Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Maluku Bukan Beban Negara, Pak Wiranto!!

SURAT CINTA BUAT WIRANTO
(Selesai baca, bantu teruskan)

Pak Wiranto, saat negara ini sedang dihantui perpecahan, suasana kebatinan anak bangsa mesti dijaga dan dirawat. Apalagi pada mereka yang hidup dalam ketertinggalan dan kemiskinan, kemudian ditimpa lagi dengan bencana alam.

Pak Wiranto, ini bukan saja soal gempa atau tanah goyang, tapi dalam banyak perkara lain, negara ini kerap tak hadir, membuat pesentuhan negara dengan kami di Maluku memang kurang terasa. Walau sering dikecewakan, kami sudah terbiasa dengan situasi perlakuan yang tidak adil ini.

Bapak tentu masih ingat, 20 tahun lalu, saat menjadi Panglima ABRI, ada konflik besar di Maluku, dan itu akibat negara gagal, bapak juga gagal dan tak becus mengemban tugas, paling tidak dalam mencegah warga negara berseteru, saling serang hingga hidup di pengungsian. Sejarah kemudian mencatat, orang Maluku akhirnya punya mekanisme sendiri untuk bangkit dan merajut perdamaian tanpa perlu campur tangan negara.

Pak Wiranto, kini kami dirundung duka, tertimpa bencana alam, setiap waktu diintai tanah goyang, ada trauma melingkupi jiwa-jiwa yang goyah. Wajar saja, tanah goyang bikin orang se-sakti apa pun ciut nyali.

Lalu, Bapak dengan mudah katakan, seperti dikutip sejumlah media online, ketakutan warga sehingga bertahan di tenda-tenda pengungsian itu justru menjadi beban negara. Bapak pikir ada yang nyaman jadi pengungsi. Bapak mungkin tak sadar, saat bapak berkomentar itu pun tanah goyang bahkan sedang terjadi walau dalam skala yang lebih kecil.

Pak Wiranto, mengungsi karena gempa di Ambon bahkan menghadirkan hikmah tersendiri, khususnya bagi terbangunnya kohesi sosial, ketika orang-orang beda agama, yang notabene pernah berkonflik, saling sambut, saling bantu, dan saling tolong, penuh haru, penuh kasih, penuh sayang, penuh cinta. Pengalaman sosial dan batin ini jangan bapak cederai.

Pak Wiranto, tak perlu jadikan kami beban, karena orang Maluku bukan bangsa pengemis yang merengek untuk dibantu, kalau pun kami menuntut sesuatu itu lebih pada menagih hak warga negara, bukan peminta-minta.

Pak Wiranto, justru bapak sesungguhnya adalah beban bagi bangsa ini, beban sejarah, beban dalam penegakan HAM, dan yang pasti adalah beban bagi Pemerintah, karena komentar bapak kadang justru kontaproduktif dan turut menggerus simpati publik kepada Pemerintahan Jokowi.

Pak Wiranto, komentar bapak bahkan lebih perih dari ucapan Shafiq Pontoh di televisi soal anak muda Ambon yang tak pandai bermedia sosial, atau mungkin lebih ‘kasar’ dari kata monyet kepada pemuda Papua di Surabaya. Karena tidak saja menghina kami yang dikesankan merepotkan negara, tapi juga seperti menjadikan yang tertimpa bencana sebagai biang masalah.

Pak Wiranto, sebagai saran dan ungkapan cinta, berhentilah, cukup sudah masa edarmu sebagai pemangku kewajiban, kembaliah ke pangkuan keluarga, bermain dengan cucu-cucu mu, nikmati hari tua mu, usia uzur memang butuh piknik dan istirahat. Bangsa ini akan jauh lebih baik tanpa campurtangan mu dalam pengelolaannya, seperti barang kadaluarsa yang tak pantas lagi di etalase, namun di tempat SAMPAH!

By. Ikhsan Tualeka
Instagram: @ikhsan_tualeka