Kepribadian bukan Karakter


Dalam kajian ilmu psikologi kepribadian, ada berbagai macam tipologi kepribadian manusia. Namun scara garis besar bisa dikategorisasikan ke dalam empat macam, yaitu koleris, melankolis, plegmatis, dan sanguin. Setiap orang pada umumnya punya kecenderungan ke salah satu dari empat tipe di atas.

Orang dengan tipe kepribadian sanguin cenderung optimis, ringan, dan riang. Mereka suka petualangan dan memiliki toleransi risiko yang tinggi. Biasanya, orang Sanguine sangat miskin dalam mentoleransi kebosanan dan akan mencari variasi dan hiburan. Kepribadian ini kadang-kadang dapat secara negatif mempengaruhi hubungan romantisme mereka. Karena tipe kepribadian ini rentan terhadap perilaku mencari kesenangan, banyak orang dengan kepribadian ini cenderung berjuang melawan kecanduan.

Orang-orang sanguin sangat kreatif dan dapat menjadi seniman hebat. Selain itu, mereka adalah penghibur yang fantastis dan secara alami akan cenderung berhasil jika mereka memilih karier di industri hiburan.

Seseorang dengan tipe kepribadian plegmatis biasanya adalah orang yang suka mencari keharmonisan interpersonal dan kedekatan hubungan dengan orang lain. Orang plegmatis adalah tipe pasangan yang setia dan orang tua yang penyayang. Mereka menjaga hubungan mereka dengan teman-teman lama, anggota keluarga yang jauh, dan tetangga. Mereka cenderung menghindari konflik dan selalu berusaha menengahi orang lain yang sedang berseteru untuk memulihkan perdamaian dan harmoni. Mereka sangat suka beramal dan membantu orang lain.

Seseorang koleris biasanya mudah tersinggung. Namun di sisi lain mereka orang yang cerdas, analitis, dan logis. Sangat praktis dan simple, mereka tidak menyukai obrolan ringan dan menikmati percakapan yang mendalam dan bermakna. Mereka lebih suka sendirian daripada bergaul dengan orang-orang yang pikirannya dangkal. Mereka ingin menghabiskan waktu bersama orang-orang yang memiliki minat profesional yang serupa.

Orang dengan kepribadian melankolis cenderung mencintai tradisi yang berlaku umum. Mereka mencintai keluarga dan teman-teman mereka dan tidak ambisius untuk mencari hal-hal baru dan petualangan. Bahkan, mereka cenderung menghindarinya dengan cara apa pun. Seseorang dengan kepribadian melankolis tidak tertarik untuk menikah dengan orang asing atau meninggalkan tanah air mereka ke negara lain. Mereka sangat sosialis dan berupaya berkontribusi pada masyarakat.

Nah, setelah kita tau seperti apa gambaran dari masing-masing tipe kepribadian di atas, di manakah posisi karakter? Bagaimana peran karakter terhadap kepribadian seseorang? Apakah karakter sama dengan kepribadian? Mari kita bahas satu persatu.

Tahukah anda, bahwa karakter itu bukanlah kepribadian. Karakter berbeda dengan kepribadian, alias kepribadian tidak sama dengan karakter. Di mana letak perbedaannya? Kepribadian itu bawaan. Setiap orang, sejak ia dilahirkan, telah dianugerahi kepribadian oleh Allah. Hanya saja kepribadian tersebut baru akan nampak dan dapat diidentifikasi ketika ia telah beranjak dewasa. Dengan kepribadian bawaan yang dimilikinya, seseorang punya kelebihan dan kelemahan dalam aspek individual maupun sosialnya.

Karakter adalah kemauan seseorang untuk belajar dan berusaha mengatasi kekurangan yang berasal dari kepribadian bawaannya agar tercipta suatu perubahan/kebiasaan baru yang lebih baik.

Karakter mempunyai peran untuk merepair kelemahan-kelemahan yang ada pada tiap-tiap kepribadian. Menjadi seseorang yang berkarakter atau hanya pasrah dengan kepribadian yang dia bawa sejak lahir merupakan pilihan dan tanggung jawab penuh setiap orang.

Pengembangan karakter memang tidak mudah, tidak bisa instan. Harus dimulai sedini mungkin agar proses repairing sisi lemah dari kepribadian dapat berdampak positif sejak dini dan berkelanjutan. Caranya tentu melalui proses pendidikan, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan.

Setiap orang bertanggung jawab penuh atas dirinya sendiri, termasuk dalam hal pembangunan karakter. Seburuk apa pun masa lalu kita, sebanyak apa pun masalah dan hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi pada diri kita, mau menjadi pribadi yang berkarakter atau tidak adalah pilihan kita sendiri.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...