Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah KH. Zaini Mun'im (Pendiri dan Pengasuh Pertama PP. Nurul Jadid Paiton) Selamat dari Hukuman Mati Belanda


KISAH KH ZAINI MUN'IM (PENDIRI & PENGASUH PERTAMA PP NURUL JADID) SELAMAT DARI HUKUMAN MATI PENJAJAH BELANDA

Oleh: Holilur Rohman (Santri PP Nurul Jadid, 1999-2005)

Kisah ini disampaikan langsung oleh al Mukarrom KH Zuhri Zaini pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, 4 November 2021. Mohon koreksi jika ada yang keliru.

Beliau bercerita, bahwa Al marhum Kh Zaini hijrah dari Madura ke Probolinggo karena lari dari penjajah belanda.

Dulu KH Zaini ikut berjuang bersama santri di pamekasan melawan penjajah. Hal ini tidak lepas dari fatwa Resolusi Jihad yang disampaikan oleh Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari. Sampai akhirnya KH Zaini lari dari kejaran belanda menuju probolinggo, tepatnya di desa Karanganyar, paiton, Probolinggo. 

Sampai di desa ini, ternyata masih ditemukan oleh penjajah Belanda, lalu ditangkap, dan ditahan di Probolinggo pada tahun 1949. Di bulan-bulan KH Zani ditahan, lahirlah kh Fadlurrahman Zaini.  Ketika KH Zaini ditahan, bagian yang tukang “ngirim” ke beliau adalah  “ke moyan” dengan menggunakan sepeda engkol ke problinggo. 

Menurut putusan penjajah Belanda, KH Zaini harus dihukum mati karena dianggap memberontak. Tapi karena Atas izin Allah, eksekusi hukuman mati digagalkan karena dianggap salah tangkap. Ceritanya, nama KH Zaini di pamekasan berbeda dengan nama beliau di Probolinggo. Menurut KH Zuhri, Ini adalah cara Allah menyelamatkan KH Zaini. KH Zuhri juga sedikit “bercanda”, andaikan KH Zaini dieksekusi mati, tentu saya tidak ada, dan tentu pondok Nurul Jadid ini tidak ada.. 

KH Zuhri Zaini melanjutkan, KH Zaini membangun Pondok Pesantren Nurul Jadid penuh perjuangan. Dulu lingkungan pondok NJ itu hutan. Di sini (NJ), awalnya tempatnya jin dan binatang buas. Saya (menurut KH Zuhri) masih ingat, kalau sudah menebang tebu, banyak babi hutan keluar

Masih menurut KH Zuhri, Sebelum hutan, awalnya lingkungan pesantren ini adalah perkampungan, lalu karena wabah, banyak yang mati dan dikubur di sekitar sana sehingga dikenal dengan istilah “kuburan besar”. Berkat riyadlah dan tirakat, dan dukungan para kyai, seperti kyai Sufyan dan Kyai hasan sepuh  genggong, akhirnya PP Nurul Jadid ini bisa berdiri.

Salah satu dukungan Kh Suffyan adalah beliau membangun pondok-pondok berupa cangkruk dan jalan. Dan ketika membangun cangkruk tersebut, biasanya masih ada sisa-sisa kerangka manusia karena dulu di tempat tersebut adalah kuburan besar. Ketika KH Zaini pulang dari mekkah untuk Haji selama berbulan-bulan (dulu perjalanan haji sangat lama, beda dengan sekarang yang hanya kurang lebih 40 hari), sudah banyak bangunan dan jalan sudah bagus. 

Dari cerita ini KH Zuhri ingin memotivasi kita, bahwa “ORANG YANG SUKSES, BAIK URUSAN DUNIA MAUPUN AKHIRAT, SELALU MELEWATI JALAN YANG BERAT”. Ketika melihat orang sukses, jangan lihat ketika sukses, tapi lihat perjuangannya.

Selain perjuangan KH Zaini di atas, KH Zuhri menceritakan perjuangan beberapa tokoh lainnya:

1. Nabi Muhammad SAW. Sukses berdakwah selama 23 tahun, menjdikan mekkah madinah sekitarnya menjadi orang-orang beriman dan beradab. Tapi jangan hanya lihat suksesnya, lihat penderitaannya, didustakan, dilecehkan, diserang, dan lihatlah perjuangannya yang luar biasa

2. Walisongo, termasuk Syeikh Maulana Ishak, sukses dalam dakwah sampai akhirnya masuk ke kerajaan blambangan banyuwangi, lalu dinikahkan dengan putra Raja, yang akhirnya juga lahir Raden Paku. Kesuksesan ini tidak lepas dari kerja keras, banyak riyadlah dan tirakat, sehingga sekarang banyak petilasan beliau di beberapa tempat, seperti besuki, tamporah, dan di kraksaan

3. Pemilik BCA grup, awalnya pedagang keliling, tapi akhirnya karena kerja keras, jadi Bos

4. Mantan menteri kelautan, Bu Susi, lulus SMP, lalu SMA kelas dua berhenti. Beliau pekerja keras. Awalnya jualan ikan (seperti orang grinting), keliling ke kampung-kampung. Lalu karena sukses, akhirnya jualan ikan keluar daerahnya, sampai ke luar kota, bahkan luar pulau. 

Karena butuh pesawat untuk keluar pulau, akhirnya calter pesawat, sampai akhirnya punya perusahaan pesawat sendiri

Kita sebagai santri secara umum, dan secara khusus santri Pondok Pesantren Nurul Jadid seharusnya mengikuti dauh KH Zuhri dalam hal berjuang ataupun lainnya, dan tentu mengikuti perjuangan KH Zaini dalam membangun Pondok Pesantren Nurul Jadid. 

Kata-kata mutiara yang sering kita dengar dari KH Zaini Mun'im adalah, “orang Indonesia kemudian tidak melakukan perjuangan, dia telah berbuat maksiat”.

Berjuanglah sesuai kemampuan dan passion masing masing. Ada yg berjuang melaui organisasi (seperti NU), ada yg berjuang melalui profesi, melalui harta, tenaga, dan lain sebagainya.