Masjid Kaum Papa - Roy Murtadho


Gerakan rakyat terlalu lamban, hilang fokus, terlena, sibuk lihat dan memberi komentar tak berarti lelucon dan akrobat para badut politik hingga terlena membangun kesamaan visi politik di antara mereka sendiri. Kelak beberapa bulan, atau bahkan hitungan hari, menjelang pilpres 2024, mereka akan sibuk mencetak poster bertuliskan slogan tegas: "lawan politik oligarki, bentuk partai sendiri!"

Dugaan saya akan begitu lagi. Jika tak ada perubahan berarti.

Lha ente ngapain? Tanya kawan saya. Tugas saya ngaji recehan dari kampung ke kampung membangun pendidikan politik. Syukur kalau dari kegiatan seperti itu, ibu-ibu kelak akan percaya bahwa oligarki lah yang telah membelah masyarakat dalam dua kutub yang saling baku pukul dan saling hujat. Semoga, kelak mereka tahu dan yakin bahwa untuk memperjuangan Islam dan kedaulatan rakyat maka jalan satu-satunya adalah membangun solidaritas seluas-luasnya sesama rakyat korban sistem kapitalisme dan konstruksi politik oligarki. Bukan dari mulut para demagog kaum fanatis.

Apa yang anda harapkan dari orang seperti saya? Kalian yang menjelajah banyak gagasan, melintasi benua-benua nun jauh di sana. Janganlah tinggal diam di ruang hampa udara. Jauh dari tangis dan air mata ibumu yang kampung-kampungnya telah hilang ditenggelamkan lubang-lubang galian tambang. Dan jangan pula terlalu jauh dari adik, kakak dan saudaramu yang tinggal di gubuk-gubuk reot miskin di pinggiran kota-kota.

Apa yang anda harapkan dari seorang saya? Setelah kongres rakyat yang gegap gempita dan penuh optimisme. Kapan kawan-kawan, saudara-saudara semua hendak merajut kembali silaturahim cita-cita (& cinta) dalam naungan politik kerakyatan?. Setelah semua suka cita solidaritas sesama rakyat yang tiap hari menjalani hidup penghisapan, akankah kalian tega membiarkannya tinggal sekedar jelaga mimpi di kepala anda semua?

Tengoklah sekelilingmu, saudaramu, kakak adikmu, yang teronggok di sudut-sudut kota. Sebagian dipungut oleh kawanan serigala yang dari mulutnya menguap aroma haus kebencian dan selalu ingin menerkam lainnya atas nama supremasi agama. Saksikan sungguh-sungguh mereka dari kedalaman jiwamu yang tak berdasar. Apakah engkau rela saudaramu hidup dirundung gelisah, dicekam amarah, miskin, papa, teraniaya dan terhina karena dirawat oleh para badut politik, para propagandis ekstra konservatif dan para demagog kaum fanatis!. Sehingga tenggelam dalam dendam. Hilang ingatan bahwa musuh paling nyata adalah kapitalisme. Ya kapitalisme.?

Datang dan tatap mata saudaramu dalam-dalam, katakan "akulah saudara kalian, dalam duka maupun lara. Akulah yang mengajakmu dalam gelombang persaudaraan, persahabatan kemanusiaan paling murni, dan paling suci tentang duka lara hidup di bawah kolong abad penuh kegilaan penghisapan dan perusakan alam raya dalam sepanjang sejarah umat manusia".

Genggam tangannya erat, ingatkan kembali di saat kalian semua luka memar dipukuli pentungan penjaga perusahaan. Ingatkan kembali di saat kalian semua dimesinkan di dalam neraka bernama pabrik-pabrik perusahaan. Hoi, kawan. Ya memang, Kita adalah anak dusun yang dirampas tanahnya, bak kawanan domba digiring ke kota-kota, diperbudak oleh sistem yang kejam berhati dingin memenggal ikatan-ikatan suci kekeluargaan primordial sehingga tak mampu lagi bibir ini mengatakan: "kita adalah anak dari para leluhur yang luhur di kampung-kampung pelosok negeri yang porak poranda".

Ikatan-ikatan baru harus dirajut dalam terang kemanusiaan dan cita-cita pembebasan semua untuk semua. Tidak untuk segelintir para badut yang terus menguras sumber daya yang paling mulia di dunia, yaitu keringat manusia dan kekayaan hayati alam raya milik kita. Tidak boleh ada kata kompromi dan sikap moderat pada mereka.

Penderitaan penghisapan itu, penghinaan itu, perampasan itu, memang menyakitkan. Sangat menyakitkan. Namun, kini kalian menjadi saudara bukan karena dari darah moyang yang sama, dari bapak ibu yang sama, dari sebuah kampung yang sama, dari sekte dan agama yang sama. Dari bagian manapun kalian berbeda. Tapi ada satu hal yang sama: kalian dibuang dan dihinakan oleh sebuah sistem yang merusak dan melecehkan kemanusiaan.

