Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Resensi Buku "Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw: Dalam Sorotan Al-Quran dan Hadits-Hadits Shahih" Karya Prof. Quraish Shihab


Kiranya perlu bagi kita membaca lagi sirah nabawiyah dengan berbagai versinya. Salah satu pintu masuknya adalah melalui buku epic karya Prof. Quraisy Shihab yang berjudul "Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw: Dalam Sorotan Al-Quran dan Hadits-Hadits Shahih". 

Ada yang menarik dalam pengantarnya, yakni anjuran agar kita tidak perlu membuktikan kehebatan Sang Nabi dengan mengandalkan riwayat² yang bersifat suprarasional yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kesahihannya. Sebagai muslim, kita mengagumi beliau karena ajaran dan akhlak beliau. (Lihat Hal 24).

Habib Quraisy Shihab juga menyoroti tersebarnya buku² Maulid Nabi yang bergaya sastra yang harus dipahami secara sastrawi juga karena memang kecenderungan sastrawan dan penyair yang biasa menggunakan kata² yang bersifat kiasan, metaforis dan hiperbolis. Kita harus kritis melihat potensi adanya bagian² yang khayali dan imajinatif alias tidak faktual karena AlQur'an sendiri mengecam para penyair, antara lain, karena hal ini. (Lihat Hal 25).

Dengan demikian, kita perlu membaca ulang Sirah Nabi Muhammad saw. yang dikukuhkan oleh Qur'an dan Sunnah yang sahih serta logika yang kuat tanpa melepaskan iman dan rasa. Semua itu dimaksudkan agar membaca sirah ini menjadi tuntunan dan pengaruh positif bagi kemanusiaan. (Lihat Hal 25)

Di bagian lain dalam buku ini, Prof. Quraish Shihab juga menegaskan, tersebar luasnya buku-buku Maulid Nabi Muhammad saw yang dibaca dengan penuh kekaguman dan nada yang menarik oleh banyak kaum Muslim di seluruh penjuru dunia, harus dibaca dan dibaca ulang, dengan menyingkirkan apa yang tidak wajar, bahkan yang tidak perlu. Ia harus dibaca ulang dan dipahami dengan memerhatikan siapa penutur/penulisnya, serta kapan dan di mana karya tsb ditulis.

Buku-buku Maulid yang ditulis oleh sastrawan harus dipahami uraiannya dengan memahami kecenderungan sastrawan dan penyair yang biasanya menggunakan kata-kata yang bersifat kiasan, metaforis, dan hiperbolis. Jangan duga jika Anda mendengar seorang sastrawan berucap: "Saya melihat singa di atas mimbar" bahwa yang dimaksudnya dengan "singa" adalah "binatang yang dinamai Raja Hutan."

Banyak sastrawan/para penyair yang berprinsip bahwa: "Semakin besar kebohongan khayali dan imajinasi yang dikandung satu kalimat, semakin indah kalimat itu." Al-Qur'an suci mengecam para penyair, antara lain, karena hal ini, dan karena itu pula kita keliru jika memahami apa yang ditulis oleh sastrawan terlepas dari ciri tersebut, walau itu dihidangkannya dalam konteks uraian kelahiran Nabi Muhammad saw.

Dari sini, sekali lagi, kita perlu membaca ulang Sirah Nabi Muhammad saw. dengan dikukuhkan oleh al-Qur'an dan Sunnah yang shahih serta dasar logika yang kuat tanpa melepaskan iman dan rasa Dengan demikian, sirah bagi yang mempelajarinya bukan sekadar “rekaman," tetapi ia adalah tuntunan dan pengaruh positif bagi kemanusiaan. Pribadi Nabi Muhammad saw. bukan saja dikagumi.