Mahbub Djunaidi, Esais Indonesia Terbaik Sepanjang Masa
Satu-dua kali saya membaca kritik dari beberapa intelektual medsos terkait kepakaran. Kata mereka, jangan dengarkan orang yang bicara apa saja, sebab yang benar adalah mereka yang fokus menekuni satu bidang secara mendalam, mendedikasikan segenap energi dan waktunya untuk menguasai bidang tersebut.
Saya tidak tahu apa landasan berpikir para kritikus itu. Paradigma "harus cuma spesialis" itu rasanya sisa-sisa awal Revolusi Industri. Belakangan, para spesialis dibutuhkan, para generalis juga diperlukan. Kaum generalis itu mengisi pos-pos yang mengharuskannya bersentuhan dengan banyak pihak, banyak bidang, dan banyak jenis manusia.
Bahkan belakangan ada riset yang disampaikan di buku Range-nya David Espstein yang menemukan bahwa di zaman yang semakin tidak berpola, kaum generalis ini bisa jauh lebih fleksibel dalam beradaptasi dan merespons perubahan.
Salah satu generalis yang dengan tegas memproklamirkan diri sebagai generalis adalah sang legenda, salah satu esais terbaik Indonesia sepanjang masa, Mahbub Djunaidi. Dia memang esais, tapi multibidang. Dia bisa menulis tentang politik, tentang kebudayaan, tentang ekonomi, tentang pendidikan, tentang agama, bahkan tentang apa pun yang terlintas di pikiran dan imajinasinya, dengan sama baiknya, sama renyahnya, sama ndagingnya.
“Selaku penulis saya ini generalis, bukan spesialis. Saya menulis ihwal apa saja yang lewat di depan mata. Persis tukang loak yang menjual apa saja yang bisa dipikul," kata Mahbub.
Itu baru soal tema. Belum soal gaya. Mahbub canggih menulis yang berat dengan gaya ringan, piawai ngoceh tema ringan tapi dengan bobot renungan yang kadang bagi kita tak terbayangkan.
Membaca Mahbub membuat kita serasa masuk warung kopi yang di dalamnya sedang nongkrong para politisi, wartawan, akademisi, dan juga para santri. Menyimak coretan-coretan Mahbub adalah tamasya ke belantara pikiran, candaan-candaan yang "halus" tapi jleb, dan khazanah pengetahuan serta pengalaman yang luar biasa kaya.
Tentu hal tersebut tidak mengherankan, sebab Mahbub sendiri punya latar belakang yang sangat nano-nano. Dia wartawan senior, sastrawan, agamawan, organisator (pernah memimpin PMII, GP Ansor, juga pernah jadi wakil ketua PBNU), bahkan pernah pula menjadi politisi karena sempat menjadi anggota DPRGR/MPRS era Demokrasi Terpimpin.
Sebagian kekayaan pengalaman, pikiran, sekaligus banyolan Mahbub itu tertuang dalam sekian ratus esai di dua buku besar dan tebal (480 hlm dan 430 hlm) yang selegendaris penulisnya ini. Dan kita di zaman yang serba mudah ini bisa menikmati dan menyelami alam Mahbub cukup dengan 130K yang kiri dan 100K yang kanan.
Tentu saja dengan mencolek mbak admin Toko Buku IAD. Klik segera, dan minta saja diskon khususnya kalo beli sepaket dua-duanya. Kayaknya boleh free ongkir Jawa, tapi tanyao sik aja.
Whatsapp: wa.me/628164203333 (mbak atin)
**
“Dia (Mahbub Djunaidi) adalah salah satu guruku menulis.” —Sujiwo Tejo
“Mahbub Djunaidi dibutuhkan dulu, apalagi kini dan nanti.” —Arswendo Atmowiloto
“Saya punya kecemburuan pada Mahbub. Bagaimana dia bisa menulis hingga orang tertawa, padahal isinya cukup serius? Kelebihan Mahbub pada kolom-kolomnya, yang belum tertandingi oleh siapa pun, ialah bahwa ia bisa mengatasi mempergunakan bahasa Indonesia dengan kecakapan seorang mime yang setingkat Marcel Marcau. Kata-kata, kalimat-kalimat, ia gerakkan dalam pelbagai perumpamaan yang tidak pernah membosankan karena selalu tak terduga.” —Goenawan Mohamad
Penulis: Iqbal Aji Daryono
