Batu Keramat
Apakah anda percaya kalau batu-batu tertentu memiliki tuah, kekuatan supranatural, atau "aura magis" sehingga dianggap spesial dan "dikeramatkan"?
Mau percaya atau tidak itu terserah anda. Bukan urusanku. Tapi banyak orang sejak zaman dahulu kala mempercayai adanya "batu keramat" itu yang berbeda dengan batu-batu lainnya.
Jauh sebelum agama-agama besar-transnasional lahir, masyarakat suku maupun bukan di belahan dunia manapun mereka berada mempercayai eksistensi batu keramat yang dianggap memiliki daya magis dan kekuatan supranatural.
Oleh karena itu, banyak dari mereka yang memujanya dengan aneka ragam ritual dan sesembahan yang bentuknya bermacam-macam. Meskipun cara, praktik, dan ekspresi ritual itu berlainan tetapi muaranya sama, yaitu "pemujaan" terhadap batu keramat tersebut.
Hingga kini, sebagian masyarakat masih mempercayai batu keramat itu. Di Indonesia bahkan ada sejumlah batu yang sangat kesohor dan diburu banyak orang untuk dimiliki karena dianggap keramat dan memiliki keampuhan (misalnya dipercayai bisa menambah aura kewibawaan, kekebalan, welas asih, dlsb). Misalnya: batu mustika, batu merah delima, batu kol buntet, dlsb.
Batu keramat lain adalah batu bleneng di Tol Cipali yang dianggap memiliki daya magis. Saya pernah melakukan perjalanan di kawasan pegunungan / dataran tinggi di Sulawesi Utara (saya lupa namanya) dimana masyarakat setempat juga mengeramatkan sebuah batu yang berbentuk unik yang dianggap "penjelmaan" dari leluhur mereka.
Di kampungku juga ada batu keramat namanya "batu semar" karena bentuknya seperti sosok Semar dalam pewayangan. Setiap melewati batu itu, orang menyapa dulu sama batu "mbah semar" tadi. Saya kira di daerah anda masing-masing juga ada fenomena seperti ini.
Bagi kelompok agama tertentu, mereka yang mengeramatkan dan memuja batu-batu keramat itu dianggap atau dituduh sebagai syirik dan sesat. Mereka lupa, kalau mereka sebetulnya juga ikut "mengeramatkan" dan "memuja" batu juga seperti "hajar aswad" yang secara literal berarti "batu hitam".
Setiap jamaah haji/umroh rela berebut, uyel-uyelan, desak-desakan, sikut-sikutan (bahkan sampai ada "makelar" juga) supaya bisa mencapai hajar aswad untuk memegang, mengelus-elus, mencium, dan berdoa disitu dengan khusuk dan tak jarang nangis histeris karena mereka percaya kalau berdoa disitu akan manjur atau cespleng. Tidak ada satupun umat Islam yang menganggap perbuatan itu sebagai bentuk tindakan syirik dan sesat.
Apa sih sebetulnya perbedaaan antara hajar aswad dan batu-batu keramat lain? Apa sih sebetulnya perbedaan substansial antara ritual pemujaan dan pengeramatan hajar aswad dengan orang / umat lain yang memuja dan mengeramatkan batu-batu keramat tertentu?
Umat Islam tentu akan bilang atau berkilah: "Kami tidak mengeramatkan, memuja, apalagi menyembah batu atau hajar aswad itu karena ia hanya simbol atau medium saja."
Apa yang umat Islam katakan itu sebetulnya juga sama seperti yang dipraktikkan masyarakat suku tertentu atau masyarakat lain yang mempercayai batu keramat. Sama seperti klaim umat Islam, mereka juga tidak menyembah dan memuja batu.
Batu-batu keramat itu hanya simbol, sarana, atau representasi dari kekuatan gaib-supuranatural. Kalau mereka dianggap memuja/menyembah batu, kenapa tidak semua batu mereka sembah, puja, dan keramatkan?
Jadi intinya, sebagai sesama umat yang "mengidolakan" batu keramat, tak perlu saling menyesatkan dan mengsyirikkan. Kalau anda tidak terima dianggap sesat dan syirik, umat atau masyarakat lain pun begitu. Tapi ngemeng-ngemeng ada bagusnya juga hajar aswad itu berada di Arab Saudi. Kalau batu itu ada di Indonesia, mungkin sudah habis dipotong-potong jadi batu akik bertuah oleh pecinta akik sejati.
Penulis: Prof. Sumanto Al Qurtuby