Wakil Tuhan di Dunia

Siapakah wakil Tuhan di dunia?  Wakil Tuhan di dunia adalah simbol dan teks. Simbol dan teks itu bisa berupa apa saja. Dia bisa berwujud lambang-lambang, syair lagu, ayat, pemimpin agama, organisasi agama, dan lain-lain. Simbol dan teks adalah perantara Tuhan pada pikiran manusia. Bahkan kata “Tuhan” sendiripun adalah perantara dari konsep zat agung penguasa alam raya bagi pikiran manusia. Tuhan dimaknai dalam keterbatasan pikiran manusia. Kitab suci dianggap suci karena pikiran manusia. Dia tidak dengan sendirinya suci tanpa pikiran manusia yang menganggapnya suci. 

Dengan simbol dan teks, manusia merasa menemukan Tuhannya. Memang  hanya simbol yang bisa menggapai keberadaan Tuhan menurut benak manusia. Ketuhanan menurut manusia akan selalu terbatas pada akal budi manusia. Itu mengapa sepanjang sejarah, “Tuhan” bisa berbeda-beda. Dia bisa berupa dewa-dewa, penunggu gunung, pencipta bencana di dunia, atau sosok penuh kasih yang melindungi manusia. Makna tentang Tuhan sepanjang zaman tergantung pada kualitas imajinasi manusia saat itu. Pemutlakan ajaran terjadi ketika pemaknaan itu dikunci dalam pengertian tertentu sehingga ajaran lain dianggap salah. Penguncian makna itu disertai pemutlakan hukuman dan anugerah pasca kematian semacam surga dan neraka, seolah manusia memahami entitas sesudah kematiannya.

Penghormatan pada Tuhan dilakukan juga dengan perantara simbol dan teks. Doa, ritual, lagu, ayat, tanda salib, dll semuanya bergerak dalam wilayah simbol. Simbol yang menurut manusia akan menuju pada eksistensi Tuhan. Tuhan hadir dalam pikiran manusia dengan perantaraan symbol. Relijiusitas adalah hasil dari pemaknaan terhadap simbol-simbol yang diyakini manusia mampu melahirkan sensasi relijius.  Orang terharu karena mendengar lagu indah, membaca syair-syair indah, dan sejenisnya adalah perkara operasi simbol-pemaknaan relijius.

Penghinaan juga terjadi pada wilayah simbolik. Penolakan tanda-tanda yang dianggap suci, perusakan rumah ibadah, dan seterusnya, semuanya terjadi pada wilayah simbol. Simbol dirusak karena simbol memiliki signifikasi pada keimanan manusia pemeluk kepercayaan tertentu. Jadi jika simbol agamamu dirusak, harusnya enteng saja. Lakukan demistifikasi atau pemaknaan ulang terhadap simbol itu. Selesai urusan di kepalamu.

Jadi ini perkara semiotik? Tentu saja! Yang dipuja dan dihina adalah simbol. Orang bisa meledek orang lain yang menyembah patung. Tetapi si peledek lupa bahwa dia juga mangagungkan simbol-simbol yang setara dengan patung. Jadi siapakah Tuhan jika manusia tidak mengenal simbol? Gusti Allah iku tan kinaya apa, kata orang Jawa. Tuhan itu tidak bisa diibaratkan dengan apa saja. Selama bentuknya simbol, itu adalah urusan kepalamu dan kepala sesamamu sendiri.

Penulis: Redemptus Kristiawan
Link FB: facebook.com/rkristiawan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...