Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah dari ReaktorNuklir Chernobyl


“Letupan reaktor nuklir Soviet belum jelas. Ada dugaan, Chernobyl bukan Cuma PLTN, tapi juga pabrik bom.” Sebuah kalimat pembuka cukup memancing rasa penasaran pembaca. Kutipan tersebut terdapat dalam sebuah liputan berjudul Chernobyl Ternyata Pabrik Bom? Di Majalah Tempo Edisi 10 Mei 1986. Tulisan dalam rubrik Luar Negeri itu dari Jim Supangkat dengan bantuan dua kontributor lain, masing-masing: Robin Siren dan Musthofa Helmy.

Sepanjang tiga halaman, para pembaca diajak untuk memahami dengan seksama apa yang terjadi di Ukraina. Adalah kasus kecelakan reaktor nuklir di Chernobyl pada 28 April 1986. Kejadian itu tentu saja menambah daftar bagaimana kecelakaan yang terjadi berhubungan dengan pengembangan energi nuklir. Kalimat demi kalimat tersampaikan berdasarkan data, analisis pakar, dan dugaan-dugaan lain akan kejadian tersebut.

Para pembaca mendapatkan penjelasan: “Kekahwatiran dunia menghadapi debu-debu radioaktif bisa dimengerti. Radiasi gamma dikenal mengubah semua substansi menjadi substansi lain, karena berubahnya struktur atom semua unsurnya. Pada manusia, perubahan asam amino yang terdapat pada inti sel bisa membuat sel-sel pada suatu jaringan tubuh terus-menerus melakukan pembelahan tanpa bisa dikontrol. Maka, pada berbagai bagian tubuh, baik di luar maupun di dalam, muncul benjolan-benjolan tumor. Pada tingkat radiasi tinggi, wujud tubuh manusia bisa berubah seperti tanaman kaktus.”

Penjelasan menggambarkan kengerian bagi mereka terdampak radiasi akibat kecelakan reaktor. Hal mengerikan dari keberadaan nulklir, salah satunya adalah radiasi yang menjangkau ukuran jarak tertentu. Ini kemudian menjadi ketakutan tersendiri. Barang siapa memiliki niatan dalam mengembangkan energi nuklir, wajib dan perlu memperhatikan keselamatan dan melakukan antisipasi ketika hal tak diinginkan terjadi, seperti halnya kecelakaan.

Dugaan demi dugaan muncul. Para pakar ternama dari berbagai negara memberikan pendapat dan analisis atas kejadian. Sekalipun itu dari Indonesia dengan keberadaan lembaga berkaitan dengan energi nuklir, Batan. Para pembaca mendapatkan penjelasan: “Grafit yang cuma menahan panas ternyata tidak menahan reaksi berantai. Dan menurut Ir. Djali Ahimsa, Direktur Jenderal Batan (Badan Tenaga Atom Nasional), “Grafit ini kalau terbakar lama sekali baru bisa padam”.”

Ketertutupan Uni Soviet dalam kejadian tersebut, menjadikan spekulasi maupun dugaan muncul akan ledakan dan efek domino terhadirkan. Salah satunya berupa dugaan akan reaktor daya pembangkit listrik tersebut ternyata memproduksi plutonium. Pernyataan menguat tatkala pihak International Atomic Energy Agency (IAEA) atau Badan Tenaga Atom Internasional memberikan pernyataan merujuk ke sana. Chernobyl kenyataannya di luar pengawasan IAEA.

Penjelasan tersampaikan: “Seorang bekas pejabat tinggi IAEA (perhimpunan tenaga atom internasional, yang nerupakan organ PBB) yang tak mau disebutkan namanya membenarkan, IAEA tahu bahwa Chernobyl, selain reaktor daya, juga memproduksi plutonium.” Kita kemudian mendapatkan penjelasan bahwa dengan produksi plutonium itu menggambarkan bahwa pengembangan energi nuklir tak hanya merujuk pada pembangkit listrik, namun juga berkepentingan untuk perihal senjata.

Kisah ini menejelaskan sejak diinisiasi bersama oleh PBB dengan  berbagai negara di dalamnya terkait perjanjian bahwa pengembangan nuklir di tiap negara hanya untuk kepentingan perdamaian. Kita melihat masih ada gejolak energi nuklir diproyeksikan dalam pembuatan senjata. Pertanda bagaimana energi nuklir masih menyisakan narasi mengenai urusan perang yang tentunya  membuat takut banyak orang.

***

Penulis: Joko Priyono