Tabir Allah yang Indah

Ngaji Hikam Hikmah Ke-128 (2)

(12 Agustus 2019)

Tabir Allah Yang Indah

‎قال الشيخ تاج الدين ابن عطاء الله السّكندريّ [توفي، ٧٠٩ ه/ ١٣١٠ م]، "لولا جميل ستره لم يكن عمل أهلا للقبول". [الحكم، حكمة، ١٢٨]

Artinya, Syekh Ibnu Athaillah al-Syakandari (W. 709 H/ 1310 M) berkata, “Seandainya tidak ada tutup Allah yang indah, maka tidak ada amal yang layak untuk diterima”. Al-Hikam, Hikmah-128

Seandainya tidak ada keindahan tutup Allah, maka amal ibadah tidak akan ada yang layak untuk diterima. Karena amal yang diterima harus sempurna syaratnya. Yaitu terpenuhinya (1) Rahasia ikhlas, (2) Khadir mengingat Allah, dan (3) Bebas atau tidak merasa memiliki kekuatan dari diri sendiri. Orang yang beramal dengan memenuhi ketiga syarat itu, sangatlah jarang, sehingga Allah memberi tutupnya yang indah dengan kebesaran dan kasih sayangnya.

Seandainya tidak ada tutup yang indah dari Allah, tidak ada amal yang patut untuk diterima. Allah yang memberi anugrah bisa beramal dan Allah pula lah yang memberi anugrah amal kita dapat diterima. Intinya, seandainya Allah tidak menutup amal kita, tidak akan patut sebuah amal untuk diterima.

Kenapa amal kita tidak patut diterima?. Karena amal kita cacat. Baik cacat lahir maupun cacat batin. Cacat lahir seperti ketika shalat, tumakninahnya kurang, bacaannya salah, dan hatinya tidak ingat kepada Allah. Cacat-cacat tersebut menjadikan amal tidak layak untuk diterima. Tapi Allah memberi anugrah dan karunia yang menutup cacat-cacat itu, sehingga amal yang cacat tersebut diampuni dan kemudian diterima oleh-Nya.

قال يحيى بن معاذ الرزي (توفي ٢٥٨ ه/ ٨٧٣ م)، "مسكين ابن ادم-جسم معيب وقلب معيب- يريد أن يخرج من معيبين عملا بلا عيب".

Yahya bin Muadz al-Razi (W. 258 H/873 M) berkata, “Anak adam adalah miskin, jisimnya cacat dan hatinya cacat, akan tetapi mereka (dengan cacatnya) ingin mengeluarkan amal yang tanpa cacat”.

Jisim yang cacat seperti mata yang buta, telinga yang tuli, lisan yang bisu, atau bisa berjalan tapi pincang. Ini namanya jisim yang cacat atau diistilahkan sebagai orang yang miskin jisimnya.

Sedangkan hati yang cacat adalah hati yang memiliki sifat tercela. Seperti sifat khirsi (rakus), takabur (sombong), sum’ah (ingin tenar), dan ghadab (suka marah-marah).

Menurut Yahya bin Muadz al-Razi, manusia itu jisim dan hatinya cacat, tapi senantiasa ingin memiliki amal yang tanpa cacat. Maka tidak akan bisa. Orang yang cacat jasmaninya saja, akan hina di hadapan masyarakat. Tapi orang yang cacat hatinya akan hina di hadapan Allah dan hina di mata manusia. Orang yang seperti ini, apabila beramal pasti juga akan cacat.

Seperti ada orang yang mampu ibadah haji setiap tahun, tapi ternyata ibadah haji setiap tahunnya dilatarbelakangi oleh keinginan untuk tenar. Atau sadaqah yang banyak tapi agar dipuji orang. Ini berarti amalnya cacat dan tidak bisa diterima. Oleh karena itu, anak adam harus bergantung kepada Allah atau al-Taaluq Billah dengan cara (1) IlaAllah yang berarti “al-Rujuk wa al-Iktimad illaAllah atau kembali kepada Allah. (2) ‘Allaah, artinya al-Tawakal ‘ala Allah. (3) Billah artinya al-Istianaah billaAlah, atau meminta pertolongan hanya kepada Allah.

