5 Pokok Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Dalam Latihan Kepemimpinan Dasar (LKD) Orientasi Santri Mamba'ul Hikmah (Osmahi) Ponpes Mambaul Hikmah Pasarpon (PPMH) Ponorogo kemarin menghadirkan (calon) Doktor Mbak Shofia Fajrin Hardiyanti yang juga alumnus PPMH dan sekarang seorang Lecture. Fajrin adalah orang yang ekspert dalam pendidikan ala "Paedagogi Ki Hajar Dewantara" atau KHD.
Beberapa pemikiran besar yang dilahirkan dari buah karya KHD sangat melegenda di Indonesia. Beliau cetuskan beberapa jargon
- Ing ngarso sung tulodho
(di depan memberi teladan)
- ing madya mangun karso
(di tengah membangun semangat, kemauan),
- tut wuri handayani
(di belakang memberi dorongan)
yang kini menjadi insiprasi besar bagi kalangan guru dalam dunia pendidikan. Diantara pemikiran KHD yang begitu melekat berikut:
1. Menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak sehingga anak dapat mencapai titik keselamatan dan kebahagian yang setinggi - tingginya. Menuntun bukan pada kodrat dasarnya tapi menuntun untuk memperbaiki tingkah lakunya.
2. Pendidik Ibarat petani yang menanam padi. Dalam menanam padi untuk jadi beras unggul, petani harus memiliki berbagai cara dan sabar mengurusnya. Dalam pembelajaran, guru harus memiliki banyak cara, bersabar dan ikhlas untuk hasilkan generasi atau anak yang baik.
3. Pendidikan harus berupaya memenuhi kodrat kebutuhan anak. Kata KHD yaitu " Menghamba pada anak ". Pendidikan harus di dalam pangkuan ibu bapak karena hanya dua orang inilah yang dapat "menghamba pada sang anak" dengan semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas. Menghamba ini bukan berarti dapat diperlakukan semena- menanya, tapi pendidikan harus berorientsi pada kebutuhan anak sehingga anak dapat berkembang sesuai dengan minat dan bakatmya.
4. Budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga/semangat. Budi pekerti yang dimaksud adalah bahwa pendidikan bisa memanusikan manusia menuju perbuatan yang baik.
5. Bermain merupakan kodrat anak. Menurut KHD, Permainan anak itulah pendidikan. Dalam hal ini pendidik harus memahami bahwa kodrat anak adalah bermain sehingga pembelajaran bisa diintegraskan dengan bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain.