Hukum Berdzikir, Membaca, dan Menyentuh Al-Quran
Alhamdulillah beberapa hari lalu, waktu ngaji bareng Adzkar Nawawi, menemukan faidah luar biasa, yakni tentang: “Hukum Dzikir, membaca dan menyentuh al-Qur’an.” Agar bisa bermanfaat dan melekat di hati, saya ketik secara ringkas, semoga bermanfaat bagi saya dan pembaca budiman. Sebagai berikut:
Bagi yang hadas kecil (Seperti kentut dan bersentuhan dengan lawan jenis) dan hadas besar (Junub, haid, nifas); Dzikir sebatas tasbih, tahmid, tahlil, takbir, shalawat, doa dll. ulama sepakat membolehkan dengan hati ataupun lisan.
Namun, jika dzikirnya berupa membaca Qur’an dengan tanpa menyentuh Mushaf, di perinci hukumnya:
1. Hadas kecil: Boleh membaca Qur’an tanpa massu/menyentuh Qur’an (Seperti waktu Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallama dengan santai nderes Qur’an tanpa menyentuh, sembari bersandar kepada Sayyidatina Aisyah yang lagi haid)
2. Hadas besar: Haram membaca Qur’an, lebih-lebih menyentuhnya!
Catatan penting! Hukum massu/menyentuh, dengan qiraah/membaca sangat beda. Sebab ada orang yang membaca tanpa menyentuh seperti melihat mushaf dari kejauhan atau menghafalnya.
Dalam segi hukum, lebih ringan qiraah daripada massu.
Contoh: Ada ulama yang membolehkan membaca Qur’an (tanpa massu) bagi orang haid, seperti dalam ibarat majmuk ini:
مجموع على شرح المهذب الجزء الثانى ص : 437 - 438 دار الفكر
وأما قراءة القرءان فحرام فى غير الصلاة إلا على القول الضعيف الذى حكاه الخراسانيون عن القديم أنها حلال للحائض هكذا قاله الاصحاب واختار الدارمى فى كتاب المتحيرة والشاشى جواز القراءة لها والمشهور التحر يم
Sedang hukum menyentuh Qur’an bagi hadas kecil ataupun besar, semua ulama madzhab empat mengharamkannya. Jikalau ada, bisa di pastikan keluar dari madzhab empat. Kudu di jauhi! Ben duso-duso dewe 😅
Anak kecil kok junub baca Qur’an?! Khilaf! Pendapat yang tershahih, boleh! Sebagaimana khilafnya hukum massu/menyentuh anak kecil untuk kepentingan belajar.
Orang kafir membaca Qur’an?!Boleh! Jika di harapkan masuk Islamnya. Sedang menyentuh mushaf, haram! Sebab penghormatan pada mushaf lebih diutamakan/di kuatkan.
Bagi yang hadas besar; Membaca Qur’an di dalam hati tanpa melafadzkan, boleh! Begitupula melihat mushaf tanpa menyentuhnya lalu membaca di dalam hati.
Dan bagaimana kalau Qur’an yang dibaca adalah yang biasa di buat doa sehari-hari?! Seperti Innalillah wa inna ilahi raajiun, Subhanalladzi sahhara lana hadza wa maa kunna lahu muqrinin, Rabbana atina fiddunya hasanah, Subhanallah, alhamdulillah dll. Hukumnya boleh! Selama tidak ada niatan membaca Qur’an!
Seperti halnya hukum bacaan Qur’an yang biasa di jadikan doa. Adalah hukum bacaan Qur’an yang sudah di nusakh. Atau bacaan Qur’an yang bisa di jadikan alat perbincangan, seperti: Khudzil Kitaab Bi Quwwah, Udzkhuluuha bisalaamin aminin dll. Selama tidak ada niatan membaca Qur’an, boleh!
Wallahu A’lam bis-Shawaab
Dikutip dari Adzkar Nawawi dan Futuuhatur-Rabbaniyyahnya Imam Ibnu ‘Alan.
Artikel ini ditulis oleh: Gus Robert Azmi