Bentuk dari al-Taaluq alaAllah adalah dengan bermunajat kepada-Nya, “Ya Allah, kok saya memiliki sifat-sifat yang jelek, tidak ada yang bisa menghilangkan sifat-sifat burukku ini kecuali Engkau Ya Allah, maka tolonglah hambamu ini, dengan menghilangkan sifat-sifat jelek yang aku miliki”.

وروي عن رسول الله أنه قال، "البلاء والهوى والشهوة معجونة بطين آدم". أخرجه الديلميّ، في الفردوس

Rasulullah bersabda, “Manusia diciptakan dari bala’ (cobaan), syahwat (kesenangan), dan Hawa’ (keinginan), yang dicampuradukan dengan tanah liat bahan diciptakannya Nabi Adam”.

Nabi Adam terdiri dari al-Tin, endud atau tanah liat. Ketika Allah membuat tanah liat untuk menciptakan Nabi Adam, Allah mencampurnya dengan (bala’) cobaan, (syahwat) kesenangan dan (hawa) keinginan.

Oleh karena itu, manusia apabila sudah lahir penuh dengan cobaan. Lihatlah kisah Nabi Adam, sudah enak dan nyaman hidup di surga kemudian diturunkan ke dunia. Lalu terpisah 200 tahun dengan istrinya. Nabi Adam turun di Srilangka, dan Ibu Hawa di Jiddah. Sehingga anak turun Nabi Adam juga banyak yang mendapat cobaan.

Terkadang dicoba tidak cocok dengan istri, atau cocok dengan istri tapi tidak cocok dengan anak. Kadang cocok dengan anak tapi pekerjaan jatuh. Nah, ini semua adalah cobaan karena memang sudah bawaannya manusia yang terbuat dari “Bala”.

Dalam hadist nabi tersebut ada lafadz “Maljunatun”. Artinya adalah dicampur aduk. Seperti kalau kita membuat roti. Bahannya ada tepung, air, gula, telur dan cokelat. Kemudian semua bahan diaduk tepung dengan air dicampur gula, ditambah cokelat diaduk lagi kemudian diberi telur lalu diaduk lagi. Ketika semua sudah diaduk menjadi satu, kemudian jadilah roti yang memiliki banyak rasa, karena memang dicampur dengan banyak bahan.

Nah, bahan diciptakannya manusia juga seperti itu, tanah liat dicampur dengan (bala’) cobaan, (syahwat) kesenangan, dan (Hawa) keinginan. Oleh karena itu, manusia banyak memiliki cobaan, tapi juga punya banyak keinginan dan kesenangan. Ingin makan enak, senang kendaraan dan rumah bagus tapi juga dicoba dengan banyak hal.

Kenapa banyak cobaan tapi juga punya banyak kesenangan?. Karena bahan diciptakannya manusia yaitu tanah liat, yang dicampur dengan bala’, syahwat dan hawa. Lalu bagaimana kalau sudah seperti itu?. Ya tergantung Allah. Tapi, agar anak adam bisa mengarah kepada kebaikan ia dibekali oleh Allah akal untuk berpikir dan tuntunan berupa Alquran. Keduanya adalah bekal supaya manusia bisa mengalahkkan “hawa” dan syawatnya. Dengan cara apa?. Belajar sendiri dari Alquran. Apabila tidak bisa?. Harus Ngaji kepada Kiai atau Ulama. Untuk apa belajar dan mengaji?. Agar kita sama-sama selamat. Karena Allah perintah :

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Nah, caranya melindungi keluarga agar selamat bagaimana?. Sayidina Ali dawuh, “Adibuhum wa alimuhum”. Artinya, “Kamu dan keluargamu, ajarkanlah tata krama, dan ajarkanlah ilmu”.