Apa yang anda harapkan dari seorang saya? Tak ada. Sungguh tak ada. Jangan pernah berharap pada satu orang. Tapi pada semaunya. Pada mereka yang belum tentu anda kenal namanya. Kita hanya mungkin bersama dalam kesetiaan pada nilai dan cita-cita, bukan pada satu dua nama.

Banyak anak-anak yang jauh lebih muda, segar, cerdas dan berani. Merekalah yang harus maju ke depan. Beri kesempatan lelaki dan perempuan muda itu membaktikan dirinya pada ibu, bapak, dan saudaranya yang dianiaya, dihisap dan dihinakan.

Maafkan jika saya keliru dan tak menjaga rasa takzim. Harapan, jika ada, sangatlah sederhana. Mari sedikit merendahkan hati, untuk sebuah cinta dan cita-cita yang hendak kita wujudkan, bahwa kita butuh semua. Beri kesempatan para pemuda itu mengeja persoalan jamannya yang kenyataanya, mau tidak mau, telah menanggung beban dosa maupuan keutamaan perjuangan dari anda semua.

Turunkan sedikit beberapa inci saja bendera anda. Beri jalan bagi silaturahim untuk menyelesaikan semuanya. Rajutan kasih yang terbit dari suara hati yang paling murni, yang mengeram kalimat: kita adalah saudara! Jauh ribuan kali lebih utama ketimbang barisan kata yang dihamburkan hanya untuk sebuah cerita "Sang Aku". Apakah ini terlalu berat bagimu untuk mengakui kita butuh semua untuk sebuah cinta dan pembebasan?

Suatu ketika Gusti Allah pernah berpesan bahwa Ia begitu cinta, bahkan sangat cinta, karena dikatakan berulangkali dalam Al-Qur'an, pada mereka yang berkenan mengulurkan tangannya di saat lapang maupun sempit, pada mereka yang menahan amarahnya, dan yang paling besar rasa maafnya pada sesama. Adakah ini begitu berat bagi kalian?

Yang kita perlukan adalah kesabaran, dan pengertian. Saya akan kembali ketika anda semua (atau kalian) memanggil kembali dalam suka cita kegembiraan bahwa kita masih saudara dan disatukan oleh mimpi yang sama. Tidak dalam tempik sorak rangkaian slogan.

Berat. Tentu saja. Namun tak ada yang berat jika bersama. Oh ya, segera lupakan mereka yang tak siap untuk setara. Kepeloporan tak soal seberapa pintar dan piawai seseorang di dalam visi dan program pembebasan. Tapi dari seberapa Ia tulus menghormati kawannya dan saudaranya. Dari seberani berani ia menginfakkan, apa yang paling dicintainya untuk kebaikan semuanya, sebagaimana lagi-lagi dipesankan Gusti Allah. Mereka yang siap memberi kesempatan pada para lelaki dan perempuan bekerjasama dengan setara. Jika, tidak ia dan mereka bukan bagian kita. Percayalah, revolusimu yang suci akan cacat, segera membusuk oleh arogansi dan ketidakmampuan untuk saling menghormati.

Hampir seminggu ini, badanku terus menggigil, tiap malam tiba. Saya makin merasa menemukan spiritualitas yang hilang, yang telah lama kucari dari bait-bait indah para sufi, tapi selalu luput untuk menggenggamnya. Jika kini ia masih ada itu ada dalam bulir-bulir pikiran filsuf Jenaka Zizek dalam kitabnya living in the end times. Betapa berbahaya dan beresikonya hidup di akhir zaman. Sang komedian menceritakan kondisi yang sangat material, dan nyata, yang telah kita lupakan semuanya. Ya memang kerusakan ini ulah manusia. Tapi tak semuanya. Melainkan disebabkan oleh sistem kapitalisme dan para kapitalis yang menyokongnya.

Jika masih ada harapan, agar esok tahun 2024, tak kembali terjauh menjadi slogan. Saya hendak mengatakan, "anda semua (atau kalian) masih ada kesempatan menjadi pewaris bumi ini. Oh, anak-anak kampung yang hilang dan dihinakan. Bila sedikit saja berkenan menurunkan bendera anda dan nada tunggi suara anda untuk memberi kesempatan pada persaudaraan".

Seorang sahabat suatu ketika menghubungi saya. Ia datang dari sebuah tempat yang terhimpit arogansi kota Jakarta. "Apakah anda berkenan mengelola masjid kecil di tempat saya. Mengisi kegiatan rutin di sana?". insyaAllah. Kita akan memberinya nama baru, "Masjid Kaum Papa". Mungkin di sanalah nanti saya akan menghabiskan apa yang bisa saya lakukan untuk para anak kampung yang hilang dan dihinakan.

Yakinlah, tak ada tempat di dalam sosialisme, dan cita-cita solidaritas kemanusiaan, bagi mereka yang mau menang sendiri, besar sendiri, tak menghargai saudaranya, para lelaki dan perempuan yang setara.

Penulis: Roy Murtadho

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel