Kesederhanaan Berpikir ala Gusdurian
Sambang ke Yogya tidak lengkap sebelum menjumpai kawan-kawan GUSDURian. Banyak kawan-kawanku merasakan hal yang sama, meski Mereka tidak terafiliasi dengan ormas NU (Nahdlatul Ulama), Mereka merasa menemukan wadah bersama di Komunitas GUSDURian. Jaringan besutan Mba Alissa Wahid (Putri pertama Gus Dur) ini memang terbuka untuk siapa saja. Siapapun yang ingin melanjutkan perjuangan dan pemikiran Gus Dur, tidak terbatas agama suku dan etnis, bisa bergabung di komunitas ini. Apa sih gagasan utamanya ?. Wah, aku kok tak sanggup menjelaskan ya, otakku berasa terlalu berat untuk merangkumnya. Yang pasti, Komunitas asyik ini berisi anak-anak muda keren, cerdas, terbuka, asyik diajak ngobrol dengan beragam topik. Kalo mau bicara soal politik kebangsaan, demokrasi, ekonomi, bisa bertemu dengan si A. Bicara soal isu relasi gender, psikologi, isu rumah tangga Bahagia, radikalisme bisa ngobrol dengan si B, tapi Mba Alissa Wahid adalah salah satu pakarnya. Saya pernah mampir ke rumahnya di Yogya. Kebetulan hanya ditemui oleh Suami Mba Alissa dan beberapa kawan GUSDURian. Dengan hangat Mas Erman menyajikan kami kopi, teh, nasi goreng, telor ceplok. Kami menyantap habis sambil ngobrol di teras belakang rumah sederhana yang dipenuhi buku dan pekarangan cukup luas. Saya tidak menemukan “Istana Megah” di rumah putri mantan Presiden RI ini.
Aku beruntung bisa bekerja bareng dengan kawan-kawan GUSDURian yang unik ini dalam beberapa tahun terakhir. Kesanku, pada setiap 3 bulan menjelang batas akhir penyelesaian program, aku harus mencurahkan energi untuk kerja bareng agar dana bisa terserap habis dengan berbagai kegiatan, tentu tetap dengan transparan dan auditable. Misalnya, rencana dua kali workshop di hotel dalam satu tahun, realisasinya bisa 7 kali pertemuan bertempat di Aula PC NU, Aula Asrama Haji, Aula PKK dst. Suatu saat, aku mengajak Direktur Programku hadir dalam acara GUSDURian di sebuah Aula tanpa AC dan penuh asap rokok, tapi lengkap dengan peralatan untuk bikin kopi dan teh. Saat makan siang tiba, panitia membagikan makan siang berbentuk nasi bungkus kertas cokelat berdaun pisang didalamnya. Tempe, bakwan, tahu goreng sambel bawang kecap, cabe rawit hijau tersaji secara terpisah di piring yang tertata rapi diatas meja. Kami duduk di kursi melingkar di depan Aula. Direkturku bolak balik melihat kebawah kursi, aku tanya; “Ada apa …?”.
Dia menjawab: “kayaknya ayam saya jatuh saat membuka bungkus nasi tadi sambil buru-buru..”
Aku bilang: “di bungkusan nasi itu memang tidak ada ayam, karena sudah ada telor dan tempe orek plus sayur Nangka, kalo mau ada tambahan tempe, tahu atau bakwan, tuh ada di piring depan…”
“Oh begitu….” Kami tertawa bareng. Permakluman Direkturku memang terbuka lebar, meski Dia lama bermukim di Negri kaya tapi santai saja.
Ini salah satu sisi unik GUSDURian. Aku pernah bertanya “kenapa tidak bikin acara di Hotel sih Gus…”. Mereka menjawab ringan; “nanti kawan-kawan malah kademen (kedinginan) dan bisa masuk angin Mas. Jadi tidak produktif”.
“Kedinginan atau gak bisa sambil merokok…” tanyaku lagi
“Ya…dua-duanya lah he he he…”.
Kawan-kawan GUSDURian tidak hendak membatasi kenikmatan dan produktivitas kerja Mereka hanya pada kenyamanan tempat dan kemewahan makanan. Batasan sempit itu dibuang jauh-jauh dari pola pikirnya. “Kalo kami bisa bekerja di AULA PKK yang jaringan internetnya bagus, kipas anginnya bisa berputar hingga bisa mengahalau asap rokok yang terus mengepul, mengapa harus di Hotel ?. Kami tetap bayar uang sewa kok, yang manfaatnya bisa langsung dinikmati oleh Ibu-bu PKK, tukang bersih-bersih Aula, tukang kopi, tukang makanan di sekitarnya”. Panjang penjelasan Gus Muhib.
Obrolan kami di Warung Kopi Bukan Luwak Sleman sore itu membahas berbagai topik. Salah satunya soal dampak krisis akibat Covid 19 di Yogya, dan tentu sedikit diskusi isu hangat menjelang mukmatar NU di Lampung 2021 ini. Seru banget pokoknya !. Pada akhir obrolan, Gus Muhib mengeluhkan soal banyaknya orang dagang kopi dan makanan di Yogya:
“Lha iya to Mas, semua orang kok buka waroeng kopi, sementara yang suka ngopi di Warung itu kan para Mahasiswa dan wisatawan dari luar Yogya. Ada warung yang umurnya 1 tahun lalu bubar. Apa gak pada rugi ya…”
Jeng Nety; “bubarnya warung itu bukan karena tidak ada untung lho Gus... Mana ada orang jualan kok tidak ada untungnya. Bangkrut itu akibat pengelolanya tidak mampu menjaga keseimbangan antara keinginan dan kenyataan. Serakah, pengen cepet untung gede nah… itu bagian dari itu”.
Gus Muhib; “Saya tetep suka sih kalo banyak orang membuka usaha makanan dan kopi di Yogya Mas….dengan cara itulah uang simpanan orang-orang kaya bisa keluar dari Bank. Banyak orang to bisa kecipratan rejeki dari usaha warung itu… Kalo uang orang-orang kaya itu hanya tersimpan di depostio, yang meraup untung besar kan hanya pemilik Bank to Mas….”
Kesederhanaan berpikir mak jleb ala GUSDURian
Ditulis oleh: Ahsan Jamet Hamidi