Teror Pikiran

"Ketika aku diseret diancam penjara,
si kerdil yang bernama ketakutan kutendang keluar." - Widji Tukul

Kata-kata Widji Tukul dalam sajak Maklumat Penyair sengaja menjadi pembuka catatan ini untuk mempertegas bahwa ancaman paling berbahaya bagi kita tidak datang dari luar. Ia bertempat di dalam diri, teramat dekat dan menyertai hidup sehari hari. Ia bernama "ketakutan".

Ketakutan berasal dan diciptakan oleh pikiran, hasil konsepsi dengan objek-objek atau pengalaman. Dari pengalaman diciptakanlah narasi-narasi baru dengan kesimpulan yang (bisa jadi) lebih komplek. Kesimpulan itu menjadi salah satu pertimbangan untuk memutuskan.

Untuk membuktikan pernyataan saya ini kita bisa lihat anak kecil yang belum punya pengalaman bahwa api panas, atau pisau dapat melukai. Berikan dia pisau atau api, maka ia akan menyentuhnya dan memainkannya. Dia baru akan sadar bahwa api panas setelah menyentuhnya, atau pisau berbahaya setelah melukai tubuhnya.

Ketakutan terbesar adalah kematian yang menjelma rupa-rupa: rasa sakit, rasa lapar, direndahkan, dihinakan, tak dianggap, dan lain-lain. Keadaan-keadaan itu bertingkat-tingkat sesuai dengan pengalaman. Orang yang tidak terbiasa lapar, dia akan kebingungan bila tak mendapati makanan. Tetapi di lain pihak, lapar telah menjadi "makanan" sehari-sehari bagi sebagian orang. Saat itu makan tidak lagi menakutkan, tetapi hanya menjadi semacam keadaan berkurangnya kebiasaan.

Kita yang tidak biasa dengan rasa sakit akan ragu-ragu, kalau tidak ingin mengatakan lari, jika dalam keadaan yang menyebabkan rasa sakit. Tetapi bagi Widji Tukul, barangkali rasa sakit telah menjadi semacam siklus kehidupan yang muncul-tenggelam sehingga berubah menjadi keberanian.

Masih dalam Maklumat Penyair dia berkata: "Pernah bibir pecah ditinju, tulang rusuk jadi mainan tumit sepatu, tapi tak bisa mereka meremuk: kata-kataku!"

Teror Pikiran

Semakin banyak pengalaman akan membuat kita semakin berani.Keberanian melawan rasa takut akan membuat kita tidak menjadi penakut. Itulah keberanian untuk melakukan tindakan dengan resiko.

Ada orang yang hanya berani melakukan tindakan yang tidak mengandung resiko. Bila dipikir-dipikir apa yang akan dilakukannya akan berdampak tidak baik (menyakitkan, rasa lapar, direndahkan, dll) ia akan mundur tiga langkah lalu lari pergi. Ketakutan mereka disebakan oleh pengalaman-pengalaman yang belum teruji atau pengalaman menyakitkan orang lain yang disandarkan kepada dirinya.

Mereka inilah orang-orang yang diteror pikirannya sendiri. Mereka membuat kesimpulan-kesimpulan spekulatif, menghitung-hitung akibat dari perbuatan yang akan dia lakukan. Kemudian mereka memutuskan bahwa dirinya tidak mampu menghadapi keadaan yang dianggap akan menyakitkan itu.

Mendasarkan analisa spekulatif pada pengalaman-pengalaman orang lain, di satu pihak amat penting sebagai dasar mengkalkulasi kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi. Dengan analisa itu, kita dapat meminimalisir kemungkinan buruk sejauh yang bisa kita jangkau.

Tetapi yang mengerikan, bila tafsir terhadap pengalaman terlalu hebat dan dicampur imajinasi yang mengerikan. Kita lantas membayangkan yang tidak-tidak, melampaui pikiran normal, bahkan tidak masuk akal. Dari sinilah ketakutan-ketakutan itu akan menghatui jalan yang akan kita tempuh.

Di antara kita barangkali pernah bersinggungan dengan orang-orang yang mengalami hal demikian. Contoh kecil, teman kita, atau bahkan kita sendiri, merasa takut melakukan ini dan itu. Begitu kita tanya atau kita cari tahu faktornya, ketakutannya ternyata karena satu hal yang menurut kita sepele, bahkan tidak masuk akal dan sebenarnya tidak perlu ditakutkan.

Teman kita itu merasa takut, boleh jadi karena punya pengalaman yang belum teruji sehingga meneror pikirannya terus menerus atau boleh jadi juga karena tafsir terhadap pengalaman orang lain yang terlalu hebat.

Bagi kita masalah itu sudah biasa karena kita telah punya pengalaman yang sama dan sudah teruji. Tetapi bagi dia merupakan pengalaman baru sehingga dia takut untuk melakukannya. Di sini, kita dapat mengetahui bahwa (dalam kontek ini) kita lebih berkualitas dari pada teman kita itu.

Dengan begitu, semakin banyak pengalaman semakin banyak pula keberanian. Berani artinya tidak takut. Berani adalah lawan dari rasa takut itu sendiri.

Setiap Orang Punya Rasa Takut

Seseorang yang kita kenal pemberani tidak berarti dia tidak memiliki rasa takut. Karena ketakutan terbesar adalah kematian. Orang hidup pasti akan takut mati. Sebab mati adalah akhir dari cerita-cerita tentang kehidupan. Selama seorang masih hidup, dia pasti memiliki rasa takut.

Orang yang tidak takut mati barangkali hanya orang sufi yang telah ma'rifat kepada tuhannya. Baginya kematian adalah harapan, karena dengan mati dia akan berjumpa kekasih yang sangat dicintai dan dirindukannya. Kematian akan bermakna terputusnya rindu karena temu yang tak lagi semu. Para kaum sufi yang telah ma'rifat saya kecualikan dalam bahasan catatan ini.

Widji Tukul tidak takut dipenjara, tidak takut diinjak tumit sepatu, bahkan jika dia ma'rifat mungkin dia tidak takut mati, tetapi dia pasti memiliki ketakutan. Ketakutan terbesarnya barangkali karena dia tak mau dianggap penjilat, tak mau dianggap tak bertanggung jawab, tak mau dianggap sebagai orang yang abai terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang, dia pun menjadi orang yang sangat berani melawat meski harus dengan rasa sakit.

Di sini kita dapat mengetahui dan membandingkan kualitas hidup Widji Tukul dengan kita sendiri, atau orang lain yang kita anggap sebagai pemberani. Menjadi orang seperti Widji Tukul tentu tidak mudah. Butuh pengalaman yang sudah teruji.

Bagi kita, tidak harus dipenjara atau diinjak tumit sepatu, setidaknya kita harus berhenti meneror diri sendiri dengan pikiran dangkal dan sebatas asumsi.

Penulis: Miftahul Arifin

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...