Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Syekh Badiuzzaman An-Nursi


Diceritakan, tanda-tanda kecerdasan Syekh Badiuzzaman Said An-Nursi sudah tampak semenjak Beliau masih usia belia. Ketika Beliau mulai masuk di Kuttab ( Tempat mengaji ), guru-gurunya sudah dibuat terheran-heran oleh daya ingatannya, kecerdasannya, kedalaman ketelitiannya. Dan inilah yang menjadikannya bisa mendapatkan ijazah di usia yang masih 14 tahun setelah mampu menguasai beragam ilmu aqliyah ataupun naqliyah. Bahkan dikatakan, Beliau hafal 80 kitab-kitab induk berbahasa arab di luar kepala di umurnya yang masih terbilang muda, selain tentu sudah hafal Al-Qur’an sebelumnya. Termasuk dari kitab yang dihafalkannya adalah kitab buah karya Syekh Abdul Wahab Tajuddin As-Subki, Jam’ul Jawami’. Kitab tersebut mampu dihafal tidak lebih dari seminggu!

Dengan kehabatannya itu, kealimannya mulai tersebar dan mengungguli para Ulama dizamannya. Maka, terkenal-lah Syekh Said waktu itu dengan sebutan “Sa’id Al-Masyhur”. Beliau lalu pergi ke sebuah kota bernama Tillo, dan tinggal beberapa saat di salah satu zawiyah. Di sana, Beliau menghafal Kamus yang besarnya tiga kali Al-Qur’an, Kamus Al-Muhith namanya, buah karya dari Syekh Fairuz Abadi, Beliau menghafalnya sampai Bab huruf Sin.

Sa’id Al-Masyhur memang benar-benar kehausan akan ilmu pengetahuan. Setelah Ilmu-ilmu agama sudah Ia lahap, kini merambah ke Matematika, Astronomi, Kimia, Fisika, Geologi, Filsafat, dan Sejarah. Sa’id Al-Masyhur dengan kesemua ilmu itu tidak hanya sekedar kenal atau tahu, bahkan penguasaan terhadap kesemua ilmu itu jika diperintahkan untuk mengarang, Ia mampu untuk melakukannya. Dari sinilah, julukan “Badi’uzzaman/ Keajaiban Masa” tersemat di namanya. Sebagai pengakuan dari para Ulama dan Cendekiawan waktu itu akan kecerdasan dan ilmunya yang luas.

Dengan modal ilmu yang luas inilah, kiprah Beliau berlanjut. Bahkan ada yang mengatakan, Beliau adalah Tokoh Pembaharu/ Mujaddid di abad 13. Demikian yang termaktub dalam bukunya Syekh Ahmad Syukriy, “Buhuts Al-I’Jaz Wa At-Tafsir Fii Rasaail An-Nur” dan bukunya Syekh Husainy Ashim, “Shirah Imam Mujaddid : Qabasaat Min Hayati Al-Imam Al-‘Allamah Badi’uzzaman Sa’id An-Nursiy.

Dengan kecerdasan, kecemerlangan, prestasi, kiprah, perjuangannya itu, ada yang penasaran bagaimana orang tua Syekh Badiuzzaman Said An-Nursi dalam mendidik anaknya yang gemilang ini.

Dalam berbagai sumber, ayah dari Syekh Said yang bernama Mirza adalah orang yang sangat wirai, yang sangat berhati-hati dalam persoalan syubhat apalagi yang haram. Beliau tidak ingin ada sebiji gandum yang haram yang masuk di tubuhnya, apalagi ditubuh anak-anaknya. Sangking wira’inya, dikisahkan ketika Beliau kembali dari menggembala, mulut hewan yang ia kembala diikat ; hal ini agar hewan-hewan kembalaannya tidak sembarangan makan rumput di tanah orang.

Sedangkan ketika Ibunya yang bernama Nuriyah ditanya, Sang Ibu menjawab : “Aku tidak pernah meninggalkan sholat tahajjud sepanjang hidupku, kecuali saat-saat udzur syar’i. Dan aku tidak pernah menyusui anakku ( Syekh Badiuzzaman Said An-Nursi ) kecuali dalam keadaan suci berwudhu.

Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa ; anak yang hebat, berasal dari orang tua yang hebat pula. Hebat dalam menjaga makanan untuknya dan untuk keluarganya, terlebih anak-anaknya. Imam Syafi’i menjadi luar biasa seperti itu, pun juga bermula dari kehati-hatian ayahandanya dalam meminta halal buah yang terlanjur ia makan, padahal buah yang ia dapat dari arus aliran sungai. Anak-anak Mbah Maimun menjadi orang sholih dan alim semua, pun juga bermula dari kehati-hatiannya Mbah Maimun dalam mengelompokkan uang, agar untuk keluarga dan anak-anaknya mendapatkan makan dari hasil dagangnya. Dan masih banyak lagi contoh-contoh orang besar lainnya.

Bagaimana ingin mempunyai anak yang sholih dan punya kecerdasan yang luar biasa, kalau bapaknya saja sembarangan dalam makan, bahkan haram-harampun di makan. Apalagi memberi nafkah keluarganya dengan hasil menipu, dengan hasil berbohong saat berdagang, dengan hasil mengurangi timbangan saat menimbang di pasar, dengan hasil rentenir, apalagi dengan hasil curian. Bagaimana bisa membuahkan anak yang serupa dengan Syekh Badiuzzaman An-Nursi?

Tidak hanya dari jalur bapak yang hebat. Pun ibunya juga harus ikut tirakat. Lihatlah sosok tirakat dari ibunda Syekh Badiuzzaman : mendoakan anaknya sepanjang hayat dipertengahan malam, menyusukan anak dengan keadaan suci dzohiran wa bathinan. Ibu-ibu sekarang boro-boro untuk berwudhu lebih dulu, menyusukan anaknya saja sembari main Hp dan IG. Bagaimana anaknya bisa hebat? Dari orang tuanya saja sudah tidak ada niat?

Wallahu A’lam

——

Turoobul Aqdam

Kairo, 8 November 2021