Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Akting, Tubuh yang Abai Tentang Luka dan Lupa Bahagia


Menjadi aktor adalah watak dasar manusia. Buncahan simbol dari seluruh wadag, hanyalah bahasa untuk memahamkan diri tentang ‘aku’ tentu saja aku yang hakiki, yang hanya sebuah konsep, yang hanya bisa dipahami oleh seluruh tubuh dan yang mengikatnya. ucapan, gerak, ekspresi dan lainnya.

Kehidupan tentang ‘aku’ hanyalah sebuah konsep-konsep liar, independent, mandiri dan bersifat dalam nan sunyi. Jangankan orang lain yang di luar tubuh, ‘aku’ yang sebagai subjek kadang tidak mengenal ‘aku’ yang sebagai objek. Maka proses pengenalan ‘aku’ yang subjek dan ‘aku’ yang objek kadang ‘membahayakan’ karena sang ‘aku’ yang subjek harus masuk ke dalam sedalam-dalamnya, bahkan mengejar hingga masuk atau keluar pada atau dari ruang dan waktu dalam ketaksadaran.

Dalam teater,  teater ESKA khususnya, sejauh pengalaman yang saya pernah ikut proses berlatih menjadi aktor yang hanya seujung kuku, menjadi aktor adalah memperkenalkan sang ‘aku’ yang sudah mensubjek dari hasil dialog-dialog imajinatif dengan ‘aku’ yang objek.

Mungkin saja ini cara baca saya tentang proses latihan akting di Sanggar Teater ESKA yang salah, tapi setidaknya itu yang saya baca. Kenapa itu terjadi? karena dalam proses di Sanggar Teater ESKA sesungguhnya tidak ada tuntutan dari Sutradara untuk menjadi orang lain. Teks naskah hanyalah pintu tafsir tahap pertama untuk menemukan makna pada sang ‘aku’ yang objek sebagai proses meaning tahab selanjutnya.

Sehingga kekuatan hakiki dari aktor seesungguhnya adalah bagaimana bisa menemukan makna hakiki dari sang ‘aku’ yang menjadi objek bukan teks naskah semata. Inilah yang saya sebut sebagai manusia murni. Setiap manusia memelihara manusia murni pada dirinya, proses spiritualitas, berkesenian dan berfikir adalah usaha memunculkan manusia murni pada dirinya. Bahkan pada tahap tertentu konon dalam proses spiritualitas ‘aku’ sang subjek yang merupakan sebuah kesadaran dibuang dan diabaikan, tentu tidak dalam berkesenian dan berfikir. Karena berkesenian dan berfikir memerlukan konsensus sosial yang membutuhkan kesadaran agar ekspresi bahasa dapat diterima oleh liyan.

Ah masak iya berteater saja serumit itu? Mmmh..bisa saja tidak serumit itu, tapi pertanyaan yang muncul, kenapa dalam keaktoran kontemplasi menjadi penting?, olah rasa harus dilakukan? tidak sekedar menghafal naskah saja lalu seluruh badan wadag tubuh mengikuti bentuk dan alur yang sudah disiapkan oleh naskah begitu saja? Ya, Itu karena dalam kontemplasi mempertemukan tafsir teks naskah dengan ‘aku’ yang objek yang terus dijaga oleh ‘aku’ yang subjek dengan penuh kesadaran.

Ketika pertemuan keduanya berhasil secara maksimal dan melahirkan ekspresi tubuh maka itulah akting. Akting adalah memaksimalkan perangkat tubuh untuk membahasakan yang dalam. Maka dia menjadi kuat, magis dan mungkin mistis.

Kalau sudah terjadi kesepahaman antara makna teks dan makna ‘aku’ sang objek yang dijaga secara sadar oleh ‘aku’ sang subjek, maka tubuh akan takhluk dari dalam.  Tubuh akan abai terhadap luka, dia lupa dengan bahagia. Yang ada adalah hasrat untuk berekspresi.  Wallahu a’lam.

Penulis: Sachree M. Daroini