Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori-teori kemunculan Agama-agama di Dunia


Antropolog Inggris abad ke-19, Edward B Tylor membayangkan bahwa impulsi religius manusia terbangun saat leluhur kita pada satu titik menyadari keberadaan jiwa. Bahwa dalam manusia ada entitas yang bakal terus ada bahkan saat fisiknya berhenti bekerja. Impulsi ini muncul dari rasa sayang: kita menolak percaya bahwa yang kita kasihi pergi begitu saja membusuk dihabisi waktu.

Sementara di Jerman, Max Muller meyakini bahwa kecenderungan beragama manusia mulanya terbangun dari ketakjubannya terhadap alam semesta. Bahwa benda-benda langit yang begitu ajaib tak mungkin ada dengan sendirinya. Bahwa hamparan bumi yang penuh keajaiban ini punya pencipta.

Sementara Emile Durkheim berteori bahwa saat manusia membentuk komunitas dan ikatan sosial, ia mulai membayangkan keberadaan pencipta beserta aturan-aturan moral yang menyertai kepercayaan itu. Dalam lain kata, komunitas awal manusia memerlukan agama untuk bisa tertib lestari.

David Hume, berangkat dari psikoanalisis Freudian dan Jung, berpandangan bahwa ada ketakutan primal pada pikiran manusia  yang membuatnya kemudian cenderung percaya pada keberadaan Sang Pencipta.

Mana satu yang benar? Sebagai Muslim, saya percaya semuanya. Kepercayaan pada jiwa dan kemudian pada hari akhir, seperti yang disebut Tylor adalah salah satu pondasi iman dalam Islam. Selain itu, adalah Allah yang meniupkan ruh alias jiwa kepada manusia. Saat ada yang meninggal, orang Islam bilang: Sesungguhnya kami kepunyaan Allah, dan kepada Allah juga kami kembali.

Sementara Alquran berulang kali menegaskan yang disampaikan Muller bahwa tanda-tanda keberadaan Allah memang nampak pada keagungan ciptaan-Nya. Dalam bahasa Alquran, semua keajaiban dunia ini adalah ayat yang bakal membawa mereka yang berpikir kepada Allah.

Islam juga tak bisa tegak tanpa jamaah dan umat seperti yang dibayangkan Durkheim. Sejak awal, ajaran agama ini terikat juga dengan kohesi sosial manusia alias hablumminannas. Keruntuhan masyarakat, dalam Alquran, lekat dengan penyangkalan pada keberadaan Tuhan.

Sementara menengok teori David Hume, dalam Islam salah satu tingkat iman yang paling tinggi adalah taqwa. Kata itu memang sedianya berarti ketakutan. Rasa takut pada Tuhan dan murkanya yang kemudian jadi pendorong beramal ibadah dan menghindari maksiat.

Melalui teori-teori kemunculan agama yang dirangkum Reza Aslan dalam "God: A Human History" itu saya teryakinkan bahwa Tuhan memang sedianya tak pernah meninggalkan manusia. Ia mengimbuhkan pada diri kita, umat manusia, rerupa infrastruktur dan fasilitas untuk mengenali diri-Nya. Ketakutan, kasih sayang, harapan, perasaan takjub, ketakberdayaan, rasa sakit, tribalisme, intelektualitas, imajinasi. Kita orang pada akhirnya memang diciptakan untuk beribadah.

Penulis: Fitriyan Zamzami