Yuk, jaga silaturahim dengan menghindari hutang

Pilih mana, hutang ke bank jadi riba, hutang ke kerabat dekat jadi rusak silaturahim ?

Ngomongin hutang piutang adalah masalah yang sering dihadapi setiap orang. Orang yang berhutang atau yang memberi piutang, mungkin kitsa salah satunya. Dan seringkali hutang piutang ini menjadi masalah bagi kedua pihak jika yang berhutang menunda-nunda terlalu lama membayar, tidak mampu bayar, belum mampu atau yang lebih parah menyepelekan membayar hutang, ditambah lagi memilih membayar gaya hidupnya dibanding membayar hutangnya (banyak yang kayak gini yaa)

Apapun alasannya tentu akan merugikan pemberi piutang, dan bisa merusak hubungan keluarga, persahabatan atau hubungan kerjasama bisnis.

Saya pernah pinjem uang ke bank, ke orang tua saya, ke adik, atau ke sepupu (waduh tukang ngutang yaa?😁) yaa beneran pernah, tapi jumlahnya sedikit, dan saya sudah tentukan kapan waktu pembayarannya.

Alhamdulillah biasanya saya bayar tepat waktu, yaa pernah sih molor-molor dikit lah yaa... Itu pun saya selalu pastikan, bahwa uang yang saya pinjam adalah uang nganggur, artinya bukan uang yang ditabung untuk suatu keperluan.

Saya, tidak berani pinjam uang jika blum tau nantinya bayarnya gimana? Atau blum pasti untuk bayarnya ada atau nggak.

Berhutang ke saudara atau kerabat dekat, jika kita gak mampu bayar, bisa merusak hubungan persaudaraan, apalagi jika uang itu sedang sangat dibutuhkan oleh mereka. Bisa menjadi dosa besar jika kita tak membayarnya. Zholim jatuhnya iya gak?

Saya sendiri paling gak mau memberi hutang, yaa okelah uang saya memang gak cukup banyak untuk di hutangi, dan setiap uang yang tersimpan adalah uang untuk keperluan dikemudian hari, atau untuk modal bisnis.

Saya juga gak mau gara-gara hutang merusak hubungan dengan orang lain.
Gara-gara hutang jadi suudzon sama orang lain.

Gara-gara hutang hati jadi kesel terus setiap melihat orang yang berhutang asik jalan-jalan rekreasi ke luar kota apalagi keluar negri, sakit hatii mba sist, melebihi sakit hati ditinggalin mantan, ehh 🙊

Lagipula saya gak berbakat menjadi debt colector. Gak bisa menagih hutang, pengalaman pernah saya nagih hutang, malah saya yang terlihat seperti pesakitan yang sangat perlu dihindari dan dijauhi, bahkan kalau perlu dikucilkan dari pergaulan😔

Jika  memang memerlukan uang dalam jumlah besar, hutang ke bank malah lebih baik bagi saya daripada hutang ke orang dekat, karena jika kita tak sanggup membayar yaa memang kita gak ada hubungan kedekatan apa-apa sama bank, jadi tak ada persahabatan yang rusak, tak ada kasih sayang yang berkurang atau renggangnya persaudaraan.

Tidak ada bank yang sakit hati, kalau kita tak sanggup bayar,

Tak ada bank yang kesel kalau kita masih punya hutang dan asik rekreasi atau berlibur karena bank punya aturan-aturan yang sudah disepakati bersama. Tapii hutanh ke bank kaan riba yaa? Tau kan riba.

Jadi pilih mana? Hutang ke bank jadi riba atau ke kerabat dekat jadi merusak hubungan kekeluargaan dan zholim sama mereka?

Karena hutang mampu tak mampu, mau tak mau, rela tak rela adalah kewajiban yang harus dibayar. 

Pilihan terbaik adalah,
Jangan berhutang, jika kamu tak ada jaminan untuk membayar,
Jangan berhutang untuk membeli kesenangan,
Jangan berhutang untuk berbisnis,
Jangan berhutang untuk hal yang sebenarnya tidak darurat dan kamu menganggap darurat.

Semoga yang berhutang diberi rezeki yang banyak untuk segera membayar hutang (doa buat diri sendiri juga😁) dan semoga pemberi piutang diberi kesabaran, ketabahan dan kebesaran hati jika melihat foto jalan-jalan si penghutang di medsos

Jangan tersinggung dengan tulisan saya, tidak bermaksud menyinggung siapapun, karena ini adalah fenomena yang terjadi dalam masyarakat kita.

Yuk jaga silaturahim dengan menghindari hutang😊

Semoga tulisan saya tidak merusak kesenangan liburan anda😊

Selamat berlibur!

Titin Puspa Sari

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...