Pesantren Harvard
Dalam 50 tahun terakhir, Universitas Harvard selalu menempati urutan 10 besar perguruan tinggi terbaik dunia. Jika bukan ranking pertama, biasanya ranking kedua atau ketiga. Pesaing terdekatnya adalah MIT, Stanford, Oxford, dan Cambridge. Harvard menempati urutan perguruan tinggi terbaik dalam hal kualitas alumninya, mutu dosennya, pengelolaannya, dan hasil riset-risetnya.
Harvard memiliki catatan sebagai universitas yang alumni atau dosennya paling banyak mendapatkan penghargaan Nobel, yakni 161 orang. Tak kurang dari 23 lulusannya menjadi kepala negara di dunia, termasuk Presiden John F. Kennedy dan Barack Obama. Harvard memiliki 79 perpustakaan, termasuk perpustakaan utama, yang keseluruhannya menampung tak kurang dari 3,5 juta buku. Dana hibah yang dimilikinya sebesar 37,6 miliar USD, menjadikannya perguruan tinggi terkaya di dunia.
Padahal, Harvard pada mulanya hanyalah sebuah pesantren atau seminari tempat para calon pendeta belajar. Dalam hal ini, Harvard bukan satu-satunya. Beberapa perguruan tinggi di Amerika Serikat lainnya, seperti Yale dan Princeton, bermula dari pesantren. Kok bisa lembaga pendidikan agama menjadi begitu bagus dan menjadi pusat inovasi yang berpengaruh?
Jawabannya: transformasi. Harvard telah bertransformasi dari pesantren menjadi sebuah perguruan tinggi yang tak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, tapi juga ilmu-ilmu dunia. Bahkan porsi ilmu-ilmu dunia lebih banyak dan lebih diperhatikan ketimbang ilmu-ilmu agama. Meski telah bertransformasi, Harvard tidak menghapus pengajaran agama (Theology). Jurusan agama tetap dipertahankan. Bahkan Divinity School merupakan salah satu jurusan terbaik dalam kajian agama yang dimilikinya.
Pesantren-pesantren di Indonesia bisa belajar dari Harvard, Princeton, atau Yale. Jika mereka mau bertransformasi, mereka akan menyumbangkan sesuatu yang berharga bagi negeri ini. Sejauh ini, pesantren sering dipandang sebelah mata, karena kiprahnya yang minim bagi kemajuan bangsa. Langkah pertama yang harus mereka lakukan adalah kurangi pelajaran agama.
Pesantren akan terus terbelakang selama mereka tak mau bertransformasi dari kecenderungan beragama ke ilmu pengetahuan.
Foto dan artikel oleh: Luthfi Assyaukanie