Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Eksotisme Aceh


Aceh memang unik dan eksotik; orangnya, budayanya, keberagamaannya, alamnya, kulinernya, kopinya, dan masih banyak lainnya. Daratan paling ujung Barat Indonesia tersebut menjadi monumen heroisme Indonesia melawan kompeni Belanda dgn tokoh2 pahlawannya spt Tjut Nyak Dhien, Teuku, Umar, dll. Di tanah rencong tersebut bersemayam banyak raja2 dan ulama spt Sultan Iskandar Muda, Syiah Kuala, Nuruddin Ar-Raniry, dll. Masjid Baiturrahman menjadi saksi kejayaan budaya Islam sejak jaman dahulu kala hingga sekarang. Ia pernah dibakar oleh Belanda pd th 1873 dan dibangun kembali pd 1877 utk mendapatkan kembali simpati masyarakat Aceh.

Begitu sulitnya Aceh ditaklukkan oleh Belanda, sikirimnyalah seorang penasihat Hindia Belanda Snouck Hurgronje ke sana untuk mempelajarai karakteristik masyarakat Aceh beserta agama dan budayanya. Perang Aceh (1873-1904) yang legendaris menjadi saksi betapa harga diri masyarakat Aceh adalah segala-galanya. Kita patut berbangga bisa bersaudara dgn masyarakat Aceh dan berterimakasih atas perlawanan heroik mereka mengusir penjajah. Tanpanya, kita hanyalah butiran debu yg medioker dan inferior. 

Belum lagi kalau kita mengenang sumbangsih masyarakat Aceh untuk pembelian pesawat Garuda pertama; Seulawah. Dalam sebuah kunjungannya (1948), Presiden Soekarno berhasil membangkitkan patriotisme masyarakat Aceh dan berhasil mengumpulkan donasi sebesar 20 kg emas yg kemudian digunakan untuk membeli pesawat C-47 Dakota dari Singapura. Kata “Seulawah” itu sendiri bermakna gunung emas. Jadilah Garuda perusahaan penerbangan nomor satu di Indonesia yang sayangnya nasibnya kini di ujung tanduk dan perlu diselamatkan (Semoga ada penyelamatan yg bermartabat).

Ingin rasanya menikmati eksotisme Aceh lebih lama, tapi waktulah yang tidak mengizinkan. Saya sangat menikmati semuanya tentang Aceh, terutama kopi Arabica-nya di Ulee Kareng. Semoga kita dapat berkunjung dan bersilaturahim dgn saudara2 kita Aceh di lain kesempatan. Tetap sehat dan bahagia selalu.

Ditulis oleh: Prof. Masdar Hilmy, rektor UIN SUNAN AMPEL SURABAYA