Makna Sakinah Mawaddah Wa rahmah dalam Pernikahan


Dalam islam, kebahagiaan rumah tangga/keluarga tidak ditentukan oleh banyaknya materi atau tingginya jabatan. Akan tetapi diukur dari sebarapa besar dan kuat keimanan dan ketaqwaan seseorang terhadap agamanya.

Pernikahan merupakan ikatan yang kuat antara dua insan manusia. Tidak hanya untuk jangka waktu yang sifatnya sementara, namun selamanya sampai ajal memisahkan. Kebahagiaan rumah tangga dalam islam diistilahkan dengan sakinah mawaddah warahmah. Inilah puncak tujuan dalam sebuah pernikahan, yang tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan duniawi, tapi juga kebahagiaan ukhrawi.

Cinta adalah fitrah manusia. Setiap manusia merasakan hadirnya cinta, termasuk cinta suami kepada istri, dan istri kepada suami.

Perempuan (istri) adalah makhluk perasa. Istri akan sangat bahagia jika suaminya benar-benar tulus mencintainya karena Allah, bukan karena rupa, harta, ataupun nasabnya. Kalaupun ada kecenderungan mencintai karena rupa, harta, dan nasab, itu hanyalah bonus pelengkap saja.

Jika cinta sekedar didasarkan pada rupa, ketika rupa tak lagi menawan maka hilanglah cintanya. Jika cinta dinisbatkan pada kekayaan, ketika dia tak lagi berlimpah harta, sirnalah cintanya. Jika cintanya digantungkan pada nasabnya, ketika nasabnya ternoda, maka pudarlah cintanya. Cinta sesungguhnya adalah cinta tulus yang dilandaskan pada keimanan kepada Allah SWT.

Al Sya’rawi dalam tafsir al-Sya’rowi berkata:

"Kekaguman seorang pria kepada wanita (begitu juga sebaliknya) tanpa memandang keimanannya akan menjadi kekaguman yang cepat sirna."

Apa arti Sakinah Mawaddah Warahmah dalam Islam?

Sudah kita pahami bersama, bahwa yang diinginkan dari pernikahan adalah adanya kebahagiaan (sa'adah). Padahal, menurut tesis al-Ghazali, "Tidak ada kebahagiaan tanpa ketenangan". Sementara itu, ketenangan/ketentraman (sakinah) ini bisa terwujud manakala dalam keluarga terdapat support Mawaddah dan Rahmah secara berimbang.

Mawaddah artinya "cinta kasih", sedangkan Rahmah adalah "belas kasih". Rasa cinta muncul seringkali dipersepsikan hanya didorong oleh ego syahwat manusia yang diistilahkan dengan "mahabbah thabi'iyyah" (cinta alami-manusiawi); cinta karena faktor kelebihan dari pasangan. Padahal ada juga cinta yang dilatar belakangi pertimbangan akal, diistilahkan dengan "mahabbah 'aqliyah" (cinta rasional); belas-kasih karena faktor kekurangan dan kelemahan dari pasangan.

Pada mulanya, saat masih berstatus pengantin baru (just married), yang muncul adalah "mahabbah thabi'iyyah". Karenanya, mawaddah (cinta-kasih) seringkali lebih dominan dan kurang berimbang. Namun, saat pernikahan sudah berlangsung lama bahkan mungkin sudah beranak-cucu, kerapkali "mahabbah thabi'iyyah" mulai surut. Dalam kondisi inilah "mahabbah 'aqliyah" mulai muncul yang berdampak sifat "Rahmah"-nya lebih dominan dibanding sifat "Mawaddah"-nya.T


Tidak adanya keseimbangan antara mawaddah dan rahmah, seringkali berdampak negatif bagi keluarga, bahkan terkadang bisa menghilangkan ketentraman dalam keluarga, kecemburuan yang berlebihan, dan lunturnya rasa saling percaya (trust) antara suami-isteri. Oleh karenya, "Mawaddah" seharusnya menjadi sumber inspirasi yang bisa menumbuhkan bibit-bibit "Rahmah". Demikian juga sebaliknya, "Rahmah" mestinya juga menjadi inspirasi bagi yang dapat menumbuhkan "Mawaddah". Keduanya bagaikan dua sisi mata uang, bisa dibedakan namun tak bisa dipisahkan.

Dengan support sifat Mawaddah dan Rahmah secara seimbang inilah, kerukunan, keharmonisan, saling menghargai dan memahami posisi serta potensi masing-masing sehingga ketenangan dan kebahagiaan yang menjadi tujuan puncak (ultimate goal/aqsha al-ghayah) dari suatu pernikahan dapat terealisasi.

***

Menikah kemudian hidup bahagia selamanya tanpa ada masalah hanya ada dalam kisah dongeng di film-film seperti rapunzel, cinderella, beauty & the beast dan lainnya. Kenyataannya, pernikahan adalah pintu awal bagi datangnya ujian dan masalah-masalah baru dalam kehidupan.

Di awal pernikahan kita harus menyesuaikan diri dengan pasangan. Baik yang sebelumnya pacaran ataupun tidak pasti harus menyesuaikan diri. Karena setelah menikah akan ada kenyataan baru tentang pasangan yang sebelumnya mungkin dia sembunyikan dari kita.

Menikah itu berusaha menahan emosi saat dia mengatakan atau bertindak yang menyakiti hati. Menikah itu belajar mengalah walau merasa lelah. Menikah itu tetap bertahan walau dia mulai membosankan.

