Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Kerajinan Shuttlecock di Kediri


Tidak banyak yang tahu bahwa cikal bakal usaha kerajinan shuttlecock di Jawa Timur justru dimulai di Kediri. Industri kecil shuttlecock di kota itu sudah ada sejak  tahun 50-an. Ketidaktahuan orang bisa dimaklumi karena Kediri bukan termasuk kota sentra produksi shuttlecock, orang hanya mengenal Malang, Sidoarjo, Surabaya, Lamongan dan Nganjuk. Industri shuttlecock di Malang muncul beberapa tahun setelah Kediri. Dan Lamongan menyusul pada tahun yang hampir bersamaan.

Berawal dari pengepul bulu itik dan pemasok bulu itik untuk perusahaan shuttlecock Gajahmada di Tegal, Njo Gio Hai di tahun 50-an  memulai produksi shuttlecock di Desa Pakelan, Kota Kediri. Hampir seluruh produksi disetor ke Tegal karena dia belum punya pasar sendiri. Berbeda dengan Kediri, Malang mampu melahirkan merk shuttlecock ternama, Shuttlecock London. Bahkan di era Tan Shio Hok kala itu, Shuttlecock London mampu menjadi sponsor tunggal di Kejuaraan Asia. 

Pada tahun 1965 perusahaan shuttlecock yang dikelola Njo Gio Hai mengalami kebangkrutan dan dia menghentikan usahanya. Selang setahun, Njo Gio Hai hijrah ke Malang untuk membantu temannya yang sedang merintis sebuah merk baru, shuttlecock Saxon. 

Pada tahun 70an, mantan anak buah Njo Gio Hai yang bernama Tarmidi mendirikan usaha kerajinan shuttlecock di desa yang sama, Pakelan. Selain produksi, Tarmidi juga memasarkan sendiri produknya dengan merek Shuttlecock Athena. 

Tahun 2009, Tarmidi meninggal dan usahanya dilanjutkan oleh istrinya. Namun istrinya tidak produksi, dia mengambil produk jadi dari Nganjuk. Sesekali saya pernah melihat Bu Tarmidi belanja shuttlecock di Nganjuk. Tapi sejak tiga tahun terakhir, saya tidak pernah melihatnya lagi. Terakhir bertemu dan menyapanya, perempuan itu tampak begitu tua, mungkin usianya sudah 70an.

Dua hari lalu, saya mendaftarkan merek Athena ke Dirjen HAKI, merek yang sama yang pernah digunakan oleh Tarmidi. Saya memakai nama itu untuk produk shuttlecock saya dengan satu harapan bisa menghidupkan lagi usaha kerajinan shuttlecock di Kediri, kota kelahiran saya.

***
Foto dan artikel oleh: Machmud Yunus