Karena tatakrama saja tanpa ilmu ibadah tidak diterima. Ilmu saja tanpa tatakrama juga tidak diterima. Belajar tata krama lebih rumit dari belajar ilmu. Belajar tatakrama lebih banyak membutuhkan waktu daripada belajar ilmu.

Ada seorang ulama, salah satu dari murid Imam Maliki yang bernama Abdur Rohman Ibnu Qasim Ibnu Kholid al-Utaqi al-Misri berkata, “Aku khidmad kepada Imam Malik bin Anas selama 20 tahun. 20 tahun itu, aku diajari tatakrama selama 18 tahun, dan diajari ilmu hanya 2 tahun”.

Bayangkan, Beliau mondok diajari tatakrama 18 tahun, dan ilmu hanya 2 tahun. Kenapa?. Karena ilmu belum tentu berguna, tapi kalau tatakrama pasti berguna kapanpun, dimanampun, dalam kondisi apapun.

Ilmu puasa, kita butuh, apabila melakukan puasa. Belajar ilmu jumatan, karena orang laki-laki jumatan. Tapi kalau perempuan kan tidak perlu. Orang perlu belajar zakat karena punya harta satu Nisab lebih, tapi yang miskin tidak membutuhkan. Belajar ilmu haji juga hahya bagi yang mampu. Begitu juga ilmu perang. Bahkan ilmu jadi bupati juga tidak begitu berguna karena bukan profesi kita.

Tapi kalau tatakrama, pasti berguna. Seperti ketika di kamar sebelum tidur bagaimana tatakramanya?. Harus wudlu dulu, baca syahadat, baca doa tidur.

Ketika tidur pun juga ada tata kramanya, tidak boleh menjulur ke arah kiblat. Umpama, santri mujur ke selatan, karena di selatan ada makamnya guru, maka tidak boleh menjulur ke selatan. Seperti di sebelah barat ada makam nabi dan kiblat, maka berak dan tidur tidak boleh menghadap ke sana.

Datang ke masjid juga ada tatakramanya. Masuk masjid harus kaki kanan, kemudian baca doa masuk masjid. Sebelum duduk di masjid harus shalat tahiyatal masjid, kalau tidak shalat, bacalah al-baqiyatus shalihat 4 x. Kalau sudah duduk niat iktikaf di masjid. Nah, ini semua baru masuk masjid saja, sudah butuh berapa tatakrama. Kalau ilmu hanya sedikit.

Oleh karena itu, Sayidina Ali berpesan, “Adibuhum” atau “Ajarilah tatakrama” dulu, baru “Wa alimuhum” yang artinya ajarilah ilmu. Ibarat makan nasi, supaya enak butuh lauk. Kalau makan yang banyak pasti nasinya bukan lauknya. Nasi ibarat tatakrama dan lauk adalah ilmu.

Imam Malik juga pernah berpesan kepada Imam Syafii:

‎اجعل أدبك دقيقا وعلمك ملحا

Artinya, “Ya Imam Syafii, jadikanlah tatakrama sebagai tepung (makanan pokok), dan garam sebagai lauknya”. Tepung ibarat nasi dan garam adalah lauk. Ilmu tida akan berguna tanpa tatakrama. Syekh Hasan al-Basri, berkata :

‎من لا ادب له لا علم له

Artinya, “Barangsiapa tidak memiliki tatakrama, tidak ada ilmu baginya”.

Kalau ada santri pulang, orang kampung atau masyarakat yang dilihat pertama kali adalah tatakramanya dan bukan ilmunya. Kalau ada santri mondok tapi kurang ajar dengan bapak-ibunya pasti tidak ada masyarakat yang mau memondokkan anak.

Sebaliknya kalau ada santri pulang mondok, memilki tatakrama sopan kepada orang tua, manut, dan tandang dengan pekerjaan. Masyarakat yang dilihat adalah tatakramanya bukan ilmunya. Kalau kemudian hari disuruh untuk Khutbah, mengisi pengajian, dan mengajar, itu karena santri sudah dianggap memilki tatakrama yang baik.