Jadi... Cinta saja tidak cukup karena dia bisa kandas. Hal terpenting dalam pernikahan adalah meyakini dia jodoh terbaik dari Tuhan-Mu. Tentunya sebelum menikah kamu harus istikhoroh dulu. Karena rasulullah bersabda: "Tidak akan tersalah orang yang istikhoroh dan bermusyawarah."

Jika kedua hal itu sudah dilakukan lalu kamu menikah, maka dialah jodohmu. Karena, biasanya jika dia tak baik untukmu setelah istikhoroh kamu dan dia pasti terpisah. Entah karena bosan, terhalang restu orang tua, karena orang ketiga, atau terhalang hukum adat. Bukankah Allah selalu punya cara untuk menyatukan dan memisahkan?

Tapi, pernikahan itu nikmat jika kita mau menikmatinya. Setiap proses akan jadi kenangan indah saat kita menua. Yang paling pasti adalah setiap orang yang menikah dan membangun kehidupan rumah tangga pasti punya masalahnya sendiri.

Mari kita belajar "Cinta" dari Kisah  Sayyid Abdullah dan  Aminah
(Ayahanda & Ibunda Rasulullah SAW)

Suatu saat ketika tiba waktunya Sayyid Abdullah bersama Kafilah Quraisy  berangkat untuk berdagang menuju Gaza dan Syam, Sayyid Abdullah berkata kepada Istri tercintanya (Aminah)  yg memegang erat tanganya dg penuh cinta dan kasih sayang dan enggan melepas tangannya:

"Perpisahan ini hanya akan berlalu beberpa minggu saja, setelah itu aku akan kembali lagi kepadamu, wahai Aminah, dengan sayap cinta dan kerinduan yang membara"

Mendengar kata-kata kata indah ini, Aminah membalasanya dg raut muka sedih sembari berbisik dengan suara yang hampir seperti tercekik:

" Apa yang akan aku lakukan pada diriku sementara kau jauh dariku?"

Sayyid Abdullah menjawabnya sambil bercanda:

"Berbincang saja dengan bayanganku yang akan selalu bersamamu, dan jagalah hatiku yang aku tinggalkan bersamamu, dan biarkan aku pergi dengan membawa tubuhku ke tempat yang sangat mulia, sambil merindukan makhluk Allah yang paling aku cintai dan yang paling cantik"

Kata-kata tersebut sedikit meluluhkan hati Aminah dan membuatnya "menyerah", lalu Aminah melepaskan tangannya dan berkata dengan suara lirih,

" Celakalah diriku ini, wahai Suamiku Abdullah, karena harus menghadapi malam-malam yang panjang".

Sayyid Abdullah untuk kesekian kalo menjawabnya sambil berjalan menunu pintu rumah dengan wajah menghadap ke arah Aminah

"Tidak ada celaka bagimu, wahai Istriku Aminah. Mimpi-mimpi akan menemani malam-malam. Lupakah engkau kata-kata putri Naufal, Fatimah binti Murr, dan Mimpi malam kemaren?

Itulah Untaian kata indah antara suami istri yang sedang dimabuk cinta dan kasih sayang di usia pernikahan yg masih sekitar 10 hari. Aminah begitu sangat mencintai suaminya, begitu juga suaminya sangat mencintai Aminah. Walaupun begitu, Aminah tidak menyangka jika kegelisahanny berpisah dg suaminy adalah perpisahan selamanya di dunia. Setelah melakukan perjalanan berdagang bersama Kafilah Quraisy, Sayyid Abdullah kembali ke Mekkah dalam keadaan "tidak bernyawa" karena sakit. Kita semua tentu merasakan, betapa sedihnya hati Aminah yang tinggal suami tercintanya selama-selamanya, sekan dia tidak percaya kejadian tersebut dan bersedih terus menerus. Bahkan krena kecintaannya kepada suaminya, Aminah sulit "Move On", bahkan menurut sebuah riwayat, sampai "Muhammad" lahir di dunia ini, air susunya mengering karena kesedihan yang dirasakannya. Karena itulah akhirnya Aminah mencar "Ibu susuan" untuk menyusui Muhammad sampai ketemu Halimah dari Bani Sa'ad.

Sungguh Pelajaran Cinta yang begitu Suci dan Mulia dari Ibunda Muhammad. Cinta yang tak memandang rupa dan harta sebagai ukuran kebahagiaan, tapi Cinta yang didasarkan pada pengabdian kepada Allah sang Maha Pencipta.

NB: Kisah ini ringkasan dari Buku Terjemah "Biografi Istri dan Putri Nabi" karya Dr Asiyah Abdurrahman, yang dikenal dengan nama penah "Bintu Syati')

JOMBLO BERKUALITAS

Tahukan anda tentang definisi Jomblo Berkualitas? Jomblo berkualitas adalah jomblo yang kejomblowannya bukan karena pilihannya untuk menjomblo, tapi karena proses mencari pasangan yang tepat untuk mendapatkan keturunan yang berkualitas, sebagaimana ladang dan bibit yang berkualitas akan menghasilkan produk yang berkualitas pula.

Sayyidina Usman bin Affan berkata:

"Wahai putraku, orang menikah adalah orang yang menanam, maka hendaknya setiap orang melihat tempat yang akan ditanami. Keturunan yang buruk jarang sekali melahirkan yang baik, maka pilihlah yang baik MESKIPUN MEMBUTUHKAN WAKTU YANG LAMA."

Buat jomblo mantapkan hati dulu sebelum berpikir untuk menikah. Jodoh akan datang di saat yang tepat. Semoga kelak dianugerahi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel