.
Bukan peluruh yang melobangi punggungnya yang menyebabkannya mati, tapi kekejaman Belanda penyebabnya. Sama seperti Masdulhaq mati dengan lubang peluruh di punggungnya.
Belanda harus mengungkap kasus-kasus pembunuhan itu, barulah mereka boleh minta maaf. Belum tentu dimaafkan.
Budi P Hutasuhut