Cinta, Janji, dan Ilusi
Musuhmu adalah justru orang yang kamu cintai, kata Socrates, pada suatu hari.
Socrates hanya ingin mengingatkan pada kita, bahwa kita bisa bersikap keras, lugas, pada siapa saja, tetapi tidak pada orang yang kita cintai. Kita memang menjadi lemah saat harus menghakimi orang yang kita cintai. Apalagi orang yang paling kita cintai.
Jadi, kalau hukum itu lemah pada kawan dan berat pada lawan, itu bukan hal yang aneh. Kayaknya, hanya Rasulullah yang demi keadilan hukum, berani berjanji akan potong tangan seorang pencuri, meskipun itu putrinya sendiri.
Ya, kita memang bisa melihat kesalahan orang2 yang kita cintai. Tetapi, untuk berani mengakui kesalahan itu, teramat sangat sulit. Alih2 mengakui salah, yang ada malah mencoba mencari pembenaran agar tidak terlihat salah.
Begitulah orang2 yang kita cintai menyandera kita dengan cintanya. Atas dasar cinta, kita dituntut bersikap permisif, longgar, bahkan menjaga dan melindungi. Bila perlu melindungi dari kesalahan!
Begitu pun, ketika kita ditipu oleh orang yang kita cintai. Kita tidak merasa kalau sudah ditipu. Kita tidak jadi marah, meskipun diingkari. Maka, orang yang merasa dicintai, demi kepentingan egonya, cenderung memanfaatkan, mengeksploitasi, orang2 yang mencintainya.
Manusia memang suka menebar janji. Meskipun pada akhirnya terbukti janjinya janji palsu, janji tipu. Tapi, toh, masih saja terus mengumbar janji. Apalagi, yang yang ditipu dan diingkari janjinya, tidak menuntut atau mempermasalahkan. Bahkan, seperti tidak peduli karena cintanya sudah kadung setengah mati. Sepertinya, dia tidak tahu, janji adalah utang, yang suatu saat akan menuntut untuk dilunasi.
Dan bagi mereka yang masih saja terbuai oleh cinta, mereka seperti manusia yang hidup dengan mata terpejam dalam bayangan ilusi. Tanpa sadar, mereka sudah jadi masokhist, karena justru menikmati kepedihan yang diberikan oleh orang yang mereka cintai.
Cobalah lihat dan pahami, orang2 yang kita cintai, dan orang2 yang mencintai kita. Benarkah kita sudah tersandera oleh cinta?
*Ditulis oleh: Wardjito Soeharso