Orang yang dijari tata krama dulu kemudian ilmu, bisa menangkal bala, hawa nafsu dan hawa. Dia akan menjadi orang baik. Itulah makna dari dawuh nabi. Allah berfirman :

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

Hawa sangat lah mudah untuk dipengaruhi. Dipengaruhi jabatan, dipengaruhi uang, dipengaruhi pangkat. Yang semua itu menuju kepada cinta kepada dunia. Padahal cinta dunia adalah akar dari segala permasalahan.

‎حب الدنيا رأس كل خطيئة

Ada orang yang mau menerima suap, mau melakukan korupsi, dan mau menipu, bahkan sampai membunuh orang, semua ujungnya karena “Khubut Dunia”.

Oleh karena itu, apabila diuji oleh Allah harus sabar. Jangan sampai mudah ghadab. Ada seorang sahabat menghadap nabi lewat depan. Laki-laki ini bertanya, “ma huwa al-dien?”. Artinya, “agama itu apa?”. Nabi berkata, “Khusnul khukuq”. Artinya, “budi pekerti yang bagus”. Laki-laki itu menduga nabi salah mendengar. Karena pertanyaanya tentang agama, oleh Nabi dijawab “Khusnul Khuluq”. Maka laki-laki itu mundur dan datang lagi lewat arah kanan. Lalu ia bertanya lagi, “Ma huwa al-dien?”. Nabi menjawab, “Khusnul khukuq”.

Kemudian laki-laki ini menduga lagi bahwa nabi salah tangkap. Lalu ia mengulangi pertanyaanya, dari arah kiri, “Ma huwa al-dien?”. Lalu Nabi menjawab, “Khusnul khuluq”. Karena menduga Nabi salah tangkap lagi, akhirnya laki-laki ini datang lagi melalui arah belakang. Lalu tanya, “Ma huwa al-dien?”. Lalu Nabi menjawab, “La Tahdzab”. Yang artinya, “Jangan marah-marah”.

Puncaknya agama adalah khusnul khuluq. Puncak dari khusnul khuluq adalah sabar. Kebalikan dari sabar adalah emosi. Orang kalau emosi akalnya hilang. Kalau akalnya hilang, pekerjaanya seperti orang gila.

Sering sekali Nabi apabila menjawab pertanyaan memjawab dengan puncaknya. Seperti pertanyaan, “Ma huwa al-haj?”. Nabi menjawab, “Al-haj, Arofah”. Artinya, “Apa itu haji?”. Nabi menjawab, “Haji adalah Arofah”.

Pernah suatu ketika Abu Darda’ RA, meminta ijazah amalan kepada Nabi:
أبي الدرداء قال: قلت: يا رسول الله، دلني على عمل يدخلني الجنة، فقال: لا تغضب ولك الجنة

Artinya, “Ya Rasulullah, tunjukanlah aku amal yang dapat memasukanku ke surga. Nabi menjawab, Jangan marah-marah”.

Abd

urohman juga pernah meminta nasihat kepada Nabi, Ya Rasulullah berikan kepadaku nasihat sedikit saja, agar aku mengerti. Nabi berkata, “La tahdzab”. Petanyaan itu diulang beberapa kali dan jawaban rasul sama, “Jangan marah-marah”.

Nah, Ini semua adalah tatakrama. Apabila kita memakai celana, dengan duduk atau berdiri?. Kalau pakai baju dengan tangan yang kanan atau yang kiri?. Oleh karena itu, Abdur Rohman Ibnu Qasim Ibnu Kholid al-Utaqi al-Misri berkata, “Aku ngaji kepada Imam Malik selama 20 tahun, 18 tahun diajari tatakrama dan 2 tahun diajari ilmu”.

InsyaAllah apabila seseorang mendahulukan tatakrama, “al-Bala”, “al-Syahwat” dan “al-Hawa” akan kalah. Apabila manusia bisa mengalahkan ketiganya maka Derajat manusia akan lebih tinggi dari derajat malaikat. (*)

(*) Catatn pribadi Muhammad Zulianto

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...