Mengharukan, Gus Dur Menangis saat Melihat Kitab Etika Aristoteles
Dikisahkan bahwa saat Gus Dur masih menjabat sebagai Presiden RI, tepatnya pada tahun 2000 beliau pernah berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Asy'ariah Kalibeber yang terletak di Wonosobo, provinsi Jawa Tengah. Dalam acara silaturahmi itu, beliau memberikan sambutan dan menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Maroko, sebuah negara dengan ibukota Rabat yang persentase umat muslimnya mencapai 99% itu.
Dikisahkan bahwa beliau pernah singgah di sebuah masjid di Maroko. Di situ beliau menemukan sebuah kitab Etika karya seorang filosof zaman Yunani Kuno, Aristoteles. Kitab tersebut ditempatkan dalam sebuah bejana kaca yang hampa udara agar tahan lama.
Dan anehnya, Gus Dur sempat menangis saat melihat kitab itu. Kemudian imam masjid itu pun bertanya kepada Gus Dur kenapa beliau menangis. Gus Dur menjawab bahwa beliau menangis karena bila tidak ada kitab itu maka beliau tidak akan menjadi seorang muslim.
Gus Dur memberikan kesimpulan bahwa akhlak yang ada pada diri para kiai dan ulama nusantara dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari itu tidak hanya diambil dari nilai-nilai islam saja, akan tetapi juga diambil dari nilai-nilai dan etika sebelum islam. Sebagai contohnya adalah kitab Etikanya Aristoteles itu tadi, di mana tokoh filosof tersohor ini lahir 1200 tahun sebelum Islam.
Gus Dur berpandangan bahwa orang yang menerapkan etika dan nilai-nilai islam dalam rangka mewujudkan kemaslahatan bersama serta keadilan di tengah-tengah masyarakat, itulah muslim yang sebenarnya. Bukan orang yang hanya sibuk menampilkan simbol-simbol Islam, tetapi tindakannya melenceng jauh dari nilai dan etika Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.
Menurut Gus Dur, sebenarnya islam di Indonesia sama dengan di negara-negara lain. Yang membedakan hanyalah manifestasinya. Dengan kata lain, cara manifestasi muslim atas nilai-nila dan etika yang terkandung dalam islam itu berbeda-beda.
Satu hal yang menurut Gus Dur sebagai ciri khas islam nusantara sekaligus menjadi alasan mengapa islam di indonesia berkembang dengan baik. Apa itu? Yakni adanya tradisi keilmuan ala Sultan Hadiwijaya, yang dalam bahasa Taufik Abdullah disebut dengan Tradisi Multikratonik, di mana ada LSM atau semacam lembaga independen yang bergerak di luar sistem pemerintahan keraton.
Keraton pusat sebagai pemegang suatu tata nilai, tapi tidak sampai m3mbunuh tata nilai yang dipegang oleh pesantren. Menurut Gus Dur, inilah yang menjadi inti dari keputusan muktamar NU tahun 1935 di Banjarmasin. [ Disarikan dari : http://www.nu.or.id/post/read/66463/ketika-gus-dur-menangis-lihat-kitab-etika-aristoteles]
![]() |
| Gus Dur via NU Online |
Dan anehnya, Gus Dur sempat menangis saat melihat kitab itu. Kemudian imam masjid itu pun bertanya kepada Gus Dur kenapa beliau menangis. Gus Dur menjawab bahwa beliau menangis karena bila tidak ada kitab itu maka beliau tidak akan menjadi seorang muslim.
Gus Dur memberikan kesimpulan bahwa akhlak yang ada pada diri para kiai dan ulama nusantara dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari itu tidak hanya diambil dari nilai-nilai islam saja, akan tetapi juga diambil dari nilai-nilai dan etika sebelum islam. Sebagai contohnya adalah kitab Etikanya Aristoteles itu tadi, di mana tokoh filosof tersohor ini lahir 1200 tahun sebelum Islam.
Gus Dur berpandangan bahwa orang yang menerapkan etika dan nilai-nilai islam dalam rangka mewujudkan kemaslahatan bersama serta keadilan di tengah-tengah masyarakat, itulah muslim yang sebenarnya. Bukan orang yang hanya sibuk menampilkan simbol-simbol Islam, tetapi tindakannya melenceng jauh dari nilai dan etika Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.
Menurut Gus Dur, sebenarnya islam di Indonesia sama dengan di negara-negara lain. Yang membedakan hanyalah manifestasinya. Dengan kata lain, cara manifestasi muslim atas nilai-nila dan etika yang terkandung dalam islam itu berbeda-beda.
Satu hal yang menurut Gus Dur sebagai ciri khas islam nusantara sekaligus menjadi alasan mengapa islam di indonesia berkembang dengan baik. Apa itu? Yakni adanya tradisi keilmuan ala Sultan Hadiwijaya, yang dalam bahasa Taufik Abdullah disebut dengan Tradisi Multikratonik, di mana ada LSM atau semacam lembaga independen yang bergerak di luar sistem pemerintahan keraton.
Keraton pusat sebagai pemegang suatu tata nilai, tapi tidak sampai m3mbunuh tata nilai yang dipegang oleh pesantren. Menurut Gus Dur, inilah yang menjadi inti dari keputusan muktamar NU tahun 1935 di Banjarmasin. [ Disarikan dari : http://www.nu.or.id/post/read/66463/ketika-gus-dur-menangis-lihat-kitab-etika-aristoteles]
