Memikirkan Kata
"Jangan kau pikir, hujan sanggup menghapus senja! Senja musim apa pun betapa kucinta", hardikmu meminjam desir angin. Dan lampu taman mulai menyala. Cangkir kopi pun kemudian tiba dan panasnya mengepul ke udara, bertemu dingin yang sekian lama sudah mencangkung di Kafe Pustaka.
"Memikirkan kata saja tak khatam juga -- aku tak sanggup mencerna semestanya. Apalagi memikirkanmu yang amat menyayangi senja, wahai cinta -- berpuluh ribu kata yang berdiam di dalam buku kueja, kau tak kupahami juga!", sahutku sembari menyembunyikan gemetar memegang Memikirkan Kata. Sementara cangkir kopi di meja ditinggalkan isinya, telah berlari ke urat nadi setelah lolos melewati mulutku yang lelah terbuka. Kedua kornea mataku masih terpana -- Memikirkan Kata yang memesona.
"Memikirkan aku saja kau tak bisa, kenapa kau mencintaiku tak ada ujungnya?! Memikirkan kata kau juga tak bisa, padahal di situlah aku bersuaka!", timpalmu seperti interlude lagu yang menggentarkanku. "Cinta yang sebenar cinta tak perlu pikiran, cinta! Cinta yang masih dapat dipikirkan bukanlah cinta sebenarnya: cinta yang bisa disarungkan ke dalam kata bukanlah cinta yang dewasa!", tandasku saat seduhan kopi tinggal ampasnya. Dan malam tengah melangkahkan suasananya.
Djoko Saryono
