Peran Orang Tua dalam Relasi Suami-Istri



PERAN ORTU DALAM RELASI SUAMI - ISTRI - Oleh Dr. Holilur Rohman, M.HI, Direktur Samara Center.

Suatu ketika Hp saya berbunyi sebagai tanda ada pesan WA masuk. Seperti biasa, isinya ttg salah satu istri yg konsultasi ke saya karena orang tuanya menyuruhnya untuk bercerai dengan suaminya. Salah satu alasannya karena suaminya mempunyai masalah dalam hal finansial, ekonominya sulit.

Persoalan ini ternyata tidak hanya dialami 1 orang, tapi beberpa orang. Setidaknya ada 3 orang istri yg konsultasi ke saya dengan persoalan yang serupa.

Lalu pertanyaannya, apa yg harus dilakukan istri tersebut? Mematuhi perintah orang tuanya, atau tetap bersama suaminya karena dia masih sayang kepada suaminya?

Ayo kita renungkan surat alBaqarah ayat 232. Allah berfirman: 

Allah SWT berfirman:

وَاِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَآءَ فَبَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ اَنْ يَّنْكِحْنَ اَزْوَاجَهُنَّ اِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ  ؕ  ذٰ لِكَ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ  ؕ  ذٰ لِكُمْ اَزْکٰى لَـكُمْ وَاَطْهَرُ  ؕ  وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
"Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai idahnya, maka jangan kamu halangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari Akhir. Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: Ayat 232)

Syeikh Tahir bin Asyur menjelaskan bahwa khitab pada ayat طَلَّقْتُمُ adalah suami yang mentalak istrinya, sedangkan تَعْضُلُوْهُنَّ adalah para wali perempuan.

Pada ayat tersebut Allah dengan Tegas MELARANG PARA WALI (orang tua, dll) untuk menghalangi si "istri" kembali atau menikah lagi dengan mantan suami yang telah mentalaknya jika di dalam hatinya masih ada rasa cinta kasih sayang dan kerelaan antara keduanya (suami istri).

Ibnu Asyur menambahkan, illat (alasan hukum) larangan menahan itu adalah karena antara suami dan istri masih ada kerelaan dan kasih sayang. Oleh karena itu, jika antra suami istri tidak ada kerelaan, bahkan jika keduanya bersatu kembali dalam ikatan pernikahan akan menimbulkan bahaya dan kemudaratan untuk keduanya atau salah satunya, maka Wali berhak menahan dan melarang anaknya (istri) untuk kembali kepada mantan suaminya.

Satu hal yang perlu dicermati pada ayat tersebut, konteks pelarangan ini adalah ketika suami telah menceraikan istrinya (وَاِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَآءَ).

Apa maksudnya? Dalam konteks suami dan istri yang telah berpisah saja ada larangan bagi Wali untuk menahan / melarang anaknya (istri) kembali kepada mantan suaminya, apalagi jika suami dan istri masih dalam status ikatan suami istri sah, MAKA WALI (ORANG TUA) DILARANG KERAS "IKUT CAMPUR" dan MENGHASUT ANAK PEREMPUANNYA UNTUK BERCERAI DG SUAMINYA, apalagi si anak perempuannya (istri) masih sangat mencintai suaminya.

Bagaimana jika suami mengalami kesulitan ekonomi? Entah sulit cari kerja, berdagang rugi terus, di PHK, atau persoalan ekonomi lainnya. Seharusnya orang tua yang baik bukan "ambil cara pintas" menghasut anaknya untuk bercerai, apalagi sampai mencarikan calon suami baru yang dianggapnya lebih tajir dan mapan.
Orang tua yang baik seharusnya ikut membantu persoalan ekonomi anaknya dg cara yang terbaik, bukan malah membuly dan mencaci maka anak dan menantunya. Yang terjadi di kasus nyata sebagaimana curhatan masyarakat, orang tuanya justru "mencaci maki" menantunya karena dianggap tidak becus menafkahi anak perempuan yang jadi istrinya, dan juga cucu2nya.

Orang tua yang baik seharusnya ikut membantu mencari akar persoalan ekonomi anak dan menantunya, membantu mengarahkan, membimbing, kalau perlu menyediakan modal usaha, memberi informasi lowongan pekerjaan, dan tentunya memberi suport moril agar bisa terus semangat menghadapi persoalan ekonomi keluarga.
Bagi pasangan suami istri yang baru menikah, memang persoalan ekonomi kerap menjadi hantu menakutkan bagi keduanya. Orang tua yang baik seharusnya ikut membantu sewajarnya dan secukupnya agar ekonomi anaknya menjadi stabil.

Begitu juga sebagau anak dan menantu yang baik, jangan hanya hidup di bawah ketika orang tua atau mertua. Anak dan menantu wajib berusaha sekuat tenaga dan menggunakan kecerdasaan otak juga untuk menstabilkan ekonomi keluarga. 

Bantuan yang diberikan orang tua sifatnya hanya sementara, bukan selamanya. Suami istri harus mandiri, tidak boleh mengandalkan pemeberian orang tua dan mertua.

Prinsip tersebut bukan berarrti tidak boleh bekerja atau membantu usaha orang tua. Jika hal tersbut dibutuhkan, maka tidak ada masalah. Malah terkadang orang tua senang jika anak2nya bisa meneruskan usaha orang tuanya. Sebagaimana arahan Alquran dan hadis Nabi, BERMUSYAWARAHLAH antara suami istri, dan jika diperlukan jg dg orang tua untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Insyaallah Allah akan memudahkan jalannya.
Wallahu A'lam bis Sowab.
Salam SaMaRa
Holilur Rohman
19 September 2019

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...