Teori Nilai Pakai Marx, Politisi, dan Munculnya Para Buzzer

Ketika Marx berbicara tentang nilai-pakai, dia bicara tentang nilai-pakai sosial (social use-value). Istilah nilai-pakai sosial ini emang dia pakai di buku Capital, bukan bikin2an saya. Silahkan dicek kalo ga percaya.

Apa arti nilai pakai sosial? Artinya nilai-pakai utk orang banyak. Jadi begini, dia blng dalam kapitalisme itu nilai-tukar hanya bisa ada jika ada nilai-pakai sosial. Hanya jika barang itu berguna utk orang banyak, maka barang itu bisa dijual ke pasar.

Dia pakai istilah ini utk membedakan dengan cara produksi pra-kapitalis, dimana suatu barang bisa aja diproduksi tanpa nilai-pakai sosial, tapi punya nilai-pakai individual. Misalnya, barang2 yg diproduksi si produsen utk dipakai sendiri sama si produsen. Barang ini belum tentu berguna utk orang lain, tapi berguna utk si produsen. Tapi ini krn si produsen emang ga memproduksi barang itu utk dijual, melainkan utk dipakai dia sendiri.

Tapi krn di kapitalisme, orientasi produksi barang itu adalah utk dijual di pasar (sbg komoditi), maka ga bisa orang memproduksi barang hanya dg pertimbangan barang itu berguna utk dirinya, dia harus juga melihat pasar, apakah barang ini akan berguna utk orang2 lain yg jadi calon pembeli di pasar? Kalau dia punya nilai-pakai sosial (utk orang banyak), maka dia bisa diubah jadi komoditi (dijual ke orang banyak).

Tapi Capital berbicara tentang hal2 umum yg mendasar. Di kenyataan, pasar ada segmen-segmennya dan nilai-pakai sosial itu, menurut saya, juga tersegmentasi. Suatu barang yg berguna utk segmen pasar tertentu, belum tentu berguna utk segmen pasar lainnya. Misalnya, karya seni tertentu mungkin punya nilai-pakai tinggi bagi para penggemar karya seni tsb., tapi belum tentu utk orang2 lain.

Segmentasi pasar itu sudah berkembang sedemikian rupa shg bukan hanya berdasarkan produk yg berbeda saja, tapi ada juga yg berdasarkan merek barang. Misalnya, ada segmen pasar pengguna tas fossil, ada juga segmen pasar tas merek lain. Barangnya sama2 tas, brandnya beda, segmen pasarnya beda. Kalau Anda pernah baca2 buku tentang advertising, maka Anda akan menemukan bahwa salah satu fungsi branding produk itu adalah utk bikin segmentasi pasar.

Tapi apakah ini berarti yg namanya kebutuhan manusia tidak objektif? Tergantung apa yg Anda maksud objektif. Kalau yg Anda maksud objektif adalah dideterminasi oleh fitur biologis manusia, maka mungkin hanya sdkt kebutuhan yg bisa dibilang objektif. Krn banyak kebutuhan manusia itu dikonstruksi secara sosial-budaya. Misalnya, pas lebaran beli baju koko. Orang beli baju koko ga murni krn kebutuhan fisik melindungi tubuh dari cuaca, tapi ada aspek sosial-budaya spt agama.

Tp ketika Marx ngomong bahwa nilai-pakai adalah nilai yg memuaskan kebutuhan manusia, dia emang ga hanya ngomong kebutuhan fisik. Ini eksplisit banget dia blng, kebutuhan itu asalnya bisa perut tapi juga bisa pikiran manusia. Kalo ga percaya, silakan cek bagian2 awal dari Bab I Capital tentang komoditi.

Nah, sekarang ini kompetisi politik telah melahirkan segmen pasar tertentu yg bernama politisi. Utk bisa memenangkan kursi, mengamankan posisi, dlsb., para politisi butuh jasa kampanye. Di sini para buzzer melihat peluang pasar, mereka menciptakan produk2 spt hoax dan gimmick utk memuaskan kebutuhan para politisi ini. Muncullah industri buzzer.

Industri buzzer bukan satu2nya industri yg muncul dari segmen pasar ini. Ada juga industri konsultan politik, industri demo bayaran, dan rupa2 industri yg produknya adalah utk memuaskan kebutuhan para politisi yg bersaing, dll.

Bagi para politisi, hoax dan gimmick ini punya nilai-pakai, yaitu agar bisa mendapatkan dukungan dari masyarakat utk memenangkan atau mempertahankan posisi tertentu. Tapi pertanyaannya, apakah produk ini punya nilai-pakai utk masyarakat? Jawabannya tidak, malah yg terlihat adalah efek merusaknya bagi masyarakat.

Tentu saja para buzzer tidak ambil pusing, krn kebutuhan yang hendak dia puaskan adalah kebutuhan para politisi, bukan kebutuhan masyarakat. Problemnya, produk mereka berdampak juga ke masyarakat. Dari sisi dampak produk, bisnis buzzer ini mirip kayak bisnis obat abal2 yg produknya berbahaya jika dikonsumsi. Bagaimana menurut Anda?

Penulis: Muhammad Zaki Hussein

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...