Apa Bedanya Simpati dan Empati?
Simpati dan Empati
Bagaimana reaksi kita saat melihat penderitaan? Kita tak dapat menghindari penderitaan, betapa pun kerasnya kita mencoba. Ada macam-macam penderitaan: kemiskinan, tak punya rumah dan sakit penyakit. Penderitaan ada di mana-mana. Bagaimana reaksi kita yang sebenarnya terhadap itu? Saat kamu melihat seorang pria tua gemetar kedinginan di pinggir jalan dengan hanya selembar selimut tipis. Kamu tentu merasa tak nyaman, namun terus berjalan lewat.
Kamu bisa merasakan penderitaan orang tua itu yang rasanya sulit bisa bertahan melewati malam itu. Tapi kamu tetap tak berhenti dan melakukan sesuatu. Disini bagaimana reaksi kita akan menjadi penentu siapa diri kita.
Secara alami, manusia punya rasa simpati terhadap penderitaan manusia lain. Seorang Psikolog bernama Edward Tichiner menerjemahkan sebuah kata didalam bahasa Jerman “Einfuhlung” menjadi “ikut merasakan”di tahun 1909. Sekarang ini kita semua mengenalnya sebagai “empati”. Namun merasa kasihan pada orang lain bukanlah empati, seperti yang dikira oleh banyak orang. Suatu perasaan yang kita alami adalah campuran dari berbagai perasaan.
Rasa kasihan adalah perasaan tidak nyaman dan kesedihan saat melihat penderitaan orang lain. Saat kamu melihat sepasang suami istri saling berteriak satu sama lain dalam pertengkaran, kamu mungkin merasa kasihan pada mereka, berhenti sejenak, namun lalu berjalan lagi. Rasa kasihan adalah menangkap penderitaan orang lain dan kamu merasa tak nyaman karenanya, namun tak lebih dari itu.
Simpati adalah tindakan menunjukkan rasa kasihan secara kasat mata dan mengharapkan orang yang sedang menderita itu diringankan penderitaannya. Ada care dan kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa mengerti secara persis apa yang diderita. Kamu berusaha mengerti dengan cara menempatkan dirimu di posisi orang tersebut.
Sedangkan empati adalah care dan sekaligus mengerti penderitaan yang sedang dialami orang lain. Ingat, bisa tahu dan mengerti tidak selalu dibarengi dengan peduli. Dan ini artinya bukan empati yang sesungguhnya. Hal ini kerap dijumpai dalam diri orang psikopath. Psikopath bisa mengerti apa persisnya yang membuat orang lain menderita namun malah menggunakannya untuk melukai orang tersebut. Ia tak peduli bagaimana dampak dari perbuatannya terhadap perasaan orang lain.
Empati adalah kemampuan untuk memahami atau merasakan apa yang orang lain alami dari dalam kerangka referensi mereka, yaitu kapasitas untuk menempatkan diri pada posisi orang lain. Definisi empati mencakup berbagai keadaan emosi. Jenis empati mencakup empati kognitif, empati emosional (atau afektif), empati somatik, dan empati rohani.
Kata empati dalam bahasa inggris berasal dari bahasa yunani kuno ἐμπάθεια (empatheia, yang berarti "kasih sayang fisik atau passion"). Definisi empati memiliki cakupan luas atas berbagai fenomena, termasuk di dalamnya peduli terhadap orang lain dan memiliki keinginan untuk membantu mereka; Mengalami emosi yang sama dengan emosi orang lain; Memahami apa yang orang lain pikirkan atau rasakan; dan meminimalisir perbedaan antara diri sendiri dan orang lain.
Empati dapat mencakup memahami bahwa ada banyak faktor yang terlibat dalam pengambilan keputusan dan proses berpikir. Pengalaman masa lalu mempengaruhi pengambilan keputusan hari ini. Dengan memahami hal ini, seseorang bisa berempati terhadap orang-orang yang kadang-kadang membuat keputusan yang tidak masuk akal terhadap suatu problem yang biasanya ditanggapi oleh kebanyakan orang dengan tanggapan yang tepat dan rasional.
Keluarga berantakan, trauma masa kecil, kurangnya kasih sayang ketika masih anak-anak, dan banyak faktor lainnya dapat mempengaruhi koneksi di otak yang digunakan seseorang untuk membuat keputusan di masa depan. Menurut Martin Hoffman, semua orang lahir dengan kemampuan merasakan empati.
Kemampuan untuk membayangkan atau memposisikan diri sendiri sebagai orang lain adalah proses imajinatif canggih. Akan tetapi, kapasitas dasar untuk mengenali emosi mungkin adalah bawaan dan dapat dicapai secara tidak sadar. Namun, ia dapat dilatih dan dicapai dengan berbagai tingkat intensitas atau keakuratan.
Empati selalu memiliki kualitas "kurang lebih" atau bisa dibilang tidak bisa 100% sempurna. Pemahaman yang akurat dan kemampuan toleransi terhadap orang lain merupakan inti dari empati.
Kemampuan manusia untuk mengenali perasaan orang lain berkaitan dengan kemampuan imitasi seseorang, dan hal ini tampaknya didasarkan pada kemampuan bawaan seseorang untuk mengasosiasikan kesesuaian antara gerak tubuh dan ekspresi wajah orang lain dengan perasaan yang menghasilkan gerakan atau ekspresi.
Empati pada umumnya dibagi menjadi dua komponen utama:
1. Empati Afektif
Empati afektif disebut juga empati emosional, yaitu kemampuan untuk merespon keadaan mental orang lain dengan tepat. Kemampuan kita untuk berempati secara emosi didasarkan pada penularan emosi, dengan kata lain kita terpengaruh oleh keadaan emosi orang lain.
2. Empati kognitif
Empati kognitif: kapasitas untuk memahami perspektif atau kondisi mental orang lain. Istilah kognisi sosial, mengambil perspektif, teori pikiran, dan mentalisasi sering digunakan secara sinonim, tetapi karena kurangnya studi yang membandingkan teori pikiran dengan jenis empati, tidak jelas apakah penyamaan itu tepat atau tidak.
Kamu perlu pernah mengalaminya sendiri dan punya kepedulian agar bisa berempati.
Belas kasih bisa saja empati atau simpati dan ini dibarengi dengan keinginan untuk meringankan penderitaan pihak lain. Saat kamu berbelas kasih, kamu berusaha secara aktif untuk mencari solusi. Kamu melakukan sesuatu dengan rasa empati dan simpatimu, dan tidak hanya berjalan lewat begitu saja.
Perlu dicatat bahwa “altrusime” sangatlah berbeda dari empati, simpati, kasihan dan belas kasih. Saat seseorang bertindak altruistik, ia melakukannya dengan dasar bahwa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Bukan karena ia merasa tak nyaman. Sikap altruisme bisa berjarak secara emosi bahkan tanpa perasaan. Karena ini tidak dilandasi oleh perasaan pribadi, namun melakukannya karena menurut anggapannya itu benar.
Altruisme bisa menjadi bumerang jika orang yang bersangkutan jadi tak peduli lagi pada penderitaan. Ia tak mengerti masalahnya, namun berusaha memecahkannya.
Contoh sikap altruistik yang keliru adalah saat orangtua mengganti boneka anaknya yang sudah usang dan rusak dengan boneka baru, karena menganggap ini benar untuk dilakukan. Namun dengan menggantinya, mereka menghancurkan semua kenangan dan ikatan perasaan anak dengan boneka lamanya.
Maka, jika sekarang kamu melihat seorang pria tua yang gemetar kedinginan di pinggir jalan, bagaimana reaksimu? Kasihan? Simpati? Empati? Ataukah kamu akan membawakan dia selimut tambahan karena altruisme? Atau karena belas kasih? Coba kamu renungkan jawabannya.
