BERANI BERBEDA DAN BERJALAN SENDIRIAN
“Now, every time I witness a strong person, I want to know: what dark did you conquer in your story? Mountains do not rise without earthquakes” (Katherine Mackenneth).
Berapa kali dalam hidup, kita merasa sendirian? Merasa menjadi anomali, orang-orang berjalan ke timur, sedang kita ke barat sendiri. Dalam masa sekolah dan kuliah, di lingkungan kerja, di masyarakat, …. Mungkin kita pernah merasa sepi karena berani menjadi berbeda. Atau bahkan ketika hanya sekedar mempunyai ide atau perspektif yang berbeda mengenai apa itu hidup yang berarti.
Namun kita perlu menyadari, kemajuan pesat peradaban yang sekarang kita nikmati ada berkat peran orang-orang yang memutuskan berbeda pada zamannya. Orang yang berani berjalan sendiri. Dalam ide maupun keyakinan. Resikonya bukan hanya dianggap aneh, hermit atau eksentrik, tapi terkadang nyawa. Eksplorasi ruang angkasa (termasuk pendaratan di bulan dan pemetaan permukaan planet Mars) tentu bisa terlaksana ketika kita mempunyai model tata surya yang benar dan tepat. Dan itu dimulai dari Copernicus yang pada eranya berani berpendapat berbeda bahwa Bumi bukan pusat tata surya apalagi semesta. Hal ini merubah keyakinan yang umurnya 2000 tahun. Karena tekanan dari konformitas gereja, Copernicus menyembunyikan pandangannya ini selama 40 tahun.
Yang meneruskan secara lebih jauh dan komprehensif adalah Giordano Bruno, yang lahir 5 tahun sesudah terbitnya makalah Copernicus. Bruno melanjutkan dengan pandangan sangat jauh ke depan, dan kemudian terbukti benar dan menjadi dasar dari astronomi dan kosmologi modern. Studi tahun 1995 melaporkan adanya planet-planet di luar tata surya yang juga mengorbit mengelilingi bintang seperti matahari kita (Mayor and Queloz, 1995). Temuan ini menjadi awal dari temuan yang bertambah secara eksponensial adanya planet-planet dalam alam semesta. Ditengarai sebagian dari planet ini mempunyai kondisi mirip bumi dan tentu saja ini merubah secara fundamental perspektif antroposentris. Eloknya, Bruno memprediksi model alam semesta itu 300 tahun sebelumnya.
“And this space is what we call the infinite, because there is no reason, capacity, possibility, sense or nature that must limit it. There are infinite worlds similar to this one and no different from it in its type, because there is no reason or defect of natural capacity (I am referring both to passive and active power) by which, just as they exist in this space that surrounds us, they should not equally exist in the other space that by its nature is no different or diverse from this.“[1], Giordano Bruno (Fifth Dialogue).
“There are therefore innumerable suns; there are infinite earths that equally revolve around these suns, in the same way as we see these seven (planets) revolve around this sun that is close to us.”[2]. Giordano Bruno (Third Dialog).
Pandangan Bruno ini tentu sangat bertolak belakang dengan mainstream pada zaman itu. Pidatonya di komunitas ilmuwan di Oxford University tahun 1584 mendapatkan perlawanan dan tidak meyakinkan seorang pun. Kepercayaan Bruno akan kebenaran pengetahuanya membuat dia menghabiskan waktu 9 tahun di penjara, peradilan gereja dan hukuman mati dengan dibakar.
Iman dan keyakinan Bruno tidak sia-sia, namanya akan dikenang dalam sejarah umat manusia yang saat ini sudah dalam level menjadi space farer. Ekspedisi menjelajah alam semesta dengan segala kemungkinannya.
Kita mungkin bukan kaliber seperti Bruno. Atau Nikolai Tesla yang ide-ide briliannya menjadi dasar dari ilmu dan teknologi listrik modern. Atau Elon Musk dengan inovasi teknologinya yang mampu merubah mainstream negara adidaya Amerika. Kita adalah manusia biasa dengan problem sehari-hari. Tapi kita bisa melihat di sekitar kita, orang-orang yang berani berjalan sendiri. Berbeda dari pendahulu atau sekitarnya.
1. Ketika kebanyakan orang antri untuk menjadi PNS, sebagian berani memutuskan untuk memulai usaha sendiri. Menjadi entrepreneur (apapun bidang usahanya), menciptakan lapangan kerja, minimal untuk dirinya sendiri.
2. Saat dinasti dan keluarganya turun temurun bekerja dan berkarir sebagai ahli hukum, seseorang memutuskan untuk mendirikan band dan berkarir dalam bidang musik.
3. Ketika mainstream di masyarakat adalah bekerja kantoran 9 to 5, sebagian memutuskan untuk mencari rezeki dari pasar. Berdagang. Membuka lapak di lapangan atau jualan online dalam era digital.
4. Ketika keluarga besar dan saudara-saudarinya semua berpraktek sebagai dokter ahli, seseorang memutuskan untuk …. menjadi pelaut!
5. Saat ayah dan ibunya mengambil jurusan hard-core science, seorang anak yakin bahwa hidupnya ada dalam jalur seni.
Dan banyak lagi …
Saya salut dengan teman-teman ini. Hidup menjadi lebih kaya dan berwarna. After all, menurut saya, life is an open-ended question. Tidak ada satu jawaban yang benar.
Kita seratus persen berhak menentukan apa yang kita anggap baik dan indah (atau berhasil) untuk hidup kita sendiri.
***
Penulis: Prof. Agus Budiyono