Keistimewaan Lebah


“Dadio santri, koyo tawon; jadilah santri, seperti tawon/lebah” adalah salah satu ungkapan yang sangat masyhur dikalangan santri. Rata-rata, menafsiri dengan: Tidak akan melawan kalau tidak digarahi/diganggu. Tapi, apakah hanya sesimpel itu para Kyai dulu mengucapkannya? O, jelas tidak. Sebab banyak hal yang terkandung luas dalam filosofi tawon, selain khasiat madu tentunya.

Dimulai dari sabda Nabi Shallallahu Alayhi Wasallama:

الذباب كله في النار إلا النحل
“Semua jenis Dzubab/lalat di Neraka, kecuali tawon”

Imam az-Zujjaj berkata: Kenapa lebah dibahasa arabkan dengan nahlah? Karena Allah Ta’ala memberikan pemberian (Nahala) pada manusia berupa madu. Cukuplah sebagai bukti kemulyaan tawon, dengan firman Allah Ta’ala:

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia’”. (an-Nahl 68)

“Coba kalian angan-angan,” kata Imam Daamiri, “saking sempurnanya ketaatan lebah atas perintah Rabbnya. Mereka hanya membuat sarang di tiga tempat diatas. Dan coba lihat, sarang mereka, terbanyak berada di gunung, lalu pepohonan, dan kemudian rumah. Persis dengan urutan yang Allah firmankan. Dan coba sekali lagi pikir. Ketika Tuhannya memerintahkan untuk membuat rumah dulu baru berburu bahan madu. Mereka buat rumah dulu, baru kemudian mencari bahan madu.”

Imam Ghazali menambahi, “Lihat lebah. Bagaimana mereka menuruti perintah Allah dengan membuat rumah di pegunungan. Dan bagaimana mereka mengeluarkan air liur/salivanya menjadi lilin dan madu. Satunya untuk penerang dan lainnya sebagai penyembuh.”

Lalu Imam Daamiri menyambung ucapan pengarang kitab Ihya’ itu, “Kemudian. Kalau kalian mau mengangan-angan keajaiban mereka: mulai cara mengambil bunga, cara menjaga mereka dari najis dan kotoran, ketaatan mereka pada pemimpinnya, pemimpin mereka yang adil, hingga kok ada dari salah satu mereka membawa najis dipintu sarang langsung dikeroyok mati. Maka, ketakjuban kalian akan terobati, terlebih untuk bergaul dan membaiki kawan kalian. Itu, andai anda semua punya mata hati, terbebas dari kesusahan akibat perut dan farjimu, serta kekangan syahwatmu”

“Dan lihat cara mereka membuat rumah. Segi enam! Tak ada rumah tawon bundar maupun kotak apalagi segi lima. Rahasianya?! Karena dengan bentuk segi enam, mereka bisa memaksimalkan tempat yang ada tanpa sia-sia dengan bentuk mereka yang bundar memanjang” pungkas Imam Daamiri.

Untuk Hadis? Bianyak sekali. Hawong Qur’an saja ada ulasan khusus, yakni surat an-Nahl, je. Selain diatas, beberapa diantaranya adalah:

المؤمن كالنحلة تأكل طيبا وتضع طيبا, وقعت فلم تكسر ولم تفسد

“Mukmin --sejati-- seperti lebah. Ia makan barang baik dan mengeluarkan yang baik. Ketika jatuh tidak hancur dan rusak”

إن مثل المؤمن كمثل النحلة إن صاحبته نفعك, وإن شاورته نفعك, وإن جالسته نفعك وكل شأنه منافع, وكذلك النحلة كل شأنها منافع

“Sungguh! Perumpamaan Mukmin --sejati-- seperti tawon: Ketika kau menjadi kawannya, maka akan bermanfaat bagimu. Waktu kau ajak musyawarah, ia juga akan memberikan manfaat bagimu. Dan andai --hanya-- kau ajak duduk santai, iapun bermanfaat padamu. Setiap hal yang ada padanya bermanfaat. Begipula lebah, setiap detil darinya bermanfaat.”

Dan sebagai pamungkas, akan hamba kutipkan dawuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu:

وفي مسند الدارمي, عن علي بن أبي طالب رضي الله تعالى عنه, أنه قال: كونوا في الناس كالنحلة في الطير إنه ليس في الطير شيء إلا وهو يستضعفها, ولو تعلم الطير ما في أجوافها من البركة, ما فعلت ذلك بها. خالطوا الناس بألسنتكم وأجسادكم وزايلوهم بأعمالكم وقلوبكم.
فإن للمرء ما اكتسب, وهو يوم القيامة مع من أحب.

“Jadilah diantara manusia (Ketika bermasyarakat) seperti lebah yang berada di dalam perut burung. Karena burung pasti melemahkan/melahap lebah. Namun, andai burung itu tahu apa yang ada dalam perutnya, yang berupa berkah. Maka, ia tidak akan melakukan tindakan tersebut (Memakan lebah). Dengan mulut dan jasad kalian, bergaullah dengan manusia. Namun, pisahi mereka dengan amal dan hati kalian. Karena setiap manusia, akan menuai perbuatannya. Dan kelak, dihari kiamat. Ia bersama orang yang ia senangi atau cintai.”

Wallahu A’lam bis-Shawaab.
Diambilkan dari kitab Hayatul Hayawannya Imam Daamiri Bab an-Nahl. (Kyai Robert Azmi)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...