Luthfi Assyaukani dan Tentang Jurusan Filsafat
Beberapa orang keberatan dan tampak tersinggung dengan tulisan saya tentang bangkrutnya filsafat. Salah satu yang dikritisi adalah pernyataan saya tentang orang yang masuk jurusan filsafat umumnya karena tak bisa masuk ke jurusan lain. Saya akui ada generalisasi di sini. Tapi, ini merupakan pengalaman saya pribadi bergaul dan memperhatikan filsafat selama lebih dari 20 tahun.
Seorang dosen lulusan filsafat UGM pernah bercerita kepada saya bahwa dia masuk fakultas filsafat karena ingin berkuliah di UGM, bukan karena ingin belajar filsafatnya benar. Pilihannya waktu itu adalah sastra atau filsafat. Dia mempertimbangkan kemungkinan besar diterimanya. Menurutnya, minat terhadap jurusan filsafat lebih kecil dan karenanya ada kans besar untuk diterima. Strateginya berhasil. Dia bisa kuliah di UGM dan kini menjadi dosen.
Dia bercerita bahwa dia tidak sendirian. Ada beberapa temannya yang lain yang menggunakan modus serupa. "Yang penting masuk UGM", begitu alasannya. Strategj ini sebetulnya tak hanya terjadi untuk jurusan filsafat. Beberapa jurusan lain yang kurang diminati, seperti Sastra Jawa atau Sosiologi, misalnya, menjadi alasan seseorang untuk kuliah di universitas bergengsi. Tak penting fakultasnya. Yang penting bisa kuliah di PT elit.
Beberapa orang masuk jurusan "kering" karena terpaksa. Misalnya, anak-anak pesantren yang ingin masuk ke PT negeri, kecil kemungkinan untuk masuk ke jurusan eksakta atau ilmu sosial yang rumit (Ekonomi, misalnya). Yang paling mungkin dan dekat dengan lulusan pesantren adalah jurusan filsafat. Mereka masuk jurusan filsafat karena jurusan-jurusan lainnya sudah terkunci. Bahwa kemudian mereka tertarik dengan filsafat, itu menjadi sekunder.
Saya tidak tahu, mungkin karena alasan itu atau alasan lain mengapa Fakultas Filsafat UGM tidak melahirkan pemikir-pemikir hebat. Di beberapa PT negeri lain, nasibnya kurang lebih sama. Idealnya, jurusan Filsafat menghasilkan pemikir dan pembaru yang bisa mendorong dan meramaikan pertukaran gagasan. Saya bayangkan, Fakultas Filsafat harusnya melahirkan tokoh-tokoh pemikir hebat seperti Kuntowijoyo, Mubyarto, Dawam Rahadjo, Abdurrahman Wahid, dan Nurcholish Madjid. Sayangnya, mereka semua itu bukan jebolan Filsafat.
Saya menganggap pernyataan saya tentang bangkrutnya filsafat sebagai self-criticism. Sebagai orang yang pernah kuliah di jurusan filsafat dan pernah mengajar filsafat lebih dari 10 tahun, saya merasa ada yang salah dengan bagaimana filsafat diperlakukan selama ini, khususnya di Indonesia. Beberapa contoh yang saya berikan tentang terbelakangnya filsafat, itu adalah hasil interaksi saya dengan dosen-dosen filsafat yang saya kenal dan jumpai di forum-forum diskusi.
Penulis: Luthfi Assyaukani