Kisah Abrahah Dalam Hayatul Hayawan al-Kubra

Awal Muharram (Bukan Muharram yang sekarang kita kenal) tahun 882 penanggalan Dzulkarnain, bertepatan Baginda Nabi Shallallahu Alayhi Wasallama masih berada didalam kandungan, Abrahah, Raja Habasyah (Afrika, Ethiopia) ingin merobohkan Ka’bah. Asal muasalnya, dia ingin menandingi Ka’bah dengan membangun Kanisah (Sejenis gereja) di daerah San’a Yaman ditambah kegeramannya dengan lelaki dari Bani Kinanah (Ada yang mengatakan pembuat geramnya adalah Kanisah itu dijadikan tempat buang air besar), dan setelah itu, ia bersumpah akan menghancurkah Ka’bah.

Kanisah yang Abrahah bangun di San’a dinamakan al-Qaliis (Sesuai maknanya; menjulang tinggi laksana kopyah). Dalam pembangunan itu, Abrahah sangat merendahkan orang Yaman dan menyengsarakan mereka dengan barbagai macam sihir jahat. Demi keindahan Kanisah, Abrahah memindahkan batu pualam dan batu yang diukir dengan emas perak dari istana Ratu Bilqis istri Nabi Sulaiman bin Dawud AS.

Langkah pertama untuk menghancurkan Ka’bah. Abrahah mengirimkan balatentara berkudanya. Dan sesampai disana. Sebagai simbol penaklukan. Balatentara berkuda itu merampas dua ratus onta pemimpin kota waktu itu, Yakni Sayyidina Abdul Muthallib, Kakek Baginda Nabi SAW. setelah itu, barulah ia memasuki kota. Dan berbicara lantang dihadapan masyarakat Mekkah:

“Aku kesini, bukan untuk memerangi kalian, tapi untuk menghancurkan Baitullah ini! Kalau kalian tidak menggangguku, akupun tidak butuh dengan darah kalian!”

Baru saja ia mengatupkan mulut besarnya:

“Demi Allah, kami tidak ingin berperang untuk Ka’bah, kami tidak butuh itu! Ini adalah Baytullah! Dan rumah kekasih-Nya, yakni Ibrahim Alayhis-Salaam. Dialah yang akan menjaga dari orang yang akan menghancurkannya!” kata Sayyidina Abdul Muthallib lantang dan berwibawa sambil maju keluar dari kerumunan orang.

Sayyidina Abdul Muthallib adalah orang yang gagah, ganteng, menarik hati, dan memikat. Tiada yang memandangnya, kecuali langsung suka dengannya. Selain doanya terkenal mujab; mudah terkabul.

Abrahah yang clingak-clinguk kebingungan, dibisiki bawahannya, “Ekhem, Anu paduka. Orang ini adalah pemimpin kaum Quraish yang memberi makan di daerah mudah terjangkau. Dan memberikan makan hewan liar serta burung-burung di daerah gunung yang terjal”

Demi menunjukkan niat baiknya. Abrahah mempersilahkan Sayyidina Abdul Muthallib dan mengajaknya duduk sejajar dengannya disinggasana yang dibawanya. Lalu dia berkata pada ahli penterjemahnya, “Tanyakan. Apa kebutuhannya!”

Setelah diterjemah, Sayyidina Abdul Muthallib menjawab, “Aku ingin dua ratus ontaku dikembalikan”

Si penterjemah melaporkan pada Abrahah. Dan Abrahah berkata sambil tersenyum mengejek, “Katakan padanya! Tadi, ketika aku melihatmu pertama kali benar-benar takjub. Tapi, itu lenyap ketika kau berbicara denganku. Masak, kau hanya berbicara tentang dua ratus onta dan blass tidak menyentuh Ka’bah yang menjadi pegangan agamamu dan agama leluhurmu?! Aku yang akan merobohkannya! Dan kau tidak membelanya?! Huh!”

Sambil berpaling pada penterjemah, Sayyidina Abdul Muthallib menjawab, “Heh, aku hanyalah Rabbul Ibil; pemilik onta! Sedangkan Ka’bah punya pemilik sendiri. Dan Tuhan Ka’bah akan mencegah siapa saja yang akan merobohkannya, termasuk kamu!”

“Ha .. ha .. tiada yang bisa mencegahku” tawa Abrahah congkak.

“Terserah kamu” jawab Sayyidina Abdul Muthallib.

Lalu, Abrahah memerintahkan pasukannya untuk mengembalikan onta Sayyidina Abdul Muthallib. Dan kemudian Sayyidina Abdul Muthallib mengomando seluruh kaum Quraish untuk meninggalkan Mekkah dan sementara berlindung di gunung-gunung dan celah-celah lembah. Tapi, sebelum pergi, Sayyidina Abdul Muthallib memegang pintu Ka’bah dan berdoa panjang sekali. Dan kejadian akhir, seperti yang tersurat dalam ayat al-Fiil.

Wallahu A’lam bis-Shawaab.

Dikisahkan oleh: Kyai Robert Azmi dari Ponpes Al Fatah Pule Nganjuk.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...