Sakit
Bila eyang atau simbah sakit, anak dan cucu gantian menjaga dan menemani. Anak dan menantu masih telaten meladeni. Cucu lebih banyak mengeluh rewel minta dibebaskan dari tugas menjaga dan melayani.
Bila orang tua atau bapak ibu sakit, anak berusaha mengobati dengan penuh empati. Semua kebutuhan berusaha dicukupi. Yang penting orang tua merasa dihargai, dihormati, ditempatkan pada posisi tertinggi.
Bila anak sakit, orang tua atau bapak ibu akan berjuang demi kesembuhan. Tak peduli ada uang atau tidak, yang penting sang anak tertangani. Bila anak sembuh, biaya tak perlu jadi hitungan. Harta habis tak mengapa. Tetap bahagia bila anak sehat bugar kembali.
Bila eyang atau simbah sakit, anak cucu segera berkumpul. Siap melihat eyang mati seperti ritual mantra dalam doa untuk mempercepat mengiringi eyang pergi. Apalagi, bila biaya pengobatan cukup tinggi. Bila eyang atau simbah mati, semua menyatakan ikhlas melepaskan beliau pergi.
Bila orang tua atau ayah ibu sakit, anak pasti sigap bergerak untuk menjaga dan merawat sampai sembuh kembali. Bila harus dirawat di rumah sakit, anak berunding bergiliran menunggui untuk melayani. Tapi, bila sudah menyangkut biaya yang ternyata di luar batas kemampuan, anak2 akan mulai saling berhitung porsi kontribusi dan itu bisa jadi sumber masalah bagi keluarga. Bila ayah atau ibu mati, anak2 yang belum mapan hidupnya merasa kehilangan tempat bergantung. Rasa duka bisa jadi luka menganga yang lama sembuhnya.
Bila anak sakit, orang tua tidak berpikir lain selain bagaimana anak sehat kembali. Soal biaya, orang tua tidak peduli. Walau semua aset yang dimiliki habis tidak dipikir lagi. Bila anak mati, orang tua merasa jadi orang paling nelangsa di dunia. Kematian anak bisa jadi trauma menakutkan sepanjang hidupnya.
Bagaimana kalau suami sakit? Suami ternyata sangat manja pada istri. Dia ingin dirawat diladeni. Banyak mengeluh hanya untuk menarik perhatian istri. Akan diam dan tenang bila istri di sampingnya sambil mengelus-elusnya penuh kasih sayang. Bila suami mati, istri jadi pihak paling berduka. Dan demi menjaga kesetiaan, banyak istri tegar untuk seterusnya mandiri. Tidak mau kawin lagi.
Sebaliknya, bila istri sakit, suami lebih banyak bingung dan gelisah sendiri. Serba ragu bagaimana bersikap merawat dan meladeni. Istri lebih banyak diam bila sakit. Merasa bersalah karena suami dan anak tidak terurus dan rumah jadi berantakan. Dan, kalau istri mati, suami terlihat tegar dan kuat melepas istri pergi. Tapi, banyak suami yang ternyata tidak mampu bertahan lama hidup sendiri. Baru beberapa bulan istri mati, dia sudah menikah lagi.
Apa yang bisa diambil makna dari cerita ini? Silakan dicerna sendiri! Begitulah kajian ustadz dalam pengajian Minggu pagi. Enteng, menarik, namun perlu perenungan yang dalam untuk mengunyah apalagi menelan isinya.
Ditulis oleh: Wardjito Soeharso
Bila orang tua atau bapak ibu sakit, anak berusaha mengobati dengan penuh empati. Semua kebutuhan berusaha dicukupi. Yang penting orang tua merasa dihargai, dihormati, ditempatkan pada posisi tertinggi.
Bila anak sakit, orang tua atau bapak ibu akan berjuang demi kesembuhan. Tak peduli ada uang atau tidak, yang penting sang anak tertangani. Bila anak sembuh, biaya tak perlu jadi hitungan. Harta habis tak mengapa. Tetap bahagia bila anak sehat bugar kembali.
Bila eyang atau simbah sakit, anak cucu segera berkumpul. Siap melihat eyang mati seperti ritual mantra dalam doa untuk mempercepat mengiringi eyang pergi. Apalagi, bila biaya pengobatan cukup tinggi. Bila eyang atau simbah mati, semua menyatakan ikhlas melepaskan beliau pergi.
Bila orang tua atau ayah ibu sakit, anak pasti sigap bergerak untuk menjaga dan merawat sampai sembuh kembali. Bila harus dirawat di rumah sakit, anak berunding bergiliran menunggui untuk melayani. Tapi, bila sudah menyangkut biaya yang ternyata di luar batas kemampuan, anak2 akan mulai saling berhitung porsi kontribusi dan itu bisa jadi sumber masalah bagi keluarga. Bila ayah atau ibu mati, anak2 yang belum mapan hidupnya merasa kehilangan tempat bergantung. Rasa duka bisa jadi luka menganga yang lama sembuhnya.
Bila anak sakit, orang tua tidak berpikir lain selain bagaimana anak sehat kembali. Soal biaya, orang tua tidak peduli. Walau semua aset yang dimiliki habis tidak dipikir lagi. Bila anak mati, orang tua merasa jadi orang paling nelangsa di dunia. Kematian anak bisa jadi trauma menakutkan sepanjang hidupnya.
Bagaimana kalau suami sakit? Suami ternyata sangat manja pada istri. Dia ingin dirawat diladeni. Banyak mengeluh hanya untuk menarik perhatian istri. Akan diam dan tenang bila istri di sampingnya sambil mengelus-elusnya penuh kasih sayang. Bila suami mati, istri jadi pihak paling berduka. Dan demi menjaga kesetiaan, banyak istri tegar untuk seterusnya mandiri. Tidak mau kawin lagi.
Sebaliknya, bila istri sakit, suami lebih banyak bingung dan gelisah sendiri. Serba ragu bagaimana bersikap merawat dan meladeni. Istri lebih banyak diam bila sakit. Merasa bersalah karena suami dan anak tidak terurus dan rumah jadi berantakan. Dan, kalau istri mati, suami terlihat tegar dan kuat melepas istri pergi. Tapi, banyak suami yang ternyata tidak mampu bertahan lama hidup sendiri. Baru beberapa bulan istri mati, dia sudah menikah lagi.
Apa yang bisa diambil makna dari cerita ini? Silakan dicerna sendiri! Begitulah kajian ustadz dalam pengajian Minggu pagi. Enteng, menarik, namun perlu perenungan yang dalam untuk mengunyah apalagi menelan isinya.
Ditulis oleh: Wardjito Soeharso
