Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

3 Hal yang Merusak Harta Orang Kaya


Waktu muthalaah syarah Jam'ul Jawaminya Imam Jalaluddin al-Mahalli-Imam Tajuddin as-Subki. Lagi-lagi mendapati tulisan menggelitik waktu zaman sekolah dahulu, Insya Allah kalau ndak salah ini dawuh Guru Hamba K. Fahruddin Barmawi atau K. Zainal Abidin.

"Rusake wong sugih (Harta orang muslim kaya bisa rusak/ludes)

1. Niat haji tapi ora haji (Niat haji. Sudah punya uang. Tapi setelah punya uang tidak jadi berangkat atau minimal dibuat daftar haji. Malah untuk mengembangkan bisnis. Terus terang di dunia nyata. Tanpa menyebut nama. Saya melihat buktinya. Betapa uang hasil arisan haji dia masukkan ke dagangan. Alih-alih dagangannya berkembang. Malah bubrah. Alhasil, haji tidak, daganganpun ludes).

2. Duwe utang, tapi pas nduwe duwit ora di saurke (Punya hutang, tapi pas punya uang, tidak dibuat pelunasan hutang. Kasus ini, jelas-jelas telah disampaikan Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam: Mathul-ghaniyyi dzulmun; Menunda membayar hutang bagi orang kaya adalah kezhaliman. Dan lagian sekarang banyak bukti kalau yang dihutangi sangat garang ketika di tagih 🤤. Jadilah si pemilik uang layaknya pengemis. Kalau sudah begini. Bukankah ia menutup pintu rizkinya sendiri?! 'Emm. Titenono sok nek nyilih neh! 🤣😃😅)

3. Adol tanah di tukokne sapi buat bisnis (Jual tanah dibelikan sapi untuk bisnis. Secara tersirat tentang ini juga ada hadis dari Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam yang di sitir Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Jam'us-Shaghirnya: Man baa'a daaran ilakh; Sesiapa yang menjual tanah atau rumah dan uangnya tidak dibuat membeli tanah lagi maka tidak barakah! Dan lagi-lagi ada beberapa kasus yang saya lihat dengan mata kepala, betapa yang menjual tanah lalu tidak di belikan tanah, hartanya kocar-kacir. Kata orang-orang sepuh, solusi hadis tersebut, 'Harus di belikan tanah lagi, walau sedikit, lha lebihannya baru bisa di belikan lainnya)".

Jikapun ada salah satu pembaca yang ndilalah pernah melakukan tiga hal tersebut. Bukan berarti konsekwensinya bisa di pastikan seperti kasuistik yang saya sebut diatas. Karena Ini berbicara tentang sababiyyah, kebiasaan, atau ndilalahnya. Terlepas dari bahasan taqdir.

Sebagaimana pelebur dosa kecil ataupun besar, kiranya istighfar, memenuhi kewajiban, niat menjadi lebih baik dan nyar'i, serta senantiasa mengharap limpahan dan anugrah ridha Gusti Allah ta'ala insya Allah akan membuat hati tenang.

Alhamdulillahhh ... Mugi sedantene berkah.

Ditulis oleh: Gus Robert Azmi - PP Al-Fattah Pule, Nganjuk