Menjadi Pilot Waktu
Sebagian orang mengeluh karena merasa waktu berlari begitu cepat. Sebaliknya, bagi sebagian umat, tempo terasa lamban. Laju matahari terbenam ditunggu sampai bosan, entah dengan menghabiskan sebungkus rokok, berkali-kali main catur, memancing, atau lainnya. Bagi sebagian jamaah lainnya, masa dirasa begerak dengan kecepatan yang tepat, karena dikelola sesuai hasrat. Jadi, pernyataan jamak di atas menyimpan soal mendasar: waktu sebetulnya selalu berjalan dengan stabil. Tempo menapak dengan kegesitan yang sama: tidak cepat, tidak lambat. Manusia sendiri yang membuatnya terasa cepat atau lambat. "The bad news is time flies. The good news is you are the pilot," ucap Michael Altshulter.
Kata kuncinya adalah kita mesti menjadi pilot waktu, bukan penumpang waktu. Pilot akan mengatur tujuan, rute, kecepatan, termasuk ragam cara memitigasi perubahan cuaca. Ia penentu arah. Sementara itu, penumpang cuma mengerti tujuan dan memasrahkan rute, kecepatan, dan lain-lain kepada pilot. Ia penerima arah. Ketika terjadi turbulensi akibat awan, penumpang tidak paham seberapa gawat masalah tersebut. Mereka gelap dengan keadaan yang sebenarnya sebab cuma mendengarkan panduan. Ia hanya bisa mengikuti aturan dalam cekam. Pendeknya, penumpang waktu hanya menjalani rincian hidup yang telah ditentukan.
Warta nikmatnya, hidup selalu bisa diubah. Pilot bisa menjadi penumpang, atau sebaliknya. Kualitas hidup selalu bisa diperjuangkan dengan melakukan perubahan-perubahan secara terjadwal. Perubahan menjadi budaya hidup dan identitas pribadi/bangsa. Winston Churchill tak jemu mengingatkan: "To improve is to change; to be perfect is to change often." Perubahan memang tampak tidak mengenakkan bagi sebagian warga. Seorang pemimpin kadang juga menghindarinya secara sadar karena takut menghadapi riak. Seseorang juga enggan mengambilnya sebab malas bersua dengan risiko.
Perubahan kerap ditampik meski hampir seluruh khalayak sadar itu satu-satunya jalan perbaikan. Banyak yang risau dengan keadaan, namun tak sudi melakukan perubahan. Perubahan tidak dijadikan agenda menuju kebajikan, sementara waktu tak bisa dihentikan. Sekurangnya aksi perubahan dapat dikerjakan secara pribadi sebagai habitus kedaulatan. Maya Angelou punya petuah sederhana perkara ini: "If you don't like something, change it. If you can't change it, change your attitude." Esok hari tahun telah berganti: kemarin direfleksikan, hari ini dirayakan, besok diperjuangkan. "Tomorrow is the first blank page of a 365-page book. Write a good one," ucap Brad Paisley.
****
Penulis: Ahmad Erani Yustika