Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Soborno Isaac Bari, Profesor Termuda Sepanjang Sejarah Dunia


Namanya Soborno “isaac” Bari. Seorang anak yg lahir di amrik. Kedua orang tuanya imigran dari Bangladesh. Lahir tgl 9 april 2012, jadi saat ini usianya baru menginjak 9 th saja. Dengan tinggi badan 110 cm, dan berat badan 30 kg an . Namun gelar professor , suka atau tidak, harus sudah disematkan pada anak jenius ini. Karena dia sudah mengajar memberikan kuliah di universitas, bahkan sejak usianya baru menginjak 7 th saja, khususnya pada bidang matematika – fisika. Dan tak salah jika kaum akademisi memberi gelar “God of Mathematics”, alias si dewa matematika pada bocah ini.

Soborno lahir pada keluarga miskin. Sejak menjadi imigran di amerika, ayahnya hanya mampu menjadi seorang sekuriti saja. Hidup mereka pas-pas an, tak jarang hanya untuk bisa makan sehari hari saja, ekonomi mereka kelimpungan. Padahal ayahnya, Rashidul Bari, enggak bodo2 amat. Dia menyandang 5 gelar bachelor dan 2 gelar master. Namun nasib baik tak pernah berpihak padanya. Lamaran ayahnya untuk bisa mengajar di lembaga pendidikan, selalu ditolak dimana mana, sehingga selama 14 th, dia hanya bisa berprofesi sebagai sekuriti saja.

Tuhan ternyata punya rencana yg lain …

Di tahun 2012 itu, Lahirlah seorang Soborno Isaac Bari. Bayi ajaib yang saat umurnya baru 6 bulan, namun sudah mampu bercakap dengan kalimat2 lengkap. Si Balita ini diam2 mengamati ayahnya, yang sering mondar mandir sambil mencorat coret papan tulis, seraya mencari solusi matematis atas berbagai macam hal. Si kecil mulai tahu tentang angka, tentang operasi bilangan, bahkan tentang algoritma dan formula. 

Di usianya yang baru 2 tahun, dia sudah mampu  menjawab pertanyaan tentang matematika , fisika dan kimia. Menguraikannya secara terinci dan tertulis diatas white-board. Saat itulah kedua orang tuanya baru sadar, bahwa anak ini mempunyai kecerdasan jauh diatas anak rata2 seusianya, bahkan mengalahkan orang dewasa sekalipun.

Pada usia 4 tahun, kemampuan dan daya analisanya terhadap aspek kompleksitas meningkat tajam. Persoalan matematika – fisika untuk kelas tingkat doctoral ( S3 ), bisa dilahapnya dengan sangat mudah. Sehingga mengundang decak kagum semua orang. Termasuk presiden Barack Obama yang mengirim surat penghargaan pada bocah balita kecil ini.

Di usia 6 tahun, penguasaan dia pada bidang matematika – fisika – kimia, semakin membuat kalangan akademisi terbengong bengong. Bocah ini bisa menurunkan semua formulasi fisika kedalam turunan matematikanya dengan sangat terang benderang. Sejak mekanika newton, teori cahaya Maxwell, teori relatifitas khusus dan umum Eintein, teori kuantum schrodinger, wave-particel duality dari bohr dan Broglie, dll . Dia urai dengan begitu indahnya, memakai pendekatan anak2 yang layaknya asik bermain-main dengan angka2 dan simbol2 matematika.

Universitas2 terkenal di amerika, membari penghargaan atas kejeniusan si kecil ini. Harvard, MIT , dll, berlomba mewawancara si bocah. Bahkan di usia 7 th dia diundang oleh univ Mumbai India, untuk memberikan kuliah disana. Sekaligus itulah pertama kalinya dia mendapat “honor” bayaran mengajar.

Di usia 7 th itu pula, dia mulai menulis buku , berjudul The Love …

Tulisan dalam buku setebal 70 halaman ini, membuktikan bahwa ternyata bukan hanya IQ nya yang luar biasa, namun juga EQ dan SQ nya sekalian. Dia mengaku sebagai seorang muslim yang sangat mencintai agamanya. Namun juga dia sama sekali tak kehilangan respek dan penghargaan pada pemeluk agama yang lainnya. Bahwa toleransi adalah salah satu tiang pokok saat manusia membangun peradaban lengkap dengan sisi-sisi kemusiaannya.

Medio tahun 2021 ini, dia diundang oleh Da Vinci Institut di Afrika selatan. Yang memberi penghargaan atas prestasinya selama ini. Di depan para professor dan para guru besar, anak berusia 9 tahun ini memberikan ceramahnya yang memukau semua orang. Karena kecakapan berbahasanya, ketajaman analisanya, kepolosan anak-anaknya, dan tentang kebenaran hakiki yang di ungkapkannya. Bahwa sistem pendidikan di dunia ini harus di restorasi … sebuah kritik pedas bagi seluruh institusi pendidikan di muka bumi ini.

Sadar atau tidak, system pendidikan sudah terkotak kotak kedalam struktur bangunan klasiknya. Manusia hanya tinggal mengikuti sang struktur tadi, lengkap dengan system hierarkinya. Disana seolah sudah tercakup antara hukum “do” dan “don’t do”. System pendidikan yang kompleks berubah menjadi system rigid yang serba kaku dan penuh dengan pembatas. Anak2 manusia dipaksa masuk kedalam system robotic ini, seraya menghasilkan siswa cerdas dan tak cerdas ( contoh index prestasi ), melulu berdasarkan variabel2 dan parameter yang sudah di set sejak awal, oleh para pemegang otoritas.

Padahal, bahan baku utama kecerdasan adalah daya kreatifitas dan kebebasan ber imajinasi secara murni. Karena justru hal itulah yang membuat manusia menjadi manusia yg sesungguhnya. Beruntung Soborno mempunyai orang tua yang paham dengan hal ini. Sehingga saat dia berusia sangat muda, minatnya pada angka dan algoritma, tidak dibatasi oleh “ketakutan” melanggar hak2 anak ( konon ), sehingga bakatnya tumbuh dengan sempurna.

Pada sidang di Da Vinci institut itu, Prof Soborno, yang baru berusia 9 tahun ini, mempertanyakan hal itu pada para profesor doctor bangkotan. Apakah system pendidikan sekarang ini sudah cukup bisa mewadahi setiap minat dan bakat para anak2 didik. Ataukah sebaliknya, mencoba meng kotak2 an, dengan mengacu pada anggapan2 awal yang sesungguhnya sudah out of date.

Ruang ruang untuk pengembangan minat dan bakat harus dibuka seluas-luasnya. Untuk bisa melahirkan peserta didik yang berprestasi. Bahkan jauh diluar standar yang mereka canangkan.

Amerika-bangladesh, mempunyai contoh nyata, seorang Soborno yang saat ini di gadang2 untuk mendapatkan hadiah nobel keilmuan.

Indonesia juga sempat punya anak jenius seperti itu. Dia adalah Joey Alexander, pianis jazz yang mencengangkan semua orang. Mulai bermusik piano sejak usia 6,5 tahun. Dan di usianya yang baru 10 th dia memenangkan trophy juara pertama pada festival jazz jam antar pemusik internasioanal di Ukraina. Pada usia 12 th Joey, mendapat penghargaan sebagai the youngest grammy award nominee tingkat dunia.

Seperti Soborno, Joey juga mempunyai ortu yang mampu membuka ruang-ruang kreatifitas dan imajinasi anak sejak usia dini. Namun sayangnya di negeri ini pula, ruang kreatifitas dan imajinasi untuk penyaluran minat dan bakat ini, seringkali di represi sedemikian rupa. Bukan membuka semakin luas, bahkan menyempitkannya.

Kemarin , kegiatan menwa di UNS membawa korban, lalu teriakan bergema dimana mana, bubarkan menwa !. Sebelum itu terjadi hal yang sama pada Mapala, teriakannya juga sama , bubarkan Mapala. Untungnya saat acara susur sungai pramuka di Jogya, dan membawa korban 9 nyawa, teriakan bubarkan pramuka, ternyata tak ada. Sukur Alhamdulillah, karena apa kata dunia jika kepanduan di bubarkan.

Penulis tak bicara tentang menwa atau mapala nya, namun kecongkakan pihak2 yang merasa punya otoritas ( termasuk awam sekalipun ), yang punya kegemaran baru. Yaitu jika ada tikus di lumbung, maka lumbungnya yang harus dibakar, dibumi ratakan. Dengan konon mengatas namakan keadilan. Dan itu terjadi dilembaga pendidikan, yang sudah seharusnya mewadahi setiap minat dan bakat, demi tumbuhnya daya kreatif imajinatif yang semakin mencerdaskan manusia dengan kemanusiaannya.

Padahal untuk membangun lumbung2 itu semua, entah berapa cucuran keringat bahkan darah yang sudah dikeluarkan. Namun bagi mereka yang tak pernah punya pengalaman realitas tentang membangun lumbung, maka menghancurkan lumbung menjadi sangat mudah, karena mereka nihil dengan sense of belonging.

Beberapa waktu yang lalu, penulis membuat artikel tentang “ the book for burning “. Sebuah tanggapan kaum intelektual di majalah Nature, tentang pandangan Rupert Shelldrake, mengenai adanya medan morphogenic ( peningkatan kecerdasan ) yang bisa di akses oleh mahluk yang berspesies sama, melalui morphogenic resonance. Hal ini menabrak dengan telak pandangan pihak biologi klasik yang masik stagnan pada pendapat Darwinism-dawkinism.

Soborno dan Joey, adalah bukti, bagaimana spesies manusia mampu mengakses semua kecerdasan yang diturunkan dari pendahulu mereka dengan cara men down-load nya, dengan cara “begitu saja”.

Sorbono, mengambil kecerdasan hasil pemikiran Issac Newton, Maxwell, Einstein, Schrodinger, Bohr, dll. Sedangkan Joey alexander mengambil kepiawaian music jazz dari Duke Elington, Chick Korea, sampai Theonimus Monk dkk. Hal ini sudah jauh melebihi pandangan materialism dikalangan para bioloog klasik yang serba dibatasi itu.

Bagi my dearest kid, prof Sorbono , penulis sesungguhnya punya harapan besar.

Abad 21 adalah abad fisika superstring – mbrane theory – f theory, dll. yang bukan alang kepalang ruwet persamaan matematikanya. Bahkan konon, formulasi fisika superstring baru sekitar 70% saja selesai, sisanya terlalu kompleks untuk di urai.

Dibutuhkan para dewa matematika untuk secara perlahan menyusun setiap blok formulasinya, dan semoga ananda prof Sorbono, bisa berkontribusi disana.

Ingat ucapan Paclav Havel, mendiang presiden cheko

Another world … its possible

So …

Bravo and congrats the youngest professor

Ditulis oleh: Yat Lessie