Hal-hal yang Membantu Terkabulnya Doa Kita
Sebagaimana anak-anak pada umumnya, doa panjang dan berbahasa arab pertama yang saya hafal adalah doa mau makan. Entah karena memang doanya mudah, atau karena berhubungan dengan sesuatu yang membahagiakan, yaitu makan.
Setelah doa makan, perlahan-lahan saya mulai menghafal doa yang lain. Hingga ketika dipondok, saya mulai serius menghafal beberapa doa khusus karena menang dipaksa keadaan. Ada satu momen yang kadang memaksa saya untuk berdoa. Maka saya memaksa diri untuk menghafalkan doa-doa sederhana.
Setelah semakin dewasa, saya semakin faham bahwa ternyata doa tak harus berbahasa arab. Allah akan faham dengan bahasa apapun yang disampaikan melalui doa hambanya, sebagaimana doa ubat-ubet yang viral beberapa tahun belakangan ini. Disana, ada seorang kiai sepuh yang mengajarkan umat untuk berdoa semampunya. Tak perlu memaksa untuk berdoa menggunakan bahasa arab bila tak mampu.
Doa sendiri, menurut bapak saya adalah wujud pelaksanaan perintah tuhan. Karena Allah berfirman”Ud’uuni astajib lakum”. Yang diartikan bebas oleh bapak saya:”Dungo o, ko sak wayah-wayah tak sembadani (berdoalah, nanti sewaktu-waktu akan saya kabulkan)”. Jadi kewajiban kita memang berdoa, masalah dikabulkan atau tidak. Ataupun dikabulkan segera atau nanti-nanti, itu adalah hak tuhan.
Tak hanya kewajiban, bahkan dalam ngaji ihya’ beberapa hari yang lalu bapak menerangkan: ”Dungo niku pusate ibadah(bahwa doa itu adalah pusatnya ibadah)”. Pusat disini bisa dimaknai dengan inti, atau kepala. Bahkan ada yang mengibaratkan, bila semua ibadah adalah anggota badan, maka doa menjadi otaknya.
Dalam berdoa sendiri, ada tata cara ataupun adab kalimat didalamnya. Yaitu diawali dengan hamdalah, sholawat, kemudian isi doa. Dan ditutup dengan sholawat dan hamdalah lagi. Ini adalah tata cara berdoa yang baik yang pernah diajarkan bapak saya kepada anak-anaknya. Jadi, meskipun isi doanya hanya sederhana, namun dengan cara yang baik sebagaimana yang diajarkan tadi, maka menurut bapak saya itu jauh lebih baik daripada panjang kali lebar, namun tidak sesuai akidah.
Setelah beberapa tahun hanya memperhatikan doa dari cara berdoa, beberapa hari yang lalu bapak menambahkan lagi keterangan tentang cara agar doa bisa terkabulkan. Dalam berdoa, berdoa yang baik adalah satu hal, dan keridhoan tuhan untuk mengabulkan adalah hal lain. Kita tak cukup hanya berdoa dengan baik saja, namun juga harus ditunjang dengan tindakan. Sebagaimana keterangan dalam ngaji ihya’ yang diterangakan bapak:”Lambene muni laailaha illah, tapi maringono terus metu golek duwet anakan. Hal e iki ora nulungi maring maqole(mulutnya membaca laaila ha illallah, tapi setelah itu keluar rumah dan mencari uang riba. Hal atau perilakunya ini tidak menolong terhadap ucapannya, atau doanya)”.
Jadi tindak tanduk kita dalam keseharian ini, juga adalah penunjang bagi keterkabulan doa kita.
Tak hanya keterkabulan, seringkali kita berdoa untuk mendapatkan buah kebaikan dari kebiasaan membaca doa. Entah itu berupa kebahagiaan dua dunia, ataupun kemulyaan yang sejati disamping ilahi. Maka, untuk segera mendapatkan buah baik ini, bapak menambahkan tips:”Njenengan kadang senengane moco manaqib. Tapi iso o nduwe siji dungo, seng isine sakitik tapi iso moco peng akeh. Niku ngoten, urute ngoten. Niki mungguhe kulo ngoten(anda kadang suka membaca manaqib, tapi lebih baik tetap punya satu doa, yang bacaannya sedikit, tapi mampu anda baca banyak-banyak. Begitulah urutannya. Ini menurut saya begitu)”.
Tak hanya manaqib, bapak mencohtohkan amalan lain:“Quran seminggu khotam, geh sae. Tapi njenengan nduwe o ayat seng njenengan apal, lan iso moco peng akeh bendinone(membaca al-Quran seminggu sekali hatam, juga baik. Tapi akan lebih baik lagi kalau anda punya amalan yang berupa ayat al-Quran yang anda hafal, dan bisa dibaca setiap hari dengan jumlah yang banyak)”.
Bila anda mampu mengamalkan yang seperti ini, maka dawuh bapak:”Mangke lek puron ngoten, mangke lak gampang entuk buahe(nanti kalau anda mau mengamalkan sebagaimana yang saya sarankan, maka insyaallah akan mudah mendapatkan buah baik dari amalan tersebut)”.
Meskipun mungkin ini bukanlah satu-satunya jalan, namun setidaknya ini adalah salah satu jalan baik yang sudah dibuktikan keberhasilannya. Namun bila memang anda sudah punya jalan baik lain, dan itu menurut anda lebih baik. Atau menurut guru anda lebih baik, dan anda yakini. Maka lanjutkan saja jalan baik tersebut. Karena memang banyak sekali jalan menuju kebaikan tuhan.
Kita akan selalu diterima, bahkan dengan tangan terbuka oleh tuhan, selama kita mau mendekat kepadaNYA.
Semoga kita bisa terus berproses dengan baik, dan mampu memilih cara terbaik menuju kebaikan tuhan. Karena memang doa kita tak cukup hanya mengandalkan indah tata bahasa, namun harus dibantu dengan baik laku juga.
SUMBER: FP SALAM KWAGEAN