Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Seni dan Estetika


Seni itu estetika. Dia ada karena rasa. Rasa adalah insting yang dikendalikan oleh pikir. Jadi, tentu seni itu muncul dari pikir yang sensitif mengelola insting sehingga bermetamorfosis menjadi rasa sebagai respon indera ragawi terhadap segala yang terjadi di alam lingkungan sekitar.

Hanya pikir yang mampu bebas berkelana tanpa batas bisa mengarahkan rasa sampai ke titik puncak keindahan. Estetika itu terbangun karena tersedia ruang imaginasi yang luas bagi pengembaraan pikir.

Oleh karena itu, kata seni dan indah dalam ruang estetika sangat tergantung bagaimana pikir merespon berbagai keadaan yang ditangkap oleh indera ragawi sebagai sesuatu yang dirasakan.

Contoh sederhana. Ranting-ranting kering yang disusun sembarangan ditaruh di atas meja. Bagi orang yang pikirnya mampu bebas berimaginasi, melihat ranting-ranting kering itu matanya mengirim sinyal ke otak sebagai sesuatu yang unik dan otak mengarahkan respon mata ke seluruh indera ragawi sebagai stimulan yang indah dan menyenangkan. Maka, jadilah tumpukan ranting kering di atas meja itu sebagai sesuatu yang indah, bernilai estetika, dan disebutnya sebagai karya seni.

Sebaliknya, bagi orang yang pikirnya tidak memiliki ruang pengembaraan (imaginasi) yang bebas dan luas, melihat tumpukan ranting kering di atas meja, matanya merespon hanya sebagai tumpukan sampah yang tidak memicu rasa estetika. Apa sih indahnya ranting-ranting kering itu?

Penulis: Wardjito Soeharso, 27.09.2021 - 